NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PERSPEKTIF DAN LEVEL ANALISIS: KUNCI DALAM MEMAHAMI POLITIK LUAR NEGERI

26 September 2013 - dalam Perbandingan Politik Luar Negeri Oleh nurlaili-azizah-fisip11

PERSPEKTIF DAN LEVEL ANALISIS: KUNCI DALAM MEMAHAMI POLITIK LUAR NEGERI

 Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Studi mengenai Politik Luar Negeri memang sangat korelatif dengan studi Hubungan Internasional. Esensi dari studi Hubungan Internasional sendiri terdiri dari lima aspek utama, yakni aktor, interaksi, power, interest, dan identity. Dari sini bisa dilihat bahwa studi Hubungan Internasional mengkaji bagaimana aktor-aktor saling berinteraksi satu sama lain dengan menggunakan power yang dimilikinya demi mengejar interest mereka. Aktor dalam hal ini adalah negara bangsa yang berdaulat. Kepentingan yang berusaha dicapai inilah yang akan membentuk identitas aktor-aktor tersebut. Dalam upaya mewujudkan kepentingannya, para aktor memiliki grand strategy yang berisi rancangan kebijakan yang ingin diaplikasikan kepada aktor lain. Hal inilah yang menjadi fokus kajian studi Politik Luar Negeri, yakni bagaimana menganalisis pola, sifat, maupun jenis politik luar negeri tersebut berdasarkan proses dan tujuan formulasinya. Sehingga dapat diketahui bahwa keduanya memang saling berhubungan, dilihat dari variabel interest yang sama-sama menjadi variabel khas dalam kedua studi ini.

Terdapat sejumlah perspektif yang menjelaskan subjek analisis Politik Luar Negeri. Pertama, realisme, yang berpijak pada tiga asumsi utama, yakni grupisme, egoisme, dan power-centrism. Dalam grupisme, individu yang berusaha untuk survive membutuhkan kohesi yang disediakan oleh solidaritas grup, meskipun kohesi intragrup menciptakan potensialitas konflik dengan grup yang lain (Wohlforth, 2008: 32). Egoisme berkaitan dengan hasrat individu yang selalu ingin mengejar kepentingannya tanpa memperhatikan kepentingan individu lain. Egoisme ini merupakan human nature, namun bisa saja berubah menjadi sikap altruistik dalam keadaan tertentu. Power-centrism mengindikasikan aspek power sebagai fitur politik yang paling fundamental dan berperan esensial. Kunci politik dalam area manapun adalah interaksi antara power sosial dan material, yang mengindikasikan penggunaan power material untuk tujuan koersif. Dalam perspektif realisme, yang mendapat perhatian terkait politik luar negeri adalah grup yang memiliki power yang paling besar (major power seperti AS atau China); siapa saja yang termasuk kelompok kepentingan; dan peran power yang terlibat dalam clash of interest yang terjadi (Wohlforth, 2008: 33).

Kedua, perspektif liberalisme yang menitikberatkan pada kebebasan individu. Liberalisme sangat concern pada kebebasan moral, hak, dan institusi. Tiga kunci utama bentuk hubungan luar negeri dalam pandangan liberal antara lain representatif (elected legislative, separation of powers, dan rule of law), penghormatan terhadap hak nondiskriminasi, dan ketergantungan sosial maupun ekonomi. Dalam proses politik luar negeri, baik masyarakat maupun elit, keduanya dipersatukan dalam seperangkat nilai dan elitlah yang mengatur kebijakan. Namun, bagi anggota nonliberal akan cenderung tidak memilih kebijakan antiliberal mengingat skeptisisme mereka bahwa kebijakan antiliberal akan ditopang oleh mayoritas publik dalam pemilihan yang akan datang (Doyle, 2008: 61). Ketiga, konstrukivis yang berfokus menggambarkan kepentingan/motif aktor dalam memformulasikan politik luar negeri, aspek internal yang mendasarinya, dan konstruksi sosial yang terbentuk terkait implementasi politik luar negeri tersebut (Checkel, 2008: 76).

Dalam memahami perilaku negara terkait politik luar negeri yang diimplementasikannya, dibutuhkan beberapa level analisis. Scholars memandang level analisis ini sebagai upaya memahami bagaimana negara berperilaku, mengambil keputusan terkait formulasi politik luar negerinya, dan faktor-faktor yang menjadi pijakan dalam formulasi politik luar negeri tersebut. Terdapat sejumlah level analisis yang kerap digunakan dalam Hubungan Internasional, antara lain level sistem, negara, organisasi, dan individu.

Level analisis pertama adalah level sistem −mengkaji sistem internasional. Level ini menjelaskan bahwa sistem internasional adalah penyebab dan perilaku negara adalah efeknya. Sistem internasional yang berubah akan berimplikasi pula pada perubahan perilaku negara. Dalam masyarakat internasional, yang menjadi variabel kuncinya adalah power yang dimiliki negara dalam sebuah sistem (Newmann, n.d). Masyarakat internasional dipandang sebagai level masyarakat dengan komprehensivitas tertinggi, yang di dalam sistem maupun lingkungannya mencakup totalitas interaksi (Singer, 1961: 80). Dengan berfokus pada analisis level sistemik, memungkinkan ilmuwan untuk menguji hubungan internasional dalam kacamata yang holistik dengan komprehensivitas tinggi. Model system-oriented ini cenderung sukar, karena kerap mengarahkan ilmuwan untuk melebih-lebihkan dampak dari sistem terhadap aktor nasional dan sebaliknya mereduksi dampak dari aktor yang ada dalam sistem. Level analisis ini mengharuskan peneliti mendalilkan homogenitas tingkat tinggi mengenai kode operasional politik luar negeri yang dilakukan oleh aktor nasional (Singer, 1961: 81). Berdasarkan tesis tersebut, ilmuwan selayaknya memberi ruang yang sedikit bagi timbulnya perbedaan dalam berperilaku ketika ia fokus pada keseluruhan. Misalnya adalah perilaku negara-negara saat Perang Dingin dipengaruhi oleh fakta bahwa AS dan USSR merupakan negara dengan power terkuat dalam sistem bipolar.

Level analisis kedua adalah negara aktor utama hubungan internasional. Level analisis ini mengkaji bagaimana perilku politik luar negeri negara dalam hal karakteristik negara. Misalnya adalah perilaku politik luar negeri yang ternyata dipengaruhi oleh karakteristik budaya, tradisi agama maupun sosial, atau bisa juga sifat ekonomi dan geografis negara yang bersangkutan (Newmann, n.d). Level analisis ini menyuguhkan keuntungan yakni mengijinkan adanya diferensiasi yang signifikan diantara aktor-aktor dalam sistem internasional –tidak memerlukan atribut homogenