NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

JERMAN: MASA IMPERIUM HINGGA REPUBLIK

17 March 2014 - dalam MBP Eropa Oleh nurlaili-azizah-fisip11

 

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Jerman merupakan salah satu kekuatan besar yang memegang kendali di Eropa pada masa kini. Sejarah mencatat bahwa Jerman merupakan negara dengan agresivitas tinggi. Hal ini terbukti dengan keterlibatannya di dua perang besar, Perang Dunia I dan II. Meskipun sempat berada pada titik nadir dengan kehidupan internal yang kacau akibat perang, nyatanya negara ini bertumbuh dengan kekuatan ekonomi dan militer yang cukup mumpuni pada era Perang Dingin. Demi memulihkan citranya di hadapan negara-negara Eropa sebagai negara trouble maker di dua perang dunia, Jerman pun bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 1967 dan menjadi salah satu kekuatan yang cukup disegani.

Imperium Jerman dimulai pada tahun 1871. Didirikan oleh Otto van Bismarck, German Reich atau imperium Jerman memiliki kapabilitas militer laut yang sangat kuat, ditambah dengan gaya kepemimpinan yang lekat dengan liberalisme yang kemudian berubah menjadi nasionalisme. Kepemimpinan Bismarck ini menjadi salah satu yang disegani di Eropa, dimulai dengan kemenangannya atas Perancis saat Perang Franco-Prusia pada tahun 1871 (Adolf, 2007). Saat itu, Jerman juga menjadi hegemon ekonomi di Eropa dan berupaya melindungi minoritas melalui tindakan aneksasi. Dapat dilihat disini bahwa agresivitas Jerman pada Perang Dunia I dan II telah ada sejak berdirinya imperium Jerman.

Imperium ini berakhir pada tahun 1918 karena kekalahannya pada Perang Dunia 1 (Adolf, 2007) dan digantikan oleh Weimar Republic. Republik ini melahirkan partai sosialis dan komunis. Namun sejak tahun 1920 hingga 1930an, partai Republik mendapat dukungan dan suara yang cukup tinggi yang membuatnya mendominasi dan menjadi pemimpin parlemen. Namun, dominasi partai ini tidak bertahan lama. Pasca tahun 1930an, pendukung dan pemilih partai Republik mulai surut, sehingga posisinya digantikan oleh partai berideologi Marxis (Conradt, n.d). Pada masa ini pula keadaan internal Jerman mulai porak poranda, sehingga pada saat pemilihan, partai Nazi pun menang dan mendominasi parlemen Jerman. Pada masa ini pula salah seorang negarawan Jerman, Gustav Stresemann, berupaya mengembalikan citra Jerman yang mulai hancur dengan keterlibatannya dalam Pakta Locarno dan Pakta Briand-Kellog (Tonge, n.d). Hubungan baik dengan negara-negara Barat pun mulai diinisiasi yang berhasil membuat AS percaya untuk menggelontorkan dana yang besar pada Jerman. Masa ini tidak bertahan lama. Seiring jatuhnya perekonomian AS karena Great Depression, Jerman pun mulai kehilangan sumber pendanaan.

Dilantiknya Hitler sebagai kanselir jerman pada tahun 1933 membawa Jerman pada paham beraliran fasisme. Hitler juga turut andil untuk mengembangkan rasa kebencian Jerman kepada bangsa Yahudi yang dianggap menjadi aktor yang membawa kehancuran Jerman pada masa sebelumnya dan keinginannya untuk memurnikan bagsa Arya dari ras Yahudi. Berdasar teori Lebensraum yang dikemukakan Karl Hausshofer, Hitler pun mulai menganeksasi wilayah lain demi perluasan kekuasaan (History Learning Site, 2012).  Hitler juga mulai menjalin hubungan dengan pemimpin-pemimpin fasis negara lain seperti Mussolini dari Italia dan Kaisar Hirohito dari Jepang. Aliansi ketiganya berkontribusi besar pada meletusnya Perang Dunia II.

Jerman kembali tidak beruntung dan mengalami kekalahan pada Perang Dunia II. Hal ini membuat dijatuhkannya sanksi kembali kepada Jerman, yang dimanifestasikan dalam Perjanjian Postdam. Dalam perjanjian tersebut, wilayah administratif Jerman pun dibagi-bagi dan diperintah oleh negara pemenang perang. Pada tahun 1949, Jerman dibagi menjadi dua, Jerman Barat dan Jerman Timur, yang dibatasi oleh Tembok Berlin. AS, Inggris, dan Perancis menduduki Jerman Barat dengan berpusat pada sungai Bonn dan Rhine, sedangkan Rusia menduduki Jerman Timur dengan berpusat pada Berlin Timur. Saat USSR runtuh yang menandai berakhirnya perang Dingin, reunifikasi Jerman pun terjadi dan kemudian berfokus pada upaya perbaikan dari segi ekonomi dan politik yang sempat hancur karena perang (Conradt et al, 1993).

