NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PERANG KOREA DAN PROSPEK REKONSILIASI

17 March 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Pada tahun 1950-1953, meletuslah Perang Korea yang disinyalir sebagai dampak dari adanya Perang Dingin antara kubu raksasa AS melawan Uni Soviet. Kedua kekuatan ini saling berlomba-lomba mendapatkan sphere of influence untuk menyebarkan ideologinya, yakni liberalisme yang diusung AS dan komunisme yang diusung Soviet. Akibatnya, Asia Timur khususnya kawasan Korea pun tidak luput dari pandangan mereka, dimana Perang Korea yang terjadi juga tidak lepas dari kepentingan kedua negara ini. Hingga kini, kedua Korea masih bersitegang dan sulit mencapai kata damai.

Penyebab Perang Korea

Perang Korea berkecamuk selama tiga tahun (1950-1953), yang mempertemukan dua Korea, yakni Korea Utara dan Korea Selatan. Sejatinya sejak abad ke-7, dua Korea merupakan satu negara. Pasca perang yang terjadi antara China dan Jepang pada 1894-1895, beberapa bagian dari Korea pun diduduki oleh Jepang sejak tahun 1904. Seluruh Korea akhirnya berhasil takluk oleh Jepang pada bulan Agustus 1910 (eMagAsia, n.d). Saat-saat melemahnya tensi Perang Dunia II, AS dan Soviet berhasil mencapai kata sepakat, yakni AS dan Soviet menduduki Korea, masing-masing hanya sejauh paralel ke-38. Akibatnya, Korea pun terbagi menjadi dua, yakni Utara dan Selatan, dengan ideologi masing-masing yang berbeda. (CNN, 2013).

Dukungan yang mengalir kepada pihak AS salah satunya adalah Syngman Ree, seorang nasionalis Korea yang pernah diasingkan oleh AS pada tahun 1907. AS melakukan lobi kepada PBB agar turut serta menyelesaikan konflik dari pembagian Korea (History Central, n.d). Soviet merasa keberatan dengan permintaan AS ini. Namun. Komisi PBB pun akhirnya memutuskan untuk menggelar pemilu di Korea. Kaum komunis di Korea Utara tidak setuju dengan pemilu tersebut. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh kaum komunis Korea Selatan yang berupaya memboikot pemilu (eMagAsia, n.d).

Di Korea Selatan, partai konservatif beraliansi dengan Rhee yang mendapat mayoritas suara dalam pemilu dimana sebanyak 80% dari pemilih Korea ambil bagian. Pada tahun 1948, Rhee pun menjadi Presiden independen dari Korea Selatan. Pemerintahan Rhee ini adalah pemerintahan yang antikomunis (eMagAsia, n.d). Sedangkan Utara dipimpin oleh Kim Il Sung yang merupakan antek komunis Soviet. Pendirian Republik Korea (Selatan) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (Utara) ini semakin mempertegang hubungan keduanya.

Pada tanggal 25 Juni 1950, serangan mendadak dilakukan oleh tentara Korea Utara yang melewati batas paralel ke-38 ke Korea Selatan. AS merupakan pihak yang berada di balik Korea Selatan (CNN, 2013). PBB mengutuk invasi tersebut dan menuntut Korea Utara agar segera menarik pasukannya. PBB juga menyerukan kepada anggotanya untuk membantu Korea Selatan. Melihat kondisi yang chaos ini, China pun ikut terjun dalam perang karena ingin memanfaatkan Korea Utara sebagai buffer zone jika ada invasi AS, mengingat China adalah negara dengan berpaham komunis yang begitu dibenci AS (eMagAsia, n.d).

Pertempuran terus berlangsung hingga terjadinya penandatanganan gencatan senjata pada tanggal 27 Juli 1953. Gencatan senjata ini mengakhiri pertempuran antara kedua Korea dan bukan perjanjian perdamaian (eMagAsia, n.d). Ketentuan gencatan senjata ini termasuk penciptaan Zona Demiliterisasi, yang dijaga ketat sepanjang 155 mil (250 kilometer) dengan garis selebar 2,5 mil yang memisahkan kedua Korea (CNN, 2013). Konflik tetap ada, meskipun bentrokan perbatasan dan insiden berlangsung sporadis, selama lebih dari setengah abad.

Dampak Perang Korea

Dalam tiga tahun perang, setengah juta orang telah terbunuh dari pihak Korea Selatan. Korban dari Korea Utara dan Selatan tidak diketahui jumlahnya secara pasti. Selain itu, AS juga kehilangan 33.000 jiwa tentara dan korban dari Australia mencapai 1.500 orang, dengan 339 orang tewas (eMagAsia, n.d).

Pasca perang, Korea Utara yang mendapat backing dari Soviet, mengalami kesejahteraan dalam bidang ekonomi. Namun, keruntuhan Soviet pada 1990an membuat Korea Utara ikut melemah, dimana jatah beras yang dahulunya diberikan Soviet kepada Korea Utara menjadi terhenti (CNN, 2013). Hal ini berimplikasi pada terjadinya bencana kelaparan yang menewaskan sekitar 10% dari jumlah populasi penduduk.

