NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

Uni Eropa: Manifestasi Integrasi Eropa

17 March 2014 - dalam MBP Eropa Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Eropa merupakan salah satu benua berpengaruh dalam konstelasi internasional. Banyak negara besar dengan kekuatan ekonomi mumpuni lahir di benua ini. Saat ini Eropa memiliki organisasi berbasis regional yang dinamakan Uni Eropa (EU) yang cukup sukses dan banyak menjadi kiblat bagi organisasi regional lainnya. Sejarah terbentuknya EU bermula dari pembentukan “Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa” (ECSC/European Coal and Steel Community) melalui penandatanganan traktat di Paris oleh Belanda, Belgia, Italia, Jerman, Luksemburg, dan Perancis pada tanggal 18 April 1951 dan berlaku sejak 25 Juli hingga tahun 2002 (Mission of Indonesia to the European Communities, n.d). ECSC dibentuk dengan tujuan menghapus beragam hambatan perdagangan dan menciptakan suatu pasar bersama dimana produk, pekerja dan modal dari sektor batu bara dan baja dari negara-negara anggotanya dapat bergerak dengan bebas. Selain menghasilkan ECSC, traktat ini juga menghapus rivalitas lama yang terjadi antara Jerman dan Perancis, serta memberi dasar bagi pembentukan “Federasi Eropa” (Mission of Indonesia to the European Communities, n.d).

Pada tanggal 1-2 Juni 1955, para menlu 6 negara yang menandatangani ECSC Treaty bersidang di Messina, Italia, dan memutuskan untuk memperluas integrasi Eropa ke semua bidang ekonomi. Pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma ditandatangani European Atomic Energy Community (EAEC), namun lebih dikenal dengan Euratom dan European Economic Community (EEC) (Mission of Indonesia to the European Communities, n.d). ECSC, Euratom, dan EEC masing-masing memiliki organ eksekutif yang berbeda-beda. Namun sejak 1 Juli 1967, dibentuk satu Dewan dan satu Komisi untuk lebih memudahkan manajemen kebijakan bersama yang semakin luas, dimana Komisi Eropa mewarisi wewenang ECSC High Authority, EEC Commission dan Euratom Commission. Sejak saat itu ketiga communities tersebut dikenal sebagai European Communities (EC). Pada tanggal 7 Februari 1992, Treaty of European Union (TEU) atau Perjanjian Maastricht ditandatangani yang mengubah EC menjadi Uni Eropa (EU) dan berlaku 1 November 1993 (Mission of Indonesia to the European Communities, n.d). Berdasarkan Perjanjian Maastricht, Uni Eropa yang merupakan manifestasi dari integrasi Eropa, memiliki lima tujuan, yakni 1) memperkuat pemerintahan demokrasi terhadap negara anggota, 2) meningkatkan efisiensi negara anggota, 3) menyediakan unifikasi ekonomi dan finansial, 4) mengembangkan “Community social dimension”, dan 5) menyediakan kebijakan keamanan bagi negara yang bergabung (Briney, 2010). Untuk mewujudkan tujuan tersebut, salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah penyatuan mata uang bersama, Euro. EU juga memastikan bahwa negara anggota berkomitmen dan konsisten terhadap kebijakan regional, agrikultur, dan sosial. Selain itu, EU mentransmisikan state-of-the-art technologies terhadap negara anggotanya dalam proteksi lingkungan, riset dan pengembangan, serta energi (Amadeo, n.d). EU menyediakan pasar bersama bagi negara anggotanya, yang mengindikasikan bahwa semua kontrol perbatasan antar anggota telah dieliminasi, sehingga memungkinkan aliran yang bebas bagi barang maupun orang. Setiap produk atau barang dalam suatu negara bisa pula dijual ke negara anggota yang lain tanpa adanya pajak cukai ataupun impor (Amadeo, n.d).

