NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

ICAO: Regulator Aviasi Internasional

13 March 2014 - dalam Organisasi Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Oleh: Nurlaili Azizah - 071112001

Dalam dunia penerbangan internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki agensi khusus, International Civil Aviation Organization (ICAO), yang berada di bawah naungan Economic and Social Council (ECOSOC). ICAO berfungsi sebagai pengembang teknik dan prinsip navigasi udara internasional serta bertugas membantu kemajuan perencanaan dan pengembangan angkutan udara internasional demi memastikan pertumbuhan yang aman dan terencana (Priyadi, n.d). Sejarah pendirian ICAO bermula di tahun 1944. Saat itu pemerintah AS mengundang 22 negara untuk hadir dalam International Civil Aviation Conference pada bulan November 1944 di Chicago. Sebanyak 54 negara hadir dan Konvensi mengenai International Civil Aviation pun ditandatangani oleh 32 negara. Konvensi ini merupakan embrio pendirian International Civil Aviation (ICAO) permanen sebagai manifestasi usaha mengamankan kerjasama internasional dan posibilitas tertinggi dalam penyeragaman regulasi dan standar, prosedur dan organisasi terkait masalah penerbangan sipil. Pada saat yang sama ditandatangani pula International Service Transit Agreement  dan International Air Transport Agreement (ICAO, n.d).

Hasil yang paling signifikan dari Chicago Conference adalah pada ranah teknikal dimana Konferensi ini telah meletakkan pondasi berupa seperangkat aturan dan regulasi mengenai navigasi udara yang bertujuan menjamin keselamatan penerbangan dan membuka jalan bagi pengaplikasian sistem navigasi bersama di seluruh dunia. Konvensi Chicago tersebut sangat berpengaruh dan dijadikan sebagai sumber hukum internasional di bidang penerbangansipil. Konvensi ini juga mengikat secara moral setiap negara anggota PBB melalui sejumlah instrumen ratifikasi maupun adhere (penundukan diri) (Sudarsono, 2012). ICAO lahir dengan dengan didahului oleh pendirian panitia persiapan pembentukan ICAO atau yang kerap disebut dengan PICAO (Provisional Civil Aviation Organization) pada tanggal 6 Juni 1945 di Montreal, Kanada, dan berfungsi hingga 4 April 1947. Pada tanggal 4 April 1947 inilah ICAO secara resmi terbentuk dan menjadi agensi di bawah PBB mulai tanggal 13 Mei 1947 (Sudarsono, 2012). Aktivitas ICAO berkutat pada pengembangan beragam peralatan, khususnya menyangkut aspek CNS (Communication, Navigation and Surveillance) – ATM (Air Traffic Management). ICAO juga membagi zona dunia penerbangan menjadi 7 wilayah dunia yakni ASIA/PAC, AFI, EUR, CAR/SAM, MID, NAM dan NAT (Indonesia ICAO, n.d).

Setiap negara yang berdaulat yang telah menjadi anggota PBB bisa menjadi anggota ICAO (Sudarsono, 2012). Berdasarkan Konvensi Chicago Article 93, dijelaskan bahwa suatu negara yang keluar dari keanggotaan PBB maka otomatis ia keluar dari keanggotaan ICAO dan akan kembali diterima jika mendapat persetujuan dari Majelis Umum (Universitetet i Oslo, n.d). Sementara perihal finance ICAO dijelaskan dalam  Article 6I-63. Perihal beban biaya yang ditanggung setiap delegasi, Article 63 menyatakan bahwa, “Each contracting State shall bear the expenses of its own delegation to the Assembly and the remuneration, travel, and other expenses of any person whom it appoints to serve on the Council, and of its nominees or representatives on any subsidiary committees or commissions of the Organization” (Universitetet i Oslo, n.d). Mengenai settlement of disputes, Article 84 menyatakan bahwa, If any disagreement between two or more contracting States relating to the interpretation or application of this Convention and its Annexes cannot be settled by negotiation, it shall, on the application of any State concerned in the disagreement, be decided by the Council. No member of the Council shall vote in the consideration by the Council of any dispute to which it is a party. Any contracting State may, subject to Article 85, appeal from the decision of the Council to an ad hoc arbitral tribunal agreed upon with the other parties to the dispute or to the Permanent Court of International Justice. Any such appeal shall be notified to the Council within sixty days of receipt of notification of the decision of the Council” (Universitetet i Oslo, n.d).  

