NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PERANG: DEFINISI KONVENSIONAL DAN KONTEMPORER

30 September 2013 - dalam Politik dan Keamanan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

PERANG: DEFINISI KONVENSIONAL DAN KONTEMPORER

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Konflik yang berujung peperangan memang telah mendestruksi kehidupan manusia dan alam. Sejarah mencatat bahwa peperangan-peperangan yang terjadi di dunia terbukti telah mengalami pergeseran dari masa ke masa, tidak hanya mengalami perluasan aktor, tetapi juga mengalami perubahan dari segi tujuan, metode, bentuk pendanaan, dan sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai redefinisi perang dan alasan dibolehkannya memerangi negara lain.

Perang konvensional atau tradisional didefinisikan sebagai perang yang tidak hanya melibatkan penggunaan kapabilitas –misalnya industri manufaktur, peralatan teknologi− oleh militer. Lebih dari itu, perang konvensional melibatkan komponen ide masyarakat untuk berperang, yang mencakup pemikiran doktrinal, struktur organisasi, regulasi penyerangan, dan tujuan yang tepat dari penggunaan kekerasan (Payne, 2012). Perang ini lebih merujuk kepada perang terbuka, melibatkan persenjataan, dan konflik yang terjadi kerap berkepanjangan, yang disponsori oleh bangsa, negara, ataupun pihak lain demi mencapai kepentingan politik (The Watson Institute for International Studies, n.d). Secara sederhana, perang tradisional ini melibatkan lima aspek, yakni serangan, durasi, outcome politik atau militer, eskalasi korban, dan strategi perang. Dalam perang konvensional berskala internasional, unit analisisnya adalah serangan yang terjadi antar dua negara atau lebih dengan memperhatikan ambang batas intensitas untuk mengkalkulasi serangan perang.  Terdapat sejumlah teori yang berhubungan dengan perang konvensional berskala internasional, antara lain 1) power/material constraints and preferences; 2) balance of power theory; 3) power transition theory; 4) democratic peace theory; dan sebagainya (Wolff, n.d)

Dalam definisi perang konvensional di atas, faktor-faktor determinan kontemporer seperti globalisasi, terorisme, kemajuan teknologi militer, dan teknologi komunikasi yang mengarah ke pluralisasi pelaku perang, perpindahan kekerasan, dan peningkatan target terhadap warga sipil, masih belum menjadi perhatian utama. Perang konvensional juga bersifat state-centric dan berfokus pada pencapaian kepentingan politik, di samping itu perang ini mengabaikan komponen sosial dan lebih menitikberatkan pada peningkatan kebutuhan untuk organisasi rasional dan doktrin ilmiah untuk mengelola konglomerasi kekuatan yang besar (The Watson Institute for International Studies, n.d). Legitimasi untuk mengeluarkan deklarasi perang dan melakukan kekerasan peperangan dipegang oleh negara sebagai entitas tertinggi. Pada abad 19 dan 20, negara berdaulat mengendalikan kekuatan tentara dan personil berlisensi demi memonopoli penggunaan kekerasan yang sah. Penggunaan kekerasan hanya bisa dikeluarkan oleh negara sebagai aktor yang terlegitimasi (The Watson Institute for International Studies, n.d).

Perang konvensional kini telah mengalami pergeseran menjadi perang kontemporer. Penyebab perang pun bergeser, yang dulunya karena ekspansi geopolitik, nasionalisme militeristik, dan kekhawatiran ideologis, menjadi konflik memperebutkan sumber daya dan identitas (The Watson Institute for International Studies, n.d). Politik identitas digadang-gadang sebagai penyebab perang di Bosnia, Rwanda, dan Sudan. Sejumlah sumber konflik sepert perebutan air, minyak, berlian, dan berbagai produk pertanian dianggap sebagai faktor determinan terjadinya pemberontakan publik atas harga air yang terlampau tinggi di Bosnia, perang antara gang yang saling bersaing terkait operasi pencurian minyak di Nigeria, dan meningkatnya tensi ketegangan di area water-stressed di China Utara dan Afrika. Fenomena globalisasi, terorisme, kemajuan persenjataan, dan teknologi komunikasi pun semakin memperbanyak aktor-aktor yang terlibat perang, perpindahan kekerasan, dan peningkatan target terhadap warga sipil (The Watson Institute for International Studies, n.d).

Globalisasi menjadi sebuah kendaraan ampuh untuk mentransformasi bentuk-bentuk kekerasan, dimana keberlanjutan angkatan bersenjata didanai melalui pengiriman uang, penggalangan dana diaspora, bantuan pemerintah eksternal, dan pengalihan bantuan kemanusiaan internasional. Perang kontemporer atau perang jenis baru dilakukan bukan dengan menyerang negara lain secara terbuka, namun merusak kondisi sosial negara tersebut, misalnya merusak perekonomian, menyebarkan pengungsi, perdagangan ilegal, dan sejumlah invisible conflict lainnya (Shaw, n.d). Clausewitz, salah satu filsuf perang ternama, menyatakan bahwa perang merupakan kelanjutan dari politik melalui cara lain (Arquilla, 2009). Ia juga menambahkan bahwa perang memiliki kecenderungan inheren untuk mengalami eskalasi, berbasis pada trinitas –negara, tentara, dan publik−, dan mencapai puncaknya pada pertempuran desisif. Pendapat Clausewitz ini dipandang sebagai trigger perang kontemporer, karena merefleksikan distingsi utama dari modernitas; yakni publik dan swasta, ekonomi dan politik, internal dan eksternal, sipil dan militer, kombatan dan nonkombatan (Shaw, n.d). Kaldor (2013) mengusulkan empat perbedaan perang kontemporer dan perang konvensional yang dilihat dari aktor, tujuan, metode, dan bentuk pendanaan.

Pertama, dari segi aktor. Dalam perang konvensional, angkatan bersenjatalah yang diberi tugas oleh negara untuk terlibat perang. Sedangkan dalam perang kontemporer, peperangan dilakukan oleh berbagai kombinasi jaringan state maupun nonstate actors, antara lain angkatan bersenjata reguler, kontraktor keamanan swasta, tentara bayaran, jihadis, panglima perang, dan sebagainya (Kaldor, 2013). Kedua, dari segi tujuan. Jika perang konvensional dilakukan untuk kepentingan geopolitik maupun ideologi, perang kontemporer dilakukan atas nama identitas (etnis, agama, atau suku). Tujuannya adalah demi mendapatkan akses ke negara untuk kelompok-kelompok tertentu (lokal maupun transnasional) daripada untuk melaksanakan kebijakan terkait kepentingan publik yang lebih luas. Ketiga, dari segi metode. Metode perang konvensional identik dengan pertempuran secara nyata dengan merebut teritori melalui cara-cara militer. Namun dalam perang kontemporer, tidak terjadi pertempuran secara nyata dan perebutan teritori dilakukan dengan cara-cara politik melalui kontrol populasi. Mayoritas kekerasan ditujukan kepada masyarakat sipil demi mengendalikan teritori dibanding melawan kekuatan musuh secara langsung (Kaldor, 2013). Terakhir, dari segi bentuk pendanaan. Perang konvensional didanai oleh negara melalui pajak dan pendanaan dari patron. Perekonomian pada masa perang konvensional bersifat sentralisasi, autarkis, dan memobilisasi penduduk. Perang kontemporer merupakan bagian dari perekonomain global yang terbuka dan terdesentralisasi, sehingga pendanaan perang ini tergantung pada berlanjutnya kekerasan karena partisipasi pendanaan yang minim (Kaldor, 2013).

Thomas Aquinas (1225-1274) mengemukakan Just War Theory, sebuah teori yang menjustifikasi negara untuk mengeluarkan deklarasi perang terhadap negara lain dan aktivitas yang diijinkan dalam perang (Internet Encyclopedia of Philosophy, 2009). Terdapat dua elemen dalam teori tersebut, yakni jus ad bellum dan jus in bello. Jus ad bellum merupakan kondisi dimana penggunaan kekuatan militer dijustifikasi dan jus in bello adalah cara untuk berperang dengan sikap etis (BBC, 2013). Tiga kriteria dalam dalam Just War Theory menurut Aquinas adalah perang dilakukan oleh otoritas yang sah, memiliki tujuan yang benar, dan memiliki niat yang tepat (Anon, n.d). Namun sebelum direvisi oleh Aquinas, prinsip-prinsip Just War Theory berdasarkan pemikiran Saint Agustine antara lain: jalan terakhir, otoritas yang sah, just cause, probabilitas kesuksesan, niat yang benar, proporsionalitas, dan korban sipil.

