NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

RELASI KEAMANAN NASIONAL TERHADAP KEAMANAN REGIONAL DAN GLOBAL

13 March 2014 - dalam Politik dan Keamanan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Oleh: Nurlaili Azizah - 071112001

Pasca tragedi 9/11, AS gencar menggaungkan war on terrorism dengan alasan bahwa terorisme adalah ancaman bagi keamanan nasional maupun internasional. Hal inilah yang mengakibatkannya melakukan sejumlah invasi seperti di Iraq dan Afghanistan dengan dalih memberantas terorisme. Masalah terorisme nyatanya memang tidak hanya mengancam keamanan satu negara saja, tetapi membahayakan pula bagi dunia internasional pada umumnya. Fenomena insekuritas negara hegemon seperti AS ini pun berimplikasi pada timbulnya insekuritas internasional.

Hegemon memang selalu ada dalam percaturan internasional, karena tidak bisa dipungkiri bahwa dunia terbagi menjadi dua kubu, yakni negara-negara dengan power yang besar dan negara-negara less power. Dominasi hegemon dalam konstelasi internasional mulai terlihat beberapa atau bahkan puluhan tahun silam dengan hadirnya negara-negara besar seperti AS, Inggris, dan Perancis. Kemunculan hegemon ini akibat kepemilikan power yang besar terkait sektor ekonomi, politik, militer, dan lain sebagainya. Tidak selamanya keberadaan hegemon mampu menjaga stabilitas internasional, kerap muncul challenger yang menginginkan posisi sebagai hegemon. Adanya perebutan posisi sebagai hegemon ini turut berimplikasi pada perubahan polaritas kekuatan dalam politik internasional. Layne (1993: 34) mengungkapkan bahwa menjadi hegemon memiliki konsekuensi logis yakni biaya yang tidak sedikit, mengingat banyak pihak yang menginginkan posisi sebagai hegemon dan hegemon pun perlu meningkatkan powernya agar statusnya tidak digantikan oleh siapapun. Oleh karena itu, dalam mempertahankan status quo, negara hegemon pun akan rela mengeluarkan banyak biaya demi melindungi keamanannya dari pihak-pihak yang menginginkan kejatuhannya, misalnya dengan memperkuat sektor militer (Layne, 1993: 34). Negara hegemon juga memiliki kewajiban moral untuk memberi bantuan materiil negara lain yang less power, sehingga bisa dilihat bahwa hegemon juga berperan sebagai patron ekonomi. Kondisi ini termanifestasikan pada upaya AS untuk maintaining status quo dengan cara menjadi patron moneter internasional di masa Bretton Wood System.

Keberadaan hegemon dengan kekuatan yang terlalu masif tidak selalu berimplikasi pada semakin unipolarnya kekuatan yang ada di dunia, karena terdapat kecenderungan bahwa terdapat balancer bagi negara hegemon. Hal inilah yang diyakini Neorealis (Waltz, 1991: 669). Runtuhnya USSR pasca Perang Dingin yang kemudian menempatkan AS sebagai pemenang Perang Dingin sempat membuat kekuatan dunia menjadi unipolar. Namun posisi AS kini bukan lagi menjadi satu-satunya kekuatan, mengingat kini globalisasi telah berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi banyak negara melalui perdagangan global maupun investasi yang mengakibatkan munculnya kekuatan-kekuatan baru dalam sektor perekonomian. Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berbeda-beda juga telah menciptakan lahirnya redistribusi kekuatan dalam sistem internasional (Giplin, 1981: 13). Pada gilirannya negara yang memiliki modalitas ekonomi yang tinggi berkeinginan untuk memperkuat militernya demi mereduksi ancaman keamanan internasional. Selain itu, negara-negara tersebut akan meningkatkan perannya secara masif dalam kasus-kasus internasional terutama berkaitan dengan upaya untuk menjaga dan mengamankan aset-aset ekonominya yang berada di luar negaranya. Masivitas kekuatan suatu negara yang kian meningkat seperti di atas berdampak pada timbulnya security dilemma negara lain, mengingat asumsi Neorealis yang meyakini bahwa tiap negara akan selalu concern pada perubahan posisi kekuatan relatif dalam sistem internasional yang anarki (Layne, 1993: 111-2). Perubahan kekuatan dalam sektor ekonomi maupun militer yang terjadi pada suatu negara akan secara otomatis melahirkan kekhawatiran adanya ancaman bagi negara lain. Ketika ekonomi dan militer suatu negara meningkat, maka negara lain khawatir kekuatan tersebut digunakan sebagai instrumen untuk menyerang mereka. Oleh sebab itu tidak ada pilihan lain selain ikut memperkuat kapabilitas militer untuk mereduksi ancaman keamanan tersebut.

