NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

TERORISME: DEFINISI, TRANSFORMASI, DAN MASA DEPANNYA

13 March 2014 - dalam Politik dan Keamanan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Oleh: Nurlaili Azizah - 071112001

Trigger adanya ancaman terhadap keamanan internasional dimulai saat terjadinya tragedi 9/11. Tragedi ini menewaskan lebih dari 3000 orang dan menyebabkan duka cita mendalam bagi warga AS. Sejak saat itu, dunia mulai sadar bahwa ancaman keamanan yang mereka hadapi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Negara-negara di dunia mulai membuka mata bahwa mereka tengah dihadapkan pada kejahatan internasional bentuk baru dengan aktor yang tidak jelas. Berbeda dengan ancaman keamanan dahulu yang berwujud okupasi atau serangan militer oleh suatu negara, ancaman keamanan kontemporer melibatkan aktor nonnegara dengan kapabilitas destruktif yang tidak kalah tinggi dibanding serangan oleh negara. Terorisme pun menjadi musuh dunia, mengingat AS sebagai pihak yang menjadi ‘korban utama’ adalah aktor yang berpengaruh dalam konstelasi perpolitikan dan perekonomian global. Sejatinya terminologi ‘terorisme’ telah digunakan sejak abad 17 khususnya pada era Revolusi Perancis 1789, namun terminologi ini mulai ramai diperbincangkan saat terjadinya tragedi 9/11.

Terorisme merupakan manifestasi konflik asimetris dengan pelaku yang terorganisir dan bersifat rahasia. Sifat terorisme yang rahasia dan organisasi teroris yang kecil membuat negara dihadapkan pada lawan yang tidak jelas, sehingga negara sulit untuk mempertahankan diri maupun mencegah aksi teror (Anon, n.d). Berdasarkan US Code bab 113B, karakteristik terorisme internasional ada tiga. Pertama, terorisme melibatkan tindakan kekerasan dan membahayakan kehidupan manusia, dimana tindakan ini bertentangan dengan hukum federal maupun negara. Kedua, tujuan terorisme adalah untuk mengintimidasi atau melukai warga sipil; mempengaruhi kebijakan dan perilaku pemerintah melalui tindakan koersif; atau mempengaruhi penyelenggaraan pemerintahan melalui pemusnahan massal, pembunuhan, penculikan, dan sebagainya. Ketiga, terjadi di luar yurisdiksi AS atau melampaui batas-batas internasional (FBI, n.d). Sementara Departemen Pertahanan AS mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan yang melanggar hukum untuk menyebarkan ketakutan, yang dimaksudkan untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat terkait pengejaran tujuan dalam bidang politik, agama, maupun ideologi. Melalui definisi ini, terdapat tiga elemen kunci terorisme −kejahatan, ketakutan, dan intimidasi− yang kemudian menghasilkan teror kepada para korbannya (Anon, n.d). Definisi terorisme menurut Departemen Luar Negeri AS adalah penggunaan kekerasan terencana yang bermotif politis terhadap target nonkombatan melalui kelompok subnasional atau agen rahasia, yang dimaksudkan untuk mempengaruhi khalayak (Anon, n.d). Definisi terorisme berbeda-beda menurut para pakar, namun penulis memandang bahwa tindakan terorisme digambarkan sebagai upaya menyebarkan ketakutan bagi warga sipil dengan tujuan mengancam stabilitas keamanan negara melalui cara-cara kekerasan dan destruktif.

Ancaman terorisme yang begitu masif membuat negara-negara membentuk hukum untuk menjaga keamanannya. Di sejumlah negara, terorisme telah dikategorikan sebagai tindak kriminal dan negara berhak untuk mencegah, menangkap, dan menghukum aksi terorisme demi menyelamatkan warga negaranya dan untuk menjaga stabilitas domestiknya. Upaya preventif untuk membendung terorisme juga dilakukan dengan cara pengawasan terhadap tersangka terorisme, penolakan visa terhadap pihak yang dianggap memiliki afiliasi dengan organisasi teroris, dan mengimplementasikan kebijakan war on terrorism (Golder & Williams, 2004). Selain langkah di atas, sejarah telah menunjukkan adanya beragam respon dalam menyikapi terorisme, yakni penggunaan kekuatan dan kekerasan, negosiasi, dan konvensi internasional.  Penggunaan kekuatan dan kekerasan dalam melawan terorisme termanifestasikan dalam aksi militer AS melawan Taliban di Afghanistan yang diduga menjadi sarang Al-Qaeda. Penggunaan kekuatan merupakan tit-for-tat-strategy yang berupaya menghalangi kemampuan teroris untuk beroperasi (USIP, n.d: 18). Negosiasi merupakan metode kedua untuk mengatasi terorisme. Sementara negara-negara mungkin menolak secara terbuka untuk bernegosiasi dengan kelompok teroris, mereka mungkin melakukan strategi rahasia. Misalnya adalah negosiasi yang berlangsung antara African National Congress (ANC) dan pemerintahan apartheid Afrika Selatan. ANC telah dilarang karena diharamkan sebagai organisasi teroris, dan pemerintah tidak bersedia bernegosiasi dengan ANC. Namun ternyata negosiasi berlangsung di balik layar yang mengakibatkan berakhirnya apartheid di Afrika Selatan (USIP, n.d: 18). Upaya ketiga adalah dengan melakukan perjanjian internasional. PBB sebagai organisasi internasional pun berupaya mendorong negara anggotanya untuk mengatasi terorisme, salah satunya melalui UN Security Council anti-terrorism resolution 1373.

Pergerakan terorisme mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jonathan Matusitz (2012) mengkategorikan terorisme ke dalam tiga tipe berdasarkan waktunya, yakni terorisme klasik, modern, dan postmodern. Pertama, terorisme klasik yang memiliki sejumlah ciri khas, antara lain direct act, target dan korban yang spesifik, bermotif politis tertentu, dan mengakibatkan efek destruktif yang rendah. Kedua, terorisme modern yang berfokus pada undirect act, menargetkan banyak korban, dan menimbulkan efek destruktif yang masif. Terakhir, terorisme postmodern yang bertujuan untuk mendestruksi musuh sebanyak-banyaknya dan melenyapkan sumber konflik melalui penggunaan senjata kimia, biologis, bahkan senjata nuklir (Matusitz, 2012).

Terorisme diprediksi masih akan terjadi, mengingat terorisme ini terus beradaptasi dengan dunia modern untuk memenuhi tantangan dari bentuk-bentuk yang muncul dari konflik, dan selalu memanfaatkan perkembangan teknologi dan masyarakat. Terorisme telah menunjukkan peningkatan kemampuan untuk beradaptasi dengan langkah-langkah counterterrorism dan kegagalan politik. Teroris sedang mengembangkan kemampuan serangan baru dan meningkatkan efisiensi metode yang ada. Selain itu, kelompok teroris telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam melarikan diri dari subordinate role dalam konflik negara-bangsa, dan menjadi aktor yang cukup krusial dalam mempengaruhi konstelasi internasional. Para teroris pun menjadi lebih terintegrasi dengan entitas sub-negara yang lain, misalnya organisasi kriminal dan perusahaan yang terlegitimasi, dan secara bertahap akan mengambil peran dan kontrol pemerintah nasional (Anon, n.d).

Dari pemaparan di atas, penulis memandang bahwa terorisme menimbulkan ancaman serius bagi keamanan internasional. Terorisme juga berkontribusi dalam mengubah pandangan negara-negara mengenai ancaman keamanan, dimana terorisme merupakan bentuk baru kejahatan kontemporer dengan aktor nonnegara yang bertujuan untuk menggoyang pemerintahan suatu negara. Terorisme mulai menjadi fokus para scholar pasca terjadinya tragedi 9/11 yang berimplikasi dijadikannya teroris sebagai musuh utama dunia. Semua negara mengerahkan segenap kemampuannya demi melindungi keamanan negaranya dan berupaya berperan aktif untuk memerangi aksi terorisme. Kerjasama antarnegara pun ditingkatkan demi meminimalisasi ruang gerak teroris. Perang global melawan terorisme memang masih jauh dari kata selesai, karena teroris-teroris di dunia saling berkoneksi dan akan selalu melakukan kaderisasi.

Referensi

Anon (n.d) Future Trends in Terrorism [WWW] Available from: http://www.terrorism-research.com/future/ [Accessed 24/1/2/13]

Anon (n.d) What is Terrorism? [WWW] Available from: http://www.terrorism-research.com/ [Accessed 24/1/2/13]

FBI (n.d) Definitions of Terrorism in the U.S Code [WWW] Available from: http://www.fbi.gov/about-us/investigate/terrorism/terrorism-definition [Accessed 24/1/2/13]

Golder, Ben dan George Williams. 2004. What is 'terorism'? Problem of Legal Definition. Dalam UNSW Law Journal, Volume 27 (2)

Matusitz, Jonathan (2012) Terrorism and Communication [WWW] Available from: www.sagepub.com/upm-data/51172_ch_1.pdf [Accessed 24/1/2/13]

United States Institution of Peace (n.d) Teaching Guide on International Terrorism: Definitions, Causes, and Responses. [WWW] Available from:  www.usip.org/sites/default/files/resources/terrorism.pdf [Accessed 24/1/2/13]

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.077