Pendudukan AS, Inggris, dan Perancis di Jerman Barat membuat budaya politik kawasan ini pun menjadi terpengaruh liberalisme, sementara budaya politik Jerman Timur yang diduduki Rusia pun lekat dengan nilai komunisme. Pada masa kini, Jerman banyak menganut bentuk pemerintahan federal parlementer dan sistem bikameral, dimana negara ini terbagi menjadi 16 bagian. Budaya politik pemerintahan Republik Federal Jerman yang begitu lekat saat ini adalah anti-ekstremisme dan open civil society. Prinsip anti-ekstremisme ini dimanifestasikan dengan dibentuknya Offices For Protection and Constitution (Leggewie, n.d). prinsip ini merupakan bukti bahwa Jeman ingin belajar dari masa lalu dengan bertanggungjawab atas tragedy Holocaust, dan member kompensasi pada forces labourers. Trauma akan perang membuat pemuda Jerman menjadi generasi yang anti-perang. Sejak tahun 1960an, demokrasi ekstensif telah mengarahkan Jerman dari yang dulunya otoriter menjadi negara dengan masyarakat terbuka dan partisipatif. Perubahan ini dikarenakan kegagalan mata uang dan perekonomian Jerman (Leggewie, n.d).

Perpolitikan internal Jerman diwarnai oleh sejumlah partai politik. CDU/CSU dan SPD merupakan dua partai populer besar yang mendominasi. Selain itu, terdapat juga partai nasional, yakni FDP dan Greens Party, serta PDS, sebuah partai regional di Jerman bagian timur. Saat ini, Jerman dipimpin olejh kanselir Angela Merkel yang berasal dari CDU. Presiden Federal dan Mahkamah Konstitusi berada pada reputasi tertinggi, sebaliknya reputasi partai dan parlemen menurun tajam beberapa kali (Leggewie, n.d). dalam Basic Law, kanselir federal dari mulai Konrad Adenauer hingga Angela Merkel, semuanya memiliki status khusus. Hal ini berbeda dengan parlemen tradisional. Jerman juga dianggap sebagai negara yang memiliki self-administration yang bagus dan inddependensi Lander dalam demokrasi federal. Namun, kini Jerman mengakami krisis demografi akibat banyaknya warga Jerman yang menolak untuk memiliki anak yang ditambah dengan tingginya tingkat migrasi. Hal ini mengakibatkan banyaknya pekerja dengan usia tidak produktif.

Industri Jerman bertumbuh dengan pesat. Jerman juga memiliki peran yang cukup signifikan dalam Uni Eropa (EU). Jerman masuk dalam keanggotaan EU pada tahun 1967, hal ini dilakukan demi memulihkan citranya yang sempat memburuk akibat kontribusinya dalam meletusnya Perang Dunia I dan II. Pembentukan ECSC (European Coal and Steel Community) pada tahun 1951 tidak lepas dari peran Jerman. Tujuan pembentukan ECSC adalah mengubah bahan mentah menjadi instrument perdamaian. Jerman juga terlibat dalam Perjanjian Schengen, suatu perjanjian yang memudahkan perpindahan penduduk ke negara-negara EU tanpa menggunakan visa. Bergabungnya Jerman dalam EU menjadi pijakan Jerman agar semakin eksis dalam percaturan internasional. Hal ini dibuktikan dengan kebijakan luar negerinya tahun 1990an untuk mengarahkan pengintegrasian dan pengembangan sayap EU (Belkin, 2009). Merkel turut terlibat dalam proses pengembangan Common Foreign and Security Policy dan European Security and Defense Policy yang bertujuan mengintegrasikan aspek-aspek pertahanan untuk menghadang ancaman instabilitas keamanan. Merkel juga berupaya mempererat hubungan dengan AS dalam sektor perdagangan dan pemberantasan terorisme lewat maksimalisasi peran NATO (Belkin, 2009).

Dari pemaparan di atas, dapat diketaui bahwa agresivitas Jerman telah ada sejak masa imperium. Jerman juga berkontribusi terhadap meletusnya Perang Dunia 1 dan II. Meskipun sempat jatuh akibat perang, Jerman telah berhasil bangkit dan membangun kekuatan ekonomi politiknya. Trauma mendalam akibat perang membuat warga Jerman kini menjadi generasi anti-perang. Dalam mengambil kebijakan luar negeri, Jerman kini lebih berhat-hati dan mereduksi agresivitasnya. Hal ini dilakukan agar dunia internasional bisa ‘mengampuni’ kesalahan Jerman di masala lalu dan untuk menjaga citranya yang sempat buruk akibat perannya dalam dua perang dunia.

Referensi

Artikel

Conradt, David.P, Gerald R. Kleinfeld. Et al. 1995. Germany’s New Politics. Oxford : Bergahn Books 

Web

Adolf, Gustav (2007) The German Empire [WWW] Available from: http://www.allempires.com/article/index.php?q=german_empire [Accessed 03/10/13]

Belkin, Paul. 2009. German Foreign and Security Policy: Trends and Transatlantic Implications. Analyst in European Affairs [WWW] Available from: http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL34199.pdf [Accessed 03/10/13]

History Learning Site (2012) Nazi Germany [WWW] Available from: http://www.historylearningsite.co.uk/Nazi%20Germany,htm [Accessed 03/10/13]

History Learning Site (2012) Propaganda in Nazi Germany [WWW] Available from: http://www.historylearningsite.co.uk/propaganda_in_nazi_germany,htm [Accessed 03/10/13]

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.077