NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

NATO sebagai Manifestasi Collective Security

13 March 2014 - dalam Organisasi Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Oleh: Nurlaili Azizah - 071112001

Dalam hubungan internasional, keamanan merupakan salah satu aspek krusial yang harus diperhatikan oleh negara. Pada masa Perang Dingin, terjadi rivalitas perebutan ideologi yang begitu masif. Memang tidak ada perang secara langsung, namun rivalitas yang terjadi antara kubu AS dan USSR mampu mengancam keamanan negara-negara yang tidak terlibat Perang Dingin tersebut. NATO (North Atlantic Treaty Organization) pun kemudian diciptakan oleh AS, Kanada, dan sejumlah negara-negara Eropa Barat tahun 1949 sebagai bentuk pakta pertahanan yang berbasis collective security untuk menghadang USSR (US Department of State, n.d). USSR pun tidak mau kalah, ia menggandeng negara-negara Eropa Timur untuk menciptakan sebuah pakta pertahanan tandingan, yakni Pakta Warsawa, yang didirikan Mei 1955. Anggota asli NATO antara lain AS, Inggris, Belgia, Belanda, Luxemburg, Perancis, Kanada, Portugal, Italia, Norwegia, Denmark, dan Islandia. Kemudian pada tahun 1952 Yunani dan Turki bergabung menjadi anggota (History Learning Site, n.d). Hingga kini, anggota NATO telah mencapai jumlah 28 negara (NATO, n.d)

NATO berdiri dengan memiliki tiga tujuan utama, yakni menghadang ekspansionisme USSR, melarang kebangkitan militerisme nasionalis di Eropa melalui kehadiran AS di benua tersebut, dan mendorong integrasi politik Eropa (NATO, n.d). Dalam NATO, para pihak setuju bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu anggota berarti serangan terhadap semua anggota. Akibatnya, mereka setuju bahwa jika terjadi serangan, masing-masing anggota akan berupaya membela dirinya sendiri sekaligus membela anggota lainnya secara kolektif (collective security), bahkan mengijinkan penggunaan senjata jika diperlukan. Pada awal pembentukan NATO, AS memiliki peran yang sangat dominan, yakni sebagai penopang dalam hal kekuatan militer dan keuangan (History Learning Site, n.d). Dalam mempertahankan jantung Eropa dari USSR, NATO pun mempersenjatai dirinya dengan kekuatan darat dan udara yang besar di kawasan Jerman Barat. Pada tahun 1979, NATO sepakat meluncurkan American Cruise dan Pershing II missiles di Eropa Barat. Ketika Pakta Warsawa meluncurkan SS-20 missiles di Eropa Barat pada tahun 1983-1984, NATO merespon dengan mengembangkan Pershing missiles yang lebih modern. Dikombinasikan dengan kemampuan nuklirnya, NATO menjelma sebagai conventional force yang tangguh kala itu (History Learning Site, n.d).

Jika dahulu NATO merupakan manifestasi pakta pertahanan untuk melawan USSR, kini NATO menjadi safeguard dalam menyediakan kebebasan dan keamanan bagi anggotanya melalui sektor politik dan militer. Dari segi politik, NATO mempromosikan nilai-nilai demokrasi dan mendorong konsultasi dalam hal kerjasama dan keamanan demi membangun kepercayaan antar anggotanya dan untuk mencegah konflik (NATO, n.d). NATO juga berkomitmen untuk berkonsentrasi pada resolusi konflik secara damai. Jika usaha diplomasi gagal, NATO memiliki kapasitas militer yang digunakan untuk operasi manajemen krisis, dimana operasi ini dilakukan di bawah Pasal 5 Perjanjian Washington –perjanjian pendirian NATO– atau di bawah mandat PBB, sendiri, atau bekerjasama dengan negara lain maupun organisasi internasional (NATO, n.d). NATO juga berbasis pada collective defense yang termaktub dalam Pasal 5 Perjanjian Washington. Sebagai aliansi negara-negara Eropa dan Amerika Utara, NATO merupakan bridge dalam menyediakan link antara kedua kontinen untuk berkonsultasi dan bekerjasama dalam sektor pertahanan dan keamanan, dan dalam rangka pelaksanaan operasi crisis-management multinasional. Berdasarkan 2010 Strategic Concept, tugas NATO difokuskan pada tiga hal, yakni collective defence, crisis-management, dan cooperative security (NATO, n.d).

NATO membuka kesempatan bagi anggotanya untuk berkonsultasi dan mengambil keputusan terkait isu-isu keamanan dalam semua tingkatan dan bidang. Kenggotaan NATO juga terbuka bagi setiap negara di Eropa lainnya yang sama-sama memiliki kesamaan visi untuk memajukan prinsip-prinsip Perjanjian Washington dan untuk berkontribusi pada keamanan wilayah Atlantik Utara, dengan syarat bahwa calon anggota mampu memenuhi kualifikasi Membership Action Plan NATO (NATO, n.d). Keputusan NATO diambil secara konsensus dan merupakan manifestasi kehendak kolektif dari 28 negara anggota. Setiap harinya ratusan pakar militer, pakar militer dan sipil beserta pejabat NATO berkumpul di headquarters NATO untuk bertukar informasi, sharing gagasan, dan membantu mempersiapkan keputusan jika diperlukan, dengan bekerjasama dengan delegasi nasional (NATO, n.d). NATO juga berperan aktif dalam sejumlah operasi perdamaian, mulai dari operasi Balkan di awal 1990an hingga terlibat dalam operasi manajemen krisis. Kini, NATO memiliki 100.000 personel militer yang terlibat dalam misi NATO di seluruh dunia dan tengah beroperasi di Afghanistan, Kosovo, Mediterania, dan di lepas pantai Horn of Africa serta di Somalia (NATO, n.d). NATO menjalin interaksi dan kerjasama dengan negara-negara dari Atlantik hingga Asia Tengah dan dari Skandinavia hingga Mediterania. Partner countries di atas tidak memiliki otoritas decision-making yang sama dengan negara anggota (NATO, n.d).

