NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

KEGAGALAN GREAT LEAP FORWARD DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEREKONOMIAN CHINA

17 March 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Saat Mao Zedong memerintah China, ia menerapkan dua kebijakan, yakni Great Leap Forward (GLP) (1958-1960) dan Revolusi Kebudayaan (1966-1970), dimana kedua kebijakan tersebut merupakan manifestasi ide komunis yang diusung Mao dalam Communist China Party (CCP). Dalam artikelnya yang bertajuk “Tragedy of Good Intentions: Post Mao Views of the Great Leap Forward”, William A. Joseph (1986) secara eksplisit mengatakan bahwa kebijakan tersebut membawa kegagalan terhadap sejumlah sektor di China, yakni sektor ekonomi dan publik (Joseph, 1986: 419). GLP yang menurut Mao adalah salah satu ide brilian nyatanya malah menggiring China menuju kondisi dramatis seiring jatuhnya korban hingga jutaan orang. Dibanding dengan Revolusi Kebudayaan yang terjadi selama sepuluh tahun, GLP ini lebih berdampak negatif. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya penelitian yang mengungkapkan bahwa konsumsi barang saat pemberlakuan GLP ini mengalami kemerosotan yang cukup tajam. Keinginan CCP untuk mewujudkan perekonomian China yang sejahtera ini jelas-jelas malah berdampak sebaliknya. Saat itu, barang-barang modal seperti baja, besi, dan tekstil menjadi perhatian utama pemerintah (Joseph, 1986: 420). Industri-industri pun digenjot untuk meningkatkan produksi mereka terhadap barang-barang modal tersebut, sehingga kualitas barang hampir tidak sebanding dengan kuantitasnya. Baja maupun logam berat yang diproduksi berkualitas rendah, sehingga sangat berbahaya jika digunakan pada bangunan.

GLP yang berfokus pada produksi logam berat ini mengakibatkan menurunnya produksi pangan, sehingga kelaparan terjadi dimana-mana. Panen pun menurun, tercatat bahwa pada panen tahun 1959 hanya menghasilkan sekitar 170 juta ton biji-bijian yang jumlahnya jauh di bawah yang dibutuhkan China pada tingkat yang paling dasar (History Learning Site, n.d). Lahan pertanian berubah menjadi lahan industri. Tenaga buruh pun diperas habis-habisan dengan dalih meningkatkan perekonomian China. GLP merupakan wujud kegagalan kebijakan dari pemerintahan CCP yang antagonis. Pada pertengahan tahun 1950, dikeluarkanlah kebijakan Five Years Plan. Patriotisme masyarakat China dan menancapnya ideologi komunisme membuat mereka tunduk pada perintah pemimpinnya. Pada periode GLP, Mao menerapkan pandangan anti Barat demi melindungi ideologi komunis yang begitu ia agung-agungkan (Joseph, 1986: 424-7). Sejatinya, revolusi kelas hanya diperuntukkan bagi kaum buruh, bukan petani, sehingga yang terjadi adalah revolusi industri. Pandangan Marxisme ini disalahartikan oleh Mao. Ia tidak menyadari bahwa masyarakat China merupakan masyarakat agraris yang tidak begitu saja dapat mencapai revolusi industri. Akibatnya, perpindahan masyarakat agraris menuju industri inipun membawa kegagalan.

Joseph (1986) juga menegaskan bahwa kegagalan GLP ini merupakan indikasi adanya pemaksaan pandangan pemimpin yang subjektif tanpa mengetahui kondisi di lapangan. Saat itu pemerintahan Mao menganggap bahwa kemajuan ekonomi yang singkat akan bisa dicapai saat manusia dan energinya didistribusikan secara tepat. Tuntutan pencapaian target yang begitu besar dinilai terlalu memaksa dan oleh karenanya menyumbangkan kegagalan GLP (Joseph, 1986: 434). Pada tahun 1959, jelas bahwa GLP telah gagal dan bahkan Mao mengakui hal ini. Ia mengaku bahwa dirinyalah yang bertanggungjawab atas kegagalan ini, bahkan meminta ia CCP untuk melihat dan mengevaluasi diri mereka dan kinerja mereka sendiri. Namun, beberapa anggota partai menyalahkan Mao atas kegagalan GLP. Pada akhirnya, Mao pun mengundurkan diri sebagai kepala negara meskipun posisi partainya masih cukup kuat saat itu (History Learning Site, n.d).

Kegagalan GLP ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintahan China dalam membangun perekonomian mereka. Perekonomian China yang masif kini dipandang sebagai buah dari pengimplementasian kebijakan yang berdasar pada kondisi China sendiri. China berupaya untuk melakukan pembangunan dengan target yang realistis dalam waktu yang tidak terburu-buru. Selain itu, strategi dan taktik yang komprehensif juga diadaptasi China dalam menghadapi modernisasi melalui peningkatan sistem manajerial, kepemilikan, dan distribusi (Joseph, 1986: 443-445). Joseph (1986) juga mengatakan bahwa terdapat tiga prinsip utama perekonomian yang bisa diambil dari kegagalan GLP. Pertama yaitu konstruksi ekonomi harus dibarengi dengan hukum yang objektif. Kedua, pertumbuhan ekonomi harus stabil dan berfokus pada pembangunan jangka panjang. Ketiga, meningkatnya common welfare merupakan manifestasi dasar dari perkembangan ekonomi (Joseph, 1986: 445).

Dari pemaparan di atas, disimpulkan bahwa GLP membawa kerugian yang luar biasa bagi perekonomian China di masa lalu akibat tidak memperhatikan kondisi saat itu. Pemimpin yang terlalu memaksa untuk menumbuhkan perekonomian dan kesalahpahaman pandangan terhadap komunisme juga turut menyumbang bagi kegagalan kebijakan ini. Mao yang berpikir bahwa kemajuan China bisa dicapai melalui fokus industri terhadap logam berat jelas-jelas tidak tepat, karena pada awalnya masyarakat China adalah masyarakat agraris, bukan industri. Bencana kelaparan yang terjadi dan perekonomian yang merosot di masa lalu membuat China mengambil pelajaran penting, bahwa perekonomian yang berbasis sosialisme hendaknya didasarkan pada kondisi domestiknya. Pada akhirnya China pun mengembangkan sistem perekonomian yang sesuai dengan iklim kerakyatannya dan tidak menyamaratakan sistem produksi. Kegagalan China di masa lalu membuatnya selalu belajar dan terbukti ia kini menjadi salah satu kekuatan perekonomian dunia yang tangguh.

Referensi

Artikel

Joseph, William A. 1986. “Tragedy of Good Intentions : Post Mao Views of the Great Leap Forward, dalam Modern China, Vol. 12, No. 4 (Oct., 1986), pp. 419-457

Web                                                                                                                         

History Learning Site (n.d) The Great Leap Forward [WWW] Available from: http://www.historylearningsite.co.uk/great_leap_forward.htm [Accessed 20/06/13] 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.674