NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

LIGA BANGSA-BANGSA: MASA PEMBENTUKAN, SEPAK TERJANG, HINGGA KEGAGALANNYA

13 March 2014 - dalam Organisasi Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Perang Dunia I merupakan perang yang menimbulkan destruksi masif bagi negara-negara yang terlibat di dalamnya. Keprihatinan dan trauma akibat perang membuat Presiden AS saat itu, Woodrow Wilson, berkeinginan untuk membentuk sebuah organisasi yang ditugaskan untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia, serta mencegah meletusnya perang. Melalui pidato Fourteen Points di depan Kongres AS pada 8 Januari 1918, Wilson menyerukan pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (LBB). LBB pun akhirnya berhasil berdiri melalui Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919. Keinginan Wilson ini merupakan manifestasi upayanya untuk menyebarkan nilai-nilai demokrasi liberal ke Eropa dan seluruh dunia. Wilson berpendapat bahwa ketika demokrasi liberal tumbuh, maka pemerintahan otokrasi di Eropa yang gemar berperang pun bisa direduksi dan digantikan dengan pemerintahan yang lebih damai. Ia juga menambahkan bahwa pembentukan organisasi internasional akan mampu memberi landasan konstitusional bagi negara-negara untuk menjalin relasi. Dapat dilihat di sini bahwa demokrasi liberal diidentikkan Wilson memiliki kedekatan dengan perdamaian (Jackson & Sorensen, 1999).

LBB memiliki karakteristik yang membedakannya dengan organisasi lain berdasarkan tujuannya. Pertama, LBB berupaya menjaga perdamaian dunia melalui aksi kolektif negara-negara anggotanya. Perselisihan atau konflik yang terjadi akan diteruskan kepada Dewan Liga untuk proses arbitrase dan konsiliasi. Dalam proses tersebut, penggunaan sanksi militer ataupun ekonomi sangat dimungkinkan. Hal ini berarti bahwa sesama anggota akan saling menjaga atau membela anggota lain dari agresi. Kedua, LBB juga memiliki tujuan untuk mempromosikan kerjasama internasional dalam bidang ekonomi dan sosial (United Nations, 2000). Dalam menjalankan aktivitasnya, dasar hukum yang dipakai pijakan adalah Kovenan LBB yang berbunyi: “In order to promote international cooperation and to achieve international peace and security by the acceptance of obligations not to resort to war, by the prescription of open, just and honourable relations between nations, by the firm establishment of the understandings of international law as the actual rule of conduct among Governments, and by the maintenance of justice and a scrupulous respect for all treaty obligations in the dealings of organised peoples with one another, Agree to this Covenant of the League of Nations." (United Nations, 2000)

Pada tahun 1920, LBB beranggotakan 42 negara. Antusiasme negara-negara untuk masuk dalam keanggotaan LBB pun kian meningkat. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah anggota LBB menjadi 58 anggota di tahun 1934 dan 1935. Anggota LBB tersebar di seluruh dunia, yakni sebagian besar Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin. Pada saat itu, hampir seluruh kawasan Afrika sedang mengalami kolonialisasi Barat. Fakta yang cukup menggelitik adalah AS tidak tergabung dalam keanggotaan LBB, karena mayoritas anggota Senat menolak untuk meratifikasi piagam Liga. Hal itu tentu sangat mengherankan, mengingat pencetus LBB adalah Wilson yang notabene Presiden AS (Richard, n.d). Setiap keputusan yang dihasilkan dalam LBB selalu berpijak pada pasal-pasal yang termaktub dalam Kovenan. Ketika terjadi konflik, langkah atau keputusan yang ditempuh LBB berdasar Kovenan ada tiga macam. Pertama, menyeru negara-negara yang terlibat konflik untuk duduk dan mendiskusikan masalah mereka dengan kepala dingin, tertib, dan damai. Langkah ini ditempuh di Majelis Liga, dimana ia mendengarkan perselisihan yang terjadi dan memutuskan kelanjutannya. Kedua, jika negara-negara yang berkonflik tadi gagal atau tidak mau mendengarkan keputusan Majelis, Liga bisa menjatuhkan sanksi ekonomi kepada negara agresor. Ketiga, jika sanksi ekonomi gagal, terpaksa Liga menjatuhkan sanksi fisik dengan mengandalkan kekuatan militer (History Learning Site, n.d).

Terkait manajerial keuangan, Kovenan Liga tidak membahas persoalan anggaran dan finansial secara implisit. Namun dalam klausul Article VI terdapat distribusi beban dan menjadi referensi kausal dalam Article XVIV yang memberdayakan Council untuk “menjadi bagian dari pengeluaran Secretariat dari setiap biro atau komisi yang ditempatkan di bawah arahan Liga” (Singer, 1959: 256). Struktur kelembagaan LBB terbagi dalam tiga badan mayor, yakni Assembly, Council, dan Secretariat. Assembly terdiri dari representatif semua negara, dimana mereka mengadakan pertemuan tahunan  untuk membahas prioritas dan budget organisasi. Council terdiri dari empat anggota permanen –Britania Raya, Perancis, Italia, dan Jepang− dan sejumlah anggota nonpermanen yang dipilih oleh anggota permanen setiap tiga tahun sekali. Sementara Secretariat yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal bertugas untuk memonitor agensi kemanusiaan yang ada di dalam LBB, dimana agensi ini fungsi untuk membantu pengungsi, mengakhiri perbudakan dan perdagangan obat terlarang, memberi financial assistance dan pertimbangan/nasehat bagi negara-negara, dan sejumlah aksi kemanusiaan lainnya (Richard, n.d).

Dalam perjalanannya, LBB dinilai mampu menyelesaikan sejumlah konflik, diantaranya konflik Aaland Islands (1921), Upper Silesia (1921), Memel (1923), Turki (1923), dan Yunani serta Bulgaria (1925). Pada tataran sosial, LBB memiliki kontribusi sebagai pendahulu WHO dalam hal mencegah malnutrisi dan penyakit seperti kusta maupun malaria, mempromosikan pelestarian budaya dan kemajuan dan ilmu pengetahuan –pendahulu UNESCO−, membangun transportasi dan jaringan komunikasi yang lebih baik, mengelola Permanent Court of International Justice yang merupakan embrio dari Mahkamah Internasional, dan lain sebagainya (Richard, n.d). Namun, keberhasilan di atas tidak serta-merta membuat LBB berjaya. Absennya militer dalam LBB telah membuat organisasi ini tidak mampu menegakkan aturannya secara tegas. LBB juga tidak berjalan maksimal akibat kurangnya kontribusi anggotanya untuk menegakkan aturan, dimana para anggota tidak bersedia untuk menjatuhkan sanksi ekonomi atau militer, mengingat sanksi moral saja tidaklah cukup (United Nations, 2000).

Liga ini tidak lagi kuat setelah Big Powers memutuskan untuk keluar. Misalnya AS yang tidak pernah bergabung, Jerman yang hanya menjadi anggota selama tujuh tahun saja dari tahun 1926 dan USSR yang hanya lima tahun semenjak 1934, begitu juga dengan Jepang dan Italia yang mengundurkan diri di tahun 1930an. LBB kemudian bergantung pada Inggris dan Perancis yang kurang capable dalam memutuskan secara tegas. Hal ini membuat pemerintah Liga semakin kesulitan dalam menjalankan tugasnya (United Nations, 2000). LBB juga dinilai tidak mampu mencegah meletusnya sejumlah peristiwa penting yang menyebabkan Perang Dunia II, misalnya invasi Italia ke Ethiopia (1935), aneksasi Jerman ke Sudetenland dan Austria, dan invasi Jepang ke Manchuria (1932). Kegagalan ini merupakan bentuk ketidakmampuan LBB untuk menjalankan pasal 11 dalam Kovenan yang berbunyi “Any war of threat of war is a matter of concern to the whole League and the League shall take action that may safe guard peace." LBB pun akhirnya bubar pada tahun 1946 dan digantikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (History Learning Site, n.d).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembentukan LBB pasca Perang Dunia I didasari atas keinginan untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Dalam perjalanannya, memang LBB telah menghasilkan sejumlah pencapaian penting. Namun, ketidakberdayaan LBB untuk mencegah Perang Dunia II telah membuat kiprahnya semakin menurun dan akhirnya membuatnya terpaksa dibubarkan. Ketidakefektivan LBB juga terlihat saat organisasi ini tidak memiliki kekuatan militernya sendiri, sehingga penegakan aturan pun tidak maksimal. Hengkangnya Big Powers dari keanggotaan Liga juga semakin mengkerdilkan kekuatan LBB sendiri. Masih bernaungnya Inggris dan Perancis dalam LBB tidak membuat organisasi ini bisa bertahan, mengingat kedua negara ini tidak memiliki kapabilitas yang cukup untuk menghasilkan keputusan yang bijak dan tepat.

 

Referensi

Buku

Jackson, R, & Sorensen, G. (1999) Introduction of International Relation, Oxford University Press.

Web

History Learning Site (n.d) League of Nations [WWW] Available from: http://www.historylearningsite.co.uk/leagueofnations.htm [Accessed 09/10/13].

Richard, Katherine Schulz (n.d) The League of Nations [WWW] Available from: http://geography.about.com/od/politicalgeography/a/The-League-Of-Nations.htm [Accessed 09/10/13].

United Nations (2000) The predecessor: The League of Nations [WWW] Available from: http://www.un.org/cyberschoolbus/unintro/unintro3.htm [Accessed 09/10/13].

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.126