Anggota EU kini telah mencapai 28 negara. Keanggotaan EU sendiri terbuka bagi setiap negara di Eropa Barat. Berdasarkan Copenhagen Criteria,  kriteria untuk menjadi anggota EU ada tiga. Pertama, secara politik negara tersebut harus menerapkan prinsip demokrasi, penegakan hukum, dan penghormatan HAM. Kedua, secara ekonomi negara tersebut memiliki perekonomian pasar yang berfungsi dan dapat mengatasi tekanan persaingan dan kekuatan pasar di dalam wilayah EU. Ketiga, secara hukum negara tersebut menerima dan menjalankan semua peraturan perundangan yang ditetapkan EU, khususnya tujuan utama mengenai politik, ekonomi, dan moneter (Delegasi Uni Eropa untuk Indonedia, Brunei Darussalam dan ASEAN, n.d). Pendanaan EU berasal dari negara anggotanya, yakni maksimal 1.24% dari Gross National Income (GNI) negara anggota. Sumber pendapatan EU juga berasal dari pendapatan dari bea masuk, retribusi pertanian dan retribusi PPN (Pajak Pendapatan Nasional) (Folketinget, n.d). EU memiliki standar prosedur pengambilan keputusan yang dikenal dengan Ordinary Legislative Procedure. Hal ini berarti bahwa Parlemen Eropa yang dipilih secara langsung harus menyetujui legislasi EU bersama dengan Dewan (pemerintah dari 28 negara anggota). Commission membuat rancangan dan mengimplementasikan legislasi EU (European Union, n.d). Dalam mekanisme penyelesaian sengketa secara yudisial, EU memiliki 3 badan peradilan, yakni ECJ (The European Court of Justice), CFI (The Court of First Instance) yang kini menjadi General Court, dan Civil Service Tribunal. Mekanisme penyelesaian sengketa yang tegas dibuktikan dengan adanya sanksi bagi tiap pelanggar, baik  negara anggota, individu, maupun institusi EU sendiri. Sanksi yang dikenakan bagi pihak yang melanggar atau yang tidak melaksanakan kewajibannya kerap berupa hukuman finansial sementara atau permanen. Ketika pihak tersebut tetap tidak mau melaksanakan putusan WCJ, maka ia akan dijatuhi denda. ECJ tidak hanya berfungsi untuk menyelesaikan sengketa, tetapi juga mencegah terjadinya sengketa, karena ECJ sendiri berkomitmen untuk memastikan adanya pemahaman, interpretasi, dan aplikasi yang sama dari negara-negara anggota EU (Panjaitan, 2012).

Struktur EU terdiri dari tiga badan, yakni EU Council, yang merepresentasikan pemerintah nasional, Parlemen (dipilih oleh rakyat) dan European Commission (staf EU). Mereka menjunjung tinggi hukum yang mengatur Uni Eropa, yang dijabarkan dalam serangkaian perjanjian dan peraturan yang mendukung (Amadeo, n.d). Cara kerja ketiganya yaitu 1) EU Council menetapkan kebijakan dan mengusulkan undang-undang baru; 2) kepemimpinan politik, atau Presidensi EU, dipegang oleh seorang pemimpin yang berbeda setiap enam bulan; 3) Parlemen Eropa melakukan debat dan menyetujui undang-undang yang diusulkan oleh Dewan, dengan anggotanya yang dipilih setiap lima tahun; dan 4) European Commission menyusun dan menjalankan hukum (Amadeo, n.d).

EU mengatakan bahwa lebih dari setengah dari semua pendanaannya digunakan untuk membantu negara-negara miskin, sehingga menjadikannya sebagai donor terbesar di dunia. EU juga menggunakan perdagangan untuk mendorong pembangunan dengan membuka pasarnya untuk ekspor dari negara-negara miskin dan mendorong negara-negara tersebut untuk meningkatkan intensitas perdagangan satu sama lain (European Union, n.d). Dalam Perjanjian Lisbon yang notabene merupakan perjanjian terakhir dalam EU, terdapat sejumlah hasil mengenai perkembangan akan fungsi EU. Pertama, EU telah menjadi lebih demokratis. Pengaruh Anggota Parlemen Eropa telah meningkat dan sekarang setara dengan pemerintah nasional Dewan. Selain itu , parlemen nasional telah memperoleh metode yang lebih baik untuk memantau kerja EU (Danish Presidency of the Council of the European Union, n.d). Kedua, EU telah menjadi lebih efisien. EU lebih mudah dan lebih cepat dalam membuat keputusan karena prosedur dan aturan voting telah dibuat lebih efisien. Selain itu, European Council, dimana kepala negara dan pemerintah bertemu, kini memiliki presiden permanen, yang menjamin kontinuitas lebih dalam pekerjaan Council. Herman Van Rompuy dari Belgia terpilih sebagai presiden pertama European Council (Danish Presidency of the Council of the European Union, n.d). Ketiga, EU dapat lebih baik mengatasi tantangan global. Kebijakan luar negeri EU telah diperkuat, sehingga lebih mudah untuk mempromosikan kepentingan Eropa di dunia. Peningkatan dan penguatan ini terutama dicapai melalui penciptaan common foreign service dan High Representative, yang dapat berbicara dan bertindak atas nama EU (Danish Presidency of the Council of the European Union, n.d).

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya. Peribahasa tersebut agaknya sesuai dengan kondisi EU kini. Sejak krisis ekonomi 2008, hampir setengah negara-negara anggota EU menghadapi ancaman kemiskinan yang kian meningkat. Bahkan separuh penduduk di Bulgaria pada tahun 2011 terancam mengalami kemiskinan dan termarjinalkan secara sosial (Deutsche Welle, 2013). Fredrik Barkenhammer, juru bicara Palang Merah Internasional, menegaskan bahwa organisasi-organisasi bantuan memiliki kewajiban untuk membantu penduduk suatu negara yang mengalami kemiskinan. Namun di Jerman organisasi semacam itu tidak memberi bantuan berupa pangan. Sementara di Yunani banyak warga yang tidak lagi mampu membayar asuransi kesehatan (Medico Internasional dalam Deutsche Welle, 2013). Palang Merah Internasional aktif bergerak di sejumlah negara EU untuk memberi program bantuan pangan yang didanai oleh masyarakat. Wilayah yang paling terpukul akibat krisis ini adalah kawasan Eropa Timur, mengingat tabungan penduduknya lebih sedikit dan sistem jaminan sosial tidak sekuat di Eropa Barat dan Tengah.

