NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PENYEBARAN KONFUSIANISME DAN IMPLIKASINYA

17 March 2014 - dalam MBP Asia Timur Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Konfusianisme merupakan sistem filsafat sosial dan etika yang berasal dari China. Dalam realitanya, konfusianisme dibangun di atas landasan agama kuno untuk membentuk nilai-nilai sosial, institusi, dan cita-cita transenden masyarakat Cina tradisional. Sosiolog Robert Bellah memandang konfusianisme sebagai "agama sipil," yakni adanya rasa identitas agama dan pemahaman moral yang umum pada dasar institusi sentral dalam masyarakat. Konfusianisme merupakan bagian dari struktur sosial dan way of life masyarakat China, dimana menurut konfusian, kehidupan sehari-hari adalah arena agama (Berling, 1982).

Pemikiran konfusianis ditemukan oleh Master Kong (Confucius) pada abad 551-479 SM. Saat itu Master Kong tidak berniat membentuk agama baru, namun ia hanya menginterpretasikan dan menghidupkan kembali agama dari dinasti Zhou yang tidak memiliki nama seiring dengan banyaknya masyarakat yang mengira bahwa sistem agama kuno telah kolaps (Berling, 1982). Confucius meyakini bahwa moral yang baik hanya bisa dicapai melalui upacara-upacara tradisional, bukan dengan kekuatan raja, bangsawan, maupun kelas-kelas yang lain. Dalam mewujudkan sifat-sifat ideal tersebut, peran cendekiawan dan sarjanalah yang dianggap paling tepat, karena mereka berkapabilitas dalam tradisi ritual dan yang mengutamakan kepentingan keluarga (Anon, t.t: 32). Dalam tradisi ritual, terdapat nilai kesopanan dan standar perilaku yang diterima secara kolektif, atau yang kerap disebut sebagai adat istiadat sosial. Confucius menganggap bahwa ritual tradisional dan upacara-upacara tersebut sebagai dasar peradaban manusia. Ia juga menganggap bahwa hanya masyarakat yang beradablah yang memiliki tatanan sosial yang stabil, terpadu, dan abadi (Berling, 1982).

Konfusianisme berpandangan bahwa inti kesejahteraan masyarakat dan negara terletak pada keluarga (Anon, t.t: 33). Oleh karena itu, seorang anak harus menaruh hormat dan patuh kepada ayahnya. Sang ayah juga harus bisa memberi tuntunan yang baik kepada keluarganya. Nilai sopan santun merupakan ciri utama konfusianisme, khususnya dalam pembinaan agar tercipta lingkungan sosial yang harmonis dan damai. Confucian meyakini bahwa manusia mampu mencapai keharmonisan yang terbaik melalui pemeliharaan sopan santun. Sopan santun ini merupakan nilai yang termanifestasikan dalam lima hubungan sosial, yakni (a) hubungan antara peemrintah dan menteri dengan rakyat, (b) hubungan antara ayah dengan anak laki-laki, (c) hubungan antara saudara laki-laki tertua dengan yang lebih muda, (d) hubungan suami dan istri, serta (e) hubungan antarteman (Anon, t.t: 34).

Berthrong (2010) sempat mengatakan bahwa konfusianisme di China mengalami perkembangan pada abad 3 SM-3 M dan menjadi basis ideologi kekaisaran. Surutnya konfusianisme terjadi saat paham ini dianggap berbahaya karena ada indikasi perlawanan terhadap ajaran Budhisme dan Dao yang memasuki China, sehingga konfusianisme pun mendapat kawalan ketat pada abad 3-10 M. Konfusianisme kembali memasuki masa kejayaannya setelah salah seorang pengikutnya pada abad 10, Zhu Xi, berhasil menanamkan kembali nilai-nilai luhur paham ini kepada masyarakat China. Tidak hanya berhenti di situ saja, konfusianisme pun meluas hingga ke Jepang dan Korea (Berthrong, 2010). Meskipun sempat ditolak oleh komunis, namun ajaran konfusianisme ini dalam realitanya, secara sadar atau tidak, telah diimplementasikan oleh masyarakat China. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan masyarakat China mayoritas telah dipengaruhi oleh konfusianisme ini, meskipun dalam praktiknya kerap dicampur paham satu dengan paham yang lain. Dasar inilah yang membuat mereka memiliki filsafat humanistik, yakni pengakuan bahwa keduniawian merupakan dasar kebenaran, yang dipandang sebagai sifat Tuhan (Anon, t.t: 39-44).