Dinamika keamanan nasional yang bisa mempengaruhi keamanan regional maupun global dapat dilihat dari upaya AS melakukan war on terrorism pasca tragedi 9/11. Pasca tragedi ini, AS yang didukung oleh Piagam NATO, memimpin sebuah koalisi ad hoc untuk memerangi organisasi teroris dengan jangkauan global. AS gencar melakukan inspeksi ke Timur Tengah yang dicurigai sebagai sarang teroris. PBB pun tidak mampu mencegah AS untuk tidak memerangi Afghanistan (Hendrickson, 2002: 2). AS pun menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan rezim Taliban, yang dicurigai menyediakan tempat berlindung untuk Osama bin Laden dan organisasi Al-Qaeda. Afghanistan juga dicurigai sebagai basis pelatihan dan kampanye teror global melawan AS dan sekutu. Upaya AS ini mau tidak mau membuat negara lain melakukan tindakan yang sama. Banyak negara yang menangkap teroris dan sekutunya dengan cara mengultimatum pembekuan aset. Sebagai hegemon, AS memiliki bargaining position yang tinggi yang membuatnya mampu bekerja unilateral untuk mengimplementasikan semua kebijakannya. Hal ini bisa dilihat dari invasi AS ke Iraq, padahal kebijakan tersebut tidak mendapat dukungan dari PBB maupun NATO (Hendrickson, 2002: 5).

Dari pemaparan di atas, penulis memandang bahwa keamanan nasional suatu negara mampu berimplikasi pada keamanan regional maupun global. Hal ini linier dengan asumsi Neorealis yang meyakini bahwa setiap perubahan kebijakan keamanan nasional suatu negara akan mampu memunculkan security dilemma, dimana asumsi ini telah menunjukkan bagaimana kebijakan keamanan nasional mampu membawa dampak yang sedikit atau banyak bagi keamanan regional maupun internasional. Peran AS yang signifikan dalam mempengaruhi keamanan internasional dan global dapat dilihat dari kebijakan war on terrorism yang mengakibatkan AS menginvasi Afghanistan dan Iraq, serta membuat banyak negara mengikuti jejak AS dalam upaya pemberantasan terorisme. Kasus pengembangan nuklir Iran juga bisa merepresentasikan bagaimana krusialnya kebijakan keamanan suatu negara mampu membawa dampak yang luar biasa bagi negara lain. Negara-negara seperti AS dan Israel mengalami security dilemma terkait pengembangan nuklir Iran, yang mengakibatkan mereka selalu berupaya untuk menghadang program nuklir Iran melalui sanksi embargo ekonomi. Keamanan pun menjadi sangat krusial dan semua negara pasti tidak menginginkan keamanan negaranya terancam.

Referensi:

Gilpin, Robert. 1981. War and Change in World Politics. Cambridge: Cambridge University Press

Hendrickson,  David. 2002. Toward Universal Empire: The Dangerous Quest for Absolute Security. Kansas :  World Policy Journal. Fall, 19. 3

Layne, Christopher. 1993. “The Unipolar Illusion: Why New Great Power Will Rise”, International Security 17 (4): 5-51

Waltz, Kenneth N. 1991. America as a Model for the World? a Foreign Policy Perspectives.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.714