Krisis ekonomi juga kian menggandakan jumlah pengangguran di Eropa. Menyikapi hal ini, Presiden European Council, Herman van Rompuy, menegaskan kembali kepada pimpinan EU agar meningkatkan aksinya untuk mereduksi pengangguran remaja (Deutsche Welle, 2013). EU mengharapkan adanya jaminan kerja bagi semua remaja yang telah lulus sekolah ataupun perguruan tinggi. Maksimal empat bulan setelah kelulusan, setiap remaja diharapkan memiliki rempat pelatihan kerja dan pekerjaan. Februari 2013 rencana jaminan kerja ini diajukan kepada European Commission, namun implementasi praktikalnya masih mengalami hambatan. Pada tahun-tahun selanjutnya juga EU telah menganggarkan 6 miliar Euro demi mengatasi masalah pengangguran remaja. Mekanisme dan operasi pengucuran dana tersebut dibicarakan pada bulan Juli di Berlin dalam pertemuan dengan semua menteri tenaga kerja dan badan tenaga kerja di EU (Deutsche Welle, 2013).

Dari pemaparan di atas, penulis memandang bahwa EU merupakan organisasi regional yang sukses dan banyak organisasi regional serupa yang ingin mengikuti jejak EU. EU memiliki mekanisme penyelesaian sengketa yang jelas, dimana sanksi secara tegas akan dijatuhkan bagi anggota maupun institusi dalam EU yang melakukan pelanggaran atau tidak melaksanakan kewajiban. Sanksi yang tegas dan mengikat ini membuat EU berjalan efektif karena tingkat kepatuhan yang tinggi dari anggotanya. Hal inilah yang membuat EU berbeda dengan ASEAN, dimana ASEAN tidak memiliki mekanisme penyelesaian konflik yang jelas dan tegas, sehingga ketika ada sengketa sulit untuk diselesaikan. Aturan yang tidak mengikat juga membuat anggota ASEAN tidak memiliki kepatuhan seperti anggota EU. Selain itu, EU juga memiliki struktur yang sangat kompleks, dimana setiap divisinya memiliki tugas khusus. Hal ini menjadikan EU bisa totalitas menjalankan program yang diusungnya. Namun kini eksistensi EU tengah dihadang oleh krisis Yunani yang telah berimbas pada negara-negara sekitarnya.

Referensi

Amadeo, Kimberly (n.d) What is European Union? [WWW] Available from: http://useconomy.about.com/od/worldeconomy/p/european_union.htm [Accessed 10/12/13]

Briney, Amanda (2010) The European Union: A History and Overview [WWW] Available from: http://geography.about.com/od/geographyintern/a/euoverview.htm [Accessed 10/12/13]

Danish Presidency of the Council of the European Union (n.d) From Rome to Lisbon – The development of the EU [WWW] Available from: http://eu2012.dk/en/EU-and-the-Presidency/About-EU/EU-Background/EU-Milestones [Accessed 10/12/13]

Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN (n.d) Perluasan [WWW] Available from: http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/key_eu_policies/enlargement/index_id.htm [Accessed 10/12/13]

Deutsche Welle (2013) Eropa Hadapi Ancaman Kemiskinan [WWW] Available from: http://www.dw.de/eropa-hadapi-ancaman-kemiskinan/a-16667496 [Accessed 17/12/13]

__________________ (2013) Upaya Redam Pengangguran di Eropa [WWW] Available from: http://www.dw.de/upaya-redam-pengangguran-di-eropa/a-16844405 [Accessed 17/12/13]

European Union (n.d) Development and cooperation [WWW] Available from: http://europa.eu/pol/dev/index_en.htm [Accessed 10/12/13]

___________________ (n.d) EU law [WWW] Available from: http://europa.eu/eu-law/index_en.htm [Accessed 10/12/13]

Folketinget (n.d) What is the size of the EU budget, and how much do the Member States contribute to it? [WWW] Available from:  http://www.eu-oplysningen.dk/euo_en/spsv/all/78/ [Accessed 10/12/13]

Mission of Indonesia to the European Communities (n.d) Sejarah Pembentukan Uni Eropa (UE) [WWW] Available from: http://www.indonesianmission-eu.org/website/page943418664200310095958555.asp [Accessed 10/12/13]

Panjaitan, Handayani P.U (2012) Studi Terhadap Mekanisme Penyelesaian Sengketa di ASEAN dan Uni Eropa untuk Mencari Mekanisme Penyelesaian Sengketa yang Ideal di ASEAN [WWW] Available from: http://fh.unpad.ac.id/repo/?p=1347 [Accessed 10/12/13]

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.073