Berdasarkan Konvensi International Civil Aviation, ICAO memiliki struktur organisasi yang terdiri dari Majelis, Dewan yang memiliki keanggotaan terbatas dengan sejumlah badan subordinat, dan Sekretariat (ICAO, n.d). Presiden Dewan dan Sekretaris Jenderal bertindak sebagai chief officers. Majelis merupakan sovereign body dalam ICAO yang terdiri dari representasi semua Contracting States. Masa jabatan Majelis adalah tiga tahun dan bertugas melakukan peninjauan dan pengawasan terhadap kinerja organisasi serta menetapkan regulasi untuk tahun-tahun selanjutnya (ICAO, n.d). Dewan merupakan governing body yang dipilih oleh Majelis untuk masa jabatan tiga tahun dan beranggotakan 36 negara. Majelis memilih negara anggota Dewan dengan berdasar tiga headings: States of chief importance in air transport, States which make the largest contribution to the provision of facilities for air navigation, and States whose designation will ensure that all major areas of the world are represented. Dewan bertugas memberikan arah yang berkesinambungan terhadap kinerja ICAO. Dewan bekerja dengan berdasar Standards and Recommended Practices, yang diadopsi dan dimasukkan sebagai Annexes to the Convention on International Civil Aviation. Dewan tidak bekerja secara mandiri, melainkan dibantu oleh Air Navigation Commission (perihal teknis), Air Transport Committee (perihal ekonomi), Committee on Joint Support of Air Navigation Services dan Finance Committee (ICAO, n.d). Sementara Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal yang memiliki lima divisi major, yakni Air Navigation Bureau, Air Transport Bureau, Technical Co-operation Bureau, Legal Burea, dan Bureau of Administration and Services. Perekrutan tenaga profesional dalam Sekretariat dilakukan dengan berbasis geografis yang luas demi mencerminkan perspektif yang benar-benar internasional (ICAO, n.d).

Mekanisme interaksi tidak hanya terjadi intra organisasi, tetapi juga dari ranah ekstra. ICAO memiliki kerjasama erat dengan anggota lain dalam scope PBB, misalnya Meteorological Organization (WMO), International Telecommunication Union (ITU),  Universal Postal Union (UPU), World Health Organization (WHO), World Tourism Organization (UNWTO), dan International Maritime Organization (IMO) (ICAO, n.d). ICAO tidak ingin kerjasamanya hanya terbatas pada governmental organization, oleh sebab itu ia melebarkan sayap dengan menggandeng non-governmental organizations, diantaranya International Air Transport Association (IATA), Airports Council International (ACI), Civil Air Navigation Services Organisation (CANSO), International Federation of Air Line Pilots' Associations (IFALPA), dan International Council of Aircraft Owner and Pilot Associations (IAOPA) (ICAO, n.d).

ICAO memiliki hierarki peraturan yang terdiri dari lima aturan major. Pertama, negara anggota mengimplementasikan peraturan, khususnya yang bersifat ‘’Standard’’ (mandatory). Kedua, sejumlah konvensi wajib diratifikasi dan dikonversikan ke dalam regulasi internal tiap negara anggota dalam bentuk undang-undang, yang disesuaikan dengan keterkaitan aturan lain yang berlaku. Ketiga, sebagai penerapan peraturan internasional,  peraturan yang dibuat oleh negara anggota minimum standard dengan ICAO, sementara untuk alasan maupun pertimbangan keamanan dan ke­selamatan,  negara anggota dapat membuat peraturan nasional yang relatif  lebih ketat. Keempat, setiap negara anggota wajib melaporkan peraturan produk negaranya dan implementasinya kepada ICAO. Kelima, peraturan produk ICAO bersifat universal (Sudarsono, 2012).