Sebuah perang hanya boleh dilancarkan ketika penggunaan semua opsi damai dianggap tidak membuahkan hasil, sehingga jalan terakhir yang bisa ditempuh hanya dengan menggunakan kekuatan. Perang juga hanya bisa dilakukan oleh pemerintah dengan otoritas yang sah dan dilakukan sebagai respon dari kesalahan pihak lain. Mempertahankan diri dari serangan merupakan bagian dari perang yang adil, namun perlu diingat bahwa esensi perang adalah memperbaiki luka yang ditimbulkannya (Anon, n.d). Sebelum terjun ke medan perang, sebuah negara harus mengetahui probabilitas bahwa ia akan menang, sehingga ia tidak akan terlibat dalam perang yang sia-sia. Tujuan utama perang sejatinya adalah untuk membangun kembali perdamaian, sehingga tujuan penggunaan kekuatan tersebut haruslah keadilan. Dalam berperang, proporsionalitas menjadi aspek krusial, yang berarti bahwa negara-negara pelaku perang harus menggunakan kekuatan militer secara proporsional sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Aspek terakhir, penggunaan kekuatan sudah sepatutnya tidak diarahkan pada warga sipil. Kematian warga sipil hanya dibenarkan saat mereka menjadi korban ketidaksengajaan dari serangan militer terhadap sasaran strategis (Anon, n.d).

Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa perang konvensional yang state-centric telah mengalami pergeseran menuju perang kontemporer yang melibatkan multiaktor. Pergeseran ini memang tidak membuat perang di masa kontemporer menjadi perang yang benar-benar baru, namun terdapat redefinisi dan perubahan komponen pada perang tersebut. Globalisasi yang membawa kemajuan teknologi militer dan komunikasi juga turut ambil bagian dalam pergeseran definisi perang di masa kini, dengan melahirkan isu-isu konflik dan bentuk kekerasan yang lebih beragam. Perang di masa kini bukan hanya soal memperebutkan wilayah atau mempertahankan ideologi, namun lebih kepada perebutan sumber daya dan identitas. Perang sejatinya merupakan sesuatu yang tidak diinginkan untuk terjadi. Namun, perang diperbolehkan untuk dilakukan selama memiliki tiga kriteria, yakni dilakukan otoritas yang sah, memiliki tujuan yang benar, dan memiliki niat yang tepat.

 

Referensi

Artikel

Arquilla, John (2009) “Realities of War: global development, growing destructiveness and the coming of a new Dark Age?”, Third World Quaterly, 30: 1, 69-80.

Web

ANONYMOUS (n.d) Just-War Theory [WWW] Available from: http://www.mtholyoke.edu/~jasingle/justwar.html [Accessed 30/09/13]

BBC (2013) Just War – introduction [WWW] Available from: http://www.bbc.co.uk/ethics/war/just/introduction.shtml [Accessed 30/09/13]

INTERNET ENCYCLOPEDIA OF PHILOSOPHY (2009) Just War Theory [WWW] Available from: http://www.iep.utm.edu/justwar/ [Accessed 30/09/13]

KALDOR, MARY (2013) In Defence of New Wars [WWW] Available from: http://www.stabilityjournal.org/article/view/sta.at/41 [Accessed 30/09/13]

PAYNE, KENNETH (2012) What is Conventional Warfare? [WWW] Available from: http://kingsofwar.org.uk/2012/01/what-is-conventional-warfare/ [Accessed 30/09/13]

SHAW, MARTIN (n.d) The contemporary mode of warfare? [WWW] Available from: http://www.sussex.ac.uk/Users/hafa3/kaldor.htm [Accessed 30/09/13]

THE WATSON INSTITUTE FOR INTERNATIONAL STUDIES (n.d) Warfare [WWW] Available from: http://www.watsoninstitute.org/gs/Security_Matrix/warfare.htm [Accessed 30/09/13]

WOLFF, STEFAN (n.d) International Conventional War Research [WWW] Available from: http://www.stefanwolff.com/files/War%20Research.pdf [Accessed 30/09/13]

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.680