Kondisi kontradiktif terjadi di Korea Selatan, dimana perekonomiannya merupakan salah satu yang termiskin di dunia. Perpolitikan domestik pun semakin bergolak akibat kepemimpinan otokratik. Kondisi ini berbalik pada tahun 1960an, dimana perekonomian Korea Selatan menguat dan digadang-gadang sebagai model keajaiban ekonomi. Kini, perekonomian Korea Selatan menempati posisi keempat di Asia (CNN, 2013)

Kini, kondisi Korea Utara  masih miskin akibat isolasionisme yang dilakukannya. Korea Utara juga merupakan negara yang militeristik. Pada tanggal 4 Oktober 2007, Pemimpin Korea Selatan, Roh Moo-Hyun, dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Il. menandatangani eight-point peace agreement terkait isu perdamaian permanen, kerjasama ekonomi, pembicaraan tingkat tinggi, pembaharuan jalan raya, perjalanan udara dan jasa kereta api. Korea Utara telah melakukan uji coba nuklir kontroversial dan beberapa tes rudal balistik. Nuklir Korea Utara ini merupakan ancaman bagi Jepang dan Korea Selatan (eMagAsia, n.d).

Proses Rekonsiliasi

Dalam 60 tahun terakhir, diplomasi antara Utara dan Selatan tidak berjalan mulus, karena diselingi proses damai hingga permusuhan. Presiden Korea Selatan, Kim Dae-jung dianugerahi Nobel Perdamaian pada tahun 2000 atas upayanya untuk melakukan perdamaian dan rekonsiliasi antara dua Korea. Pada pertemuan puncak di Pyongyang tahun 2007, kedua pemimpin negara saling berjabat tangan dan menunjukkan tensi permusuhan yang rendah (CNN, 2013).

Periode rapprochement yang dijalani kedua negara dikotori oleh beberapa insiden, antara lain insiden pengeboman yang menewaskan anggota kabinet Korea Selatan yang tengah melakukan kunjungan ke Myanmar dan pengeboman pada 1987 terhadap penerbangan Korean Air 858 yang menewaskan semua awak pesawat. Meskipun  ditemukan bukti bahwa pihak Korea Utara telah melakukan serangan kedua, namun pemerintah Pyongyang tetap membantah keterlibatan mereka (CNN, 2013).

Baru-baru ini, Korea Utara menembaki pulau Korea Selatan, Yeonpyeong, yang mengakibatkan dua marinir dan dua warga sipil tewas. Pyongyang mengklaim Seoul telah memprovokasi serangan 2010 dengan menggelar latihan militer di lepas pantai mereka bersama di Laut Kuning. Pada tahun yang sama, Korea Utara juga dituduh menenggelamkan kapal perang Korea Selatan yang menewaskan lebih dari 40 pelaut. Insiden ini menyebabkan kemarahan meluas di Korea Selatan (CNN, 2013).

Uji coba nuklir Korea Utara pada bulan Februari 2013 disinyalir dapat mengancam perdamaian dan kawasan Semenanjung Korea. Cina, sekutu lama ke Korea Utara sejak perang, mendukung resolusi PBB untuk sanksi lebih terhadap Korea Utara. Target sanksi pengayaan uranium dan barang-barang mewah ditujukan pada elit penguasa Korea Utara. China sebelumnya telah menolak sanksi yang kuat terhadap rezim Kim, karena mendukungnya secara ekonomi (CNN, 2013). Dalam editorial Financial Times, Deng Yuwen, seorang editor senior dari Study Times, jurnal China's Central Party School, mendesak Cina untuk mengevaluasi kembali aliansi lama dengan dinasti Kim.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Perang Korea merupakan manifestasi dari pertempuran ideologi antara kubu AS dan Uni Soviet. Perang Korea berimplikasi banyak terhadap perpolitikan dan perekonomian kedua negara. Proses perdamaian dan rekonsiliasi yang dilakukan kedua negara hingga kini berjalan alot karena kerap diwarnai insiden seperti pengeboman dan uji coba nuklir. Kedua negara juga sering berbeda pendapat dan sukar menyatukan pandangan yang membuat proses rekonsiliasi menjadi terhambat. Prospek rekonsiliasi kedua negara masih dinilai sukar untuk dilakukan mengingat keduanya kerap mementingkan kepentingannya masing-masing dan mendapat pengaruh dari negara yang melakukan backing terhadap mereka.

 

 

Referensi

CNN (2013) Why the Korean War still matters? [WWW] Available from: http://edition.cnn.com/2013/03/07/world/asia/korean-war-explainer [Accessed 16/05/13]

EMAGASIA (n.d) Cause and effects of Korean war [WWW] Available from: http://www.emagasia.com/cause-and-effects-of-korean-war [Accessed 16/05/13]

HISTORY CENTRAL (n.d) Causes of the Korean War [WWW] Available from: http://www.historycentral.com/korea/causes.html [Accessed 16/05/13]

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.025