Perkembangan ICAO bisa dilihat dari sejumlah faktor, diantaranya perubahan tujuan strategisnya. Tujuan strategis ICAO pada jangka waktu 2005-2010 antara lain Safety, Security, Environmental Protection, Eficiency, Continuity, dan Rule of Law. Aspek safety dan security maksudnya adalah meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan sipil global. Sementara dari segi environmental protection, ICAO ingin meminimalisir dampak merugikan dari aktivitas penerbangan sipil global terhadap lingkungan. Continuity maksudnya adalah memelihara dan menjadga kelangsungan operasi penerbangan, dan rule of law bermakna penguatan hukum menyangkut penerbanagn sipil global (ICAO, n.d). Dalam misi berkelanjutan untuk mewujudkan sistem penerbangan sipil global yang beroperasi secara seragam dan konsisten dalam penyediaan keamanan, keselamatan, dan sustainability, kelima tujuan strategis di atas dipadatkan menjadi tiga ­ jangka waktu 2011-2013­, yakni Safety, Security, dan Environmental Protection and Sustainable Development of Air Transport. Dari segi Safety dan Security tidak mengalami perubahan. Sementara dari segi Environmental Protection and Sustainable Development of Air Transport, ICAO ingin membangun penerbangan yang harmonis sekaligus ekonomis yang tidak membahayakan atau merusak lingkungan (ICAO, n.d).

Dari pemaparan di atas, ICAO merupakan organisasi aviasi internasional yang sangat berkontribusi besar pada eksistensi penerbangan nasional maupun internasional. ICAO menetapkan standar dan prosedur yang ketat bagi keamanan penerbangan, mengingat masalah transportasi udara adalah masalah yang krusial. Jika keamanan dan keselamatan penerbangan terpenuhi, maka hal ini akan berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Hal ini tentunya menjadi harapan semua negara. Oleh sebab itu, kehadiran ICAO dinilai sangat strategis dan menguntungkan bagi sektor penerbangan sebuah negara. Sirkulasi penumpang pesawat yang semakin masif dan mobilitas manusia yang kian cepat memunculkan sejumlah masalah yang menjadi tantangan bagi ICAO ke depan untuk semakin meningkatkan kinerjanya.

Referensi

ICAO (n.d) History: Foundation of the International Civil Aviation Organization (ICAO) [WWW] Available from: http://www.paris.icao.int/history/history_1944.htm [Accessed 20/12/13]

____ (n.d) How It Works [WWW] Available from: http://www.icao.int/about-icao/pages/how-it-works.aspx [Accessed 20/12/13]

____ (n.d) ICAO Strategic Objectives 2011-2013 [WWW] Available from: http://www.icao.int/Documents/strategic-objectives/strategic_objectives_2005_2010_en.pdf [Accessed 20/12/13]

____ (n.d) ICAO Strategic Objectives 2011-2013 [WWW] Available from: http://www.icao.int/about-icao/Pages/Strategic-Objectives.aspx [Accessed 20/12/13]

Indonesia ICAO (n.d) Air Navigation Commissions Briefing [WWW] Available from: http://www.indonesia-icao.org/anc12oct.html [Accessed 20/12/13]

Priyadi, Sugeng (n.d) Organisasi-organisasi dalam Dunia Penerbangan [WWW] Available from: http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/SUGENG_PRIYADI/UPI_Bhn_Kuliah_MRL-2.pdf [Accessed 20/12/13]

Sudarsono, Tjuk (2012) Keberadaan dan Peran ICAO dalam Penerbangan Sipil Internasional [WWW] Available from: http://tabloidaviasi.com/safety/keberadaan-dan-peran-icao-dalam-penerbangan-sipil-internasional/ [Accessed 20/12/13]

Universitetet i Oslo (n.d) Convention on International Civil Aviation (ICAO Convention) – The Faculty of Law [WWW] Available from: http://www.jus.uio.no/english/services/library/treaties/07/7-01/international-civil-aviation.xml#note1.83.3.11 [Accessed 20/12/13]

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.237