NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

DINAMIKA EKONOMI NEGARA-NEGARA DI ASIA TIMUR

17 March 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Negara-negara di Asia Timur kini mengalami pertumbuhan ekonomi yang begitu signifikan. Negara-negara ini diprediksi akan menjadi salah satu basis perekonomian dunia. Sektor teknologi secara khusus merupakan salah satu sektor yang menopang perekonomian negara-negara ini, seperti Jepang dan Korea Selatan. Melesatnya perekonomian domestik negara-negara tersebut tidak terlepas dari peran sejarah dan perpolitikan yang turut membentuknya.

CHINA. Di China, dinamika ekonomi berlangsung sangat kompleks. Tepatnya pada tahun 1950, China mulai mengimplementasikan sistem perekonomian Leninis-Stalinis yang dimanifestasikan dalam kebijakan sentralisasi ekonomi. Namun, kebijakan ini tidak membawa China pada kedigdayaan ekonomi, justru yang terjadi malah hal sebaliknya. Perekonomian China menjadi merosot. Hal ini karena pada kebijakan tersebut, pemerintah mengambil alih kontrol penuh terhadap sektor pertanian. Rakyat yang awalnya petani pun berpindah menjadi buruh, dimana saat itu industrialisasi gencar dilakukan. Hal ini pun berimplikasi pada terciptanya kekacauan (Wang, 1994: 92). Saat Mao Zedong memimpin China, ia mengusung kebijakan Great Leap Forward dan Revolusi Kebudayaan. Ia juga memiliki kebijakan desentralisasi, sehingga daerah diberi otoritas sendiri-sendiri untuk mengembangkan perekonomiannya. Namun, perlu diingat bahwa bukan berarti Mao menerapkan otonomi daerah, karena belum semua wilayah diberi otoritas penuh dalam mengatur perekonomian mereka  (Wiryawan, 2008: 24).

Saat pemerintahan Mao digantikan Deng Xiaoping, China pun menerapkan kebijakan socialist market economy. Melalui kebijakan ini, sistem perekonomian China bertujuan untuk menggabungkan dan mengkonsolidasikan pasar dalam sebuah sistem yang terencana. Sistem perekonomian China pun menjadi terbuka akibat reformasi yang diusung Deng Xiaoping. Deng berharap kebijakannya ini akan mampu mengangkat perekonomian domestik karena diharapkan investasi asing akan berbondong-bondong memasuki China. Perkiraan Deng ini ternyata tepat, banyak negara memasuki China untuk menanamkan investasinya (Wiryawan, 2008: 9). Selain diijinkannya investasi asing pada 1970-an dan awal 1980-an, terdapat sejumlah reformasi skala besar, antara lain privatisasi sektor negara dan liberalisasi perdagangan. Sejak awal reformasi Deng Xiaoping, GDP China pun mengalami peningkatan pesat, naik dari sekitar 150 milyar USD untuk lebih dari 1,6 triliun USD, dengan peningkatan tahunan sebesar 9,4 persen (Brandt, 2008: 22).

JEPANG. Jepang juga merupakan negara yang mumpuni dalam sektor ekonominya. Kedigdayaan ekonomi yang dialami Jepang ini tidak terlepas dari kesuksesannya dalam mengembangkan teori manajemen khas Jepang (Wang, 1994: 99). Jepang menerapkan keahlian dan pendidikan dalam pelaku industri serta kebijakan pemerintah Jepang guna mereduksi peranan oposisi dan menguatkan peranan birokrasi yang ada. Melesatnya sistem perekonomian Jepang juga tidak bisa dipisahkan dari sistem pendidikan yang dikembangkannya (Wang, 1994: 103). Jepang menaruh perhatian khusus pada pendidikan berbasis teknologi, dimana segala macam sekolah maupun universitas yang berbasis teknik akan mendapat fasilitas lebih. Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat yang rajin dan disiplin, hal ini juga turut menyumbang kemajuan negara matahari terbit tersebut.

Jepang menganut sistem perekonomian kapitalis. Sistem ini termanifestasikan dalam pembentukan Ministry of International Trade and Industry (MITI) dan Ministry of Finance sebagai lembaga khusus yang menangani masalah perdagangan, mengembangkan strategi pengembangan ekonomi, dan memformulasikan kebijakan industri nasional (Wang, 1997: 101). Korporasi Jepang menjadi faktor penyumbang terbesar kemajuan ekonomi negara tersebut. Grup korporasi (keiretsu) merupakan kumpulan perusahaan dengan hubungan bisnis dan kepemilikan saham. Grup korporasi ini mayoritas bergerak di bidang otomotif, misalnya Toyota, Mitsubishi, Mazda, Hitachi, dan sebagainya. Keberadaan mereka juga sangat bermanfaat bagi masyarakat Jepang karena menyerap tenaga kerja yang begitu besar (Wang, 1994: 102). Perusahaan-perusahaan ini bekerjasama dengan perusahaan di seluruh dunia dalam proses produksi komponen otomotif hingga perakitan. Namun, yang perlu dicatat adalah bahwa Jepang tetap memprioritaskan raw material dari keiretsu yang dimilikinya.

KOREA SELATAN. Jika Jepang memiliki keiretsu, maka korporasi Korea Selatan lebih dikenal dengan sebutan chaebol. Chaebol merupakan kalangan konglomerat keluarga yang memegang perusahaan besar di Korea Selatan dan memiliki ikatan kuat dengan pemerintah. Jelas prinsip keturunan begitu kentara disini. Mayoritas chaebol adalah perusahaan multinasional seperti Samsung, Hyundai, Lucky-Goldstar dan Daewo. Peran Chaebol ini begitu krusial, karena mengontrol 40 persen ekspor di Korea Selatan. Kontribusi chaebol dalam meningkatkan perekonomian Korea Selatan tidak serta-merta membuatnya diagung-agungkan. Terdapat sejumlah kontra yang mengkritik chaebol ini, karena keberadaannya dianggap menekan bahkan cenderung mematikan industri-industri kecil dan menengah yang ada di Korea Selatan. Kontra dan kritik yang ada tidak membuat pemerintah memutuskan untuk menghapuskan chaebol, karena tidak bisa dipungkiri bahwa penguat perekonomian Korea Selatan adalah para chaebol dengan perusahaan-perusahaannya (Wang, 1994: 146).

TAIWAN. Penopang perekonomian Taiwan juga dipegang oleh chaebol. Di sisi lain, sektor swasta memegang peranan dalam menopang pasar, sehingga swastanisasi terhadap bank dan perusahaan milik negara banyak dilakukan pasca penjajahan Jepang (Wang, 1994:149). Kebijakan swastanisasi tersebut didukung dengan diterapkannya sistem ekonomi kapitalis di Taiwan. Yang menjadi masalah pelik hingga kini adalah Taiwan tidak diakui oleh negara-negara di dunia sebagai negara yang berdaulat dan masih dianggap bagian dari China. Sedangkan Taiwan sudah mendeklarasikan kemerdekaan mereka sendiri dan mengklaim bahwa mereka bukanlah bagian dari provinsi China. Kemajuan ekonomi di Taiwan pun terhambat akibat statusnya yang belum jelas. Status Taiwan ini membuatnya terkendala saat harus menjalin hubungan luar negeri dengan negara lainnya. Sejak masa penjajahan Jepang (1895-1945), perkembangan ekonomi Taiwan mulai terlihat dengan didirikannya pusat-pusat industri. Sektor pertanian yang awalnya memegang peranan penting pun kemudian digantikan oleh sektor industri. Di tahun 1990, Taiwan mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata 9 persen. Empat faktor utama dalam pertumbuhan ekonomi Taiwan tahun 1949-1967 menurut Yuan-Lin Wu, seorang analisis ekonomi, antara lain keberhasilan Land Reform tahun 1953, kontrol terhadap inflasi, restorasi infrastruktur dan memanfaatkan sumber-sumber eksternal (Wang, 1997: 145).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kejayaan ekonomi yang dikecap negara-negara di Asia Timur dipengaruhi dari kebijakan-kebijakan ekonominya di masa lalu, dimana kebijakan terdahulu digunakan sebagai pembelajaran untuk meningkatkan maupun merevitalisasi kebijakan perekonomian yang ada kini. Kebijakan perekonomian yang diambil pun tidak lepas dari situasi politik maupun sejarah di masa itu. Meskipun negara-negara ini mulai mengimplementasikan liberalisasi ekonomi, namun peran pemerintah dalam menyelaraskan dinamika perekonomian domestik juga masih diperlukan, karena tanpa kebijakan atau regulasi yang tepat dari pemerintah, maka pasar akan berjalan tanpa proteksi yang dikhawatirkan bisa berdampak kurang baik bagi perekonomian itu sendiri.

 

Referensi

Brandt, Loren et al. (2008), "China's Great Transformation", in Brandt, Loren; Rawski, G. Thomas, China's Great Transformation, Cambridge: Cambridge university press

Wang, James C. F., 1994, "Comparative Asian Politics: Powers, Policy and Change", New Jersey: Prentice Hall

 Wiryawan, Bangkit A. 2008. Zona Ekonomi Khusus Strategi China Memanfaatkan Modal Global. Depok:Yayasan CCS.

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.026