Pada abad 14, di bawah kepemimpinan dinasti Chonson, nilai-nilai konfusianisme mulai memasuki sendi-sendi kehidupan bernegara di Korea. 3 abad selanjutnya, kondisi Asia Timur berubah akibat naiknya dinasti Ming di China yang menggantikan dinasti Qing dan dimulainya jaman Edo di Jepang. Kedua fenomena ini membawa implikasi besar pada berubahnya nilai-nilai konfusianisme. Konfusianisme bergerak menuju arah yang lebih modern –sebelumnya orthodoks− ketika Jepang melancarkan invasinya ke Korea (Choi, 2010). Konfusianisme Korea juga mendapat sentuhan dari Barat dan merupakan kombinasi antara teori dan praktik. Dibanding dengan konfusianisme Korea, konfusianisme di China cenderung teoritis dengan nilai filsafat yang dalam. Kini konfusianisme Korea cenderung dikorelasikan dengan evolusi isu sosial budaya dan isu kapitalis (Choi, 2010).

Konfusianisme menyebar di Jepang di bawah kekuasaan Keun Ch’ogo dari kerajaan Paekche. Saat itu, sang raja mengirim instruktur bernama Wani agar mengajarkan konfusianisme dan bahasa China kepada putranya, Pangeran Yamato. Wani merupakan tokoh penting yang legendaris, dimana ia adalah scholar-teacher pertama Analects yang masuk ke Jepang. Kontribusi konfusianisme terhadap budaya Jepang adalah terkait penghitungan tahun dalam masa pemerintahahan kaisar, yang disebut nengô. Sistem ini berasal dari China, dimana sistem ini digunakan dinasti Han untuk merefleksikan agenda dan nilai-nilai yang mereka ingin wujudkan (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2012).

Penulisan teks Jepang kuno juga mendapat sentuhan dari konfusianisme, yang disebut sebagai Seventeen-Article Constitution (Jûshichijô kenpô). Meskipun dokumen ini tidak memberi cetak biru bagi pemerintah dan organisasi politik sebagai seperangkat standar nilai bagi masyarakat politik, namun dalam pembukaannya sangat jelas sekali terdapat ajaran konfusianisme. Bagian pembukaan berbunyi “Harmony is to be valued” yang mengindikasikan nilai konfusianisme. Artikel konstitusi pun tidak luput dari pengaruh konfusianisme, yakni prinsip kebajikan politik seperti kesetiaan, ketaatan, kesopanan, imparsialitas, ketekunan, kepercayaan, moderasi, dan sebagainya. Kebijakan politik Jepang juga berasal dari filsafat konfusianisme, yakni distribusi tanah yang sama untuk semua keluarga. Dengan kesamaan distribusi ini, maka diharapkan masyarakat Jepang akan menajdi masyarakat yang taat hukum (Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2012)

Dari pemaparan di atas, diketahui bahwa filsafat konfusianisme mengajarkan untuk selalu berbuat kebajikan dan bijaksana dalam kehidupan sosial. Ajaran konfusianisme juga lekat dengan upacara-upacara tradisional yang merupakan wujud penghormatan kepada leluhur. Konfusianisme sendiri bukan merupakan agama, namun merupakan upaya menghidupkan kembali ajaran agama kuno yang dinilai bertanggungjawab terhadap ketidaksejahteraan rakyat. Nilai-nilai yang tertuang di dalamnya juga turut berpengaruh terhadap negara-negara yang disinggahinya, baik dari segi budaya, sosial, politik, dan lainnya,

 

Referensi

Artikel

Berthron, John. 2010. Transmitting the Dao: Chinese Confucianism dalam Chang, Wonsuk dan Leah Kalmanson. 2010. Confucianism in Context : Classic Philosophy and Contemporary Issues, East Asia and Beyond. New York : State University of New York Press Albany.

Choi, Youngjin. 2010. The History of Confucianism in Korea dalam Chang, Wonsuk dan Leah Kalmanson. 2010. Confucianism in Context : Classic Philosophy and Contemporary Issues, East Asia and Beyond. New York : State University of New York Press Albany.

Web

Anonim. t.t. "Bab 1 - Dasar Berpikir, Pandangan Hidup, dan Sistem Kepercayaan Orang Cina". Hal 23-99.

Berling, Judith A. 1996. Confusianism  dalam Focus on Asian Studies, Vol. II, No. 1: Asian Religions, pp. 5-7, Fall 1982. [online] dalam http://www2.kenyon.edu/Depts/Religion/Fac/Adler/Reln270/Berling-Confucianism.htm [diakses pada 30 Mei 2013]

Stanford Encyclopedia of Philosophy. 2012. Japanese Confucian Philosophy [online] dalam http://plato.stanford.edu/entries/japanese-confucian/ [diakses pada 30 Mei 2013]

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.105