NATO memiliki struktur yang memungkinkan anggotanya dapat berpartisipasi aktif. Struktur ini mendorong konsultasi dan kerjasama antar sekutu dalam sektor politik, militer, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Struktur central bodies NATO dibagi menjadi dua, yakni civilian dan military bodies. Dalam civilian bodies, terdapat North Atlantic Council (NAC), Defence Planning Committee (DPC), Nuclear Planning Group (NPG), Secretary General,  dan International Staff. NAC merupakan badan tertinggi dalam NATO dan terdiri dari perwakilan permanen dari seluruh negara anggota (duta besar). Semua negara memiliki hak yang sama di hadapan. NAC (Ministère de la Défense, 2013). DPC bertugas membahas sektor pertahanan termasuk perencanaan pertahanan kolektif. DPC juga memberi panduan kepada otoritas militer NATO dan memiliki fungsi serta tanggung jawab yang sama seperti NAC. Sementara NPG merupakan forum utama yang membahas mengenai peran nuklir dalam upaya pertahanan dan keamanan NATO. Secretary general bertanggungjawab membawahi NAC, DPC, NPG, dan komite senior lainnya, sekaligus menjadi juru bicara NATO. International staff bertugas mempersiapkan pertemuan NAC dan menbagun konsensus terkait proses pengambilan keputusan dengan dibawahi oleh Secretary General (Ministère de la Défense, 2013). Military bodies terdiri dari Military Committee (MC) dan International Military Staff (IMS). MC bertugas membuat rekomendasi kepada otoritas politik NATO mengenai isu-isu militer dan memberi arahan kepada NATO’s Strategic Commands dan IMS bertugas mempersiapkan pertemuan dari MC.

Selain itu, terdapat pula NATO Command Structure (NCS) yang berfungsi sebagai framework untuk mengorganisir pertahanan negara anggota dalam melawan ancaman terhadap keamanan. NCS dikelola dengan berbasis pada dua strategic commands, yakni Supreme Allied Command Europe (SACEUR) dan Supreme Allied Command Atlantic (SACLANT) (Ministère de la Défense, 2013). Kemudian pasca Perang Dingin dua strategic commands tersebut berubah menjadi Allied Command Operations (ACO) dan Allied Command Transformations (ACT). ACO bertugas membuat perencanaan dan memimpin operasi NATO, sementara CT bertugas mentransformasi kapabilitas militer NATO. NATO juga memiliki 15 agensi, namun hanya ada dua agensi utama, yakni NATO Maintenance and Supply Agency (NAMSA) dan NATO Consultation, Command and Control Agency (NC3A) (Ministère de la Défense, 2013).

Pada era kekinian, NATO lebih berfokus pada keamanan negara anggotanya. Akhir Agustus 2013, NATO menyatakan dukungannya terhadap Turki dan perbatasan negara-negara anggota yang lain dalam meyikapi serangan senjata kimia Suriah. NATO juga mengalami perluasan peran seiring terjadinya tragedi 9/11 dengan mendeklarasikan perang melawan terorisme. NATO mengakui bahwa peacekeeping lebih sulit dibanding peacemaking. Sebagai konsekuensinya, NATO pun berupaya memperkuat aliansinya di seluruh dunia (Amadeo, n.d)

Dari pemaparan di atas, NATO merupakan manifestasi collective security yang terbentuk pada masa Perang Dingin untuk mengkonter kekuatan USSR. Dalam era globalisasi, kini NATO menjadi safeguard dalam menyediakan kebebasan dan keamanan bagi anggotanya melalui sektor politik dan militer. Berdasarkan 2010 Strategic Concept, NATO memfokuskan kegiatannya pada tiga aspek, yakni collective defence, crisis-management, dan cooperative security. Seiring perkembangan dunia, NATO pun mulai menyesuaikan dirinya dengan menambah variabel-variabel yang masih terkait dengan keamanan, misalnya konterisasi terorisme. Dalam mewujudkan peacekeeping dan peacemaking, NATO tidak hanya menggandeng negara, tetapi juga dengan organisasi-organisasi internasional.

 

 

Referensi

Amberly, Kamadeo (n.d) NATO [www] Available from: http://useconomy.about.com/od/internationalorganizations/p/NATO.htm [Accessed 28/11/13]

History Learning Site (n.d) NATO [WWW] Available from: http://www.historylearningsite.co.uk/nato.htm [Accessed 28/11/13]

Ministère de la Défense (2013) NATO Organization [WWW] Available from: http://www.defense.gouv.fr/english/das/international-relations/nato/nato-organization/nato-organization [Accessed 28/11/13]

NATO (n.d) A short history of NATO [WWW] Available from: http://www.nato.int/history/nato-history.html [Accessed 28/11/13]

__________ (n.d) What is NATO? [WWW] Available from: http://www.nato.int/nato-welcome/index.html [Accessed 28/11/13]

US Department of State (n.d) North Atlantic Treaty Organization (NATO), 1949 [WWW] Available from: http://history.state.gov/milestones/1945-1952/nato [Accessed 28/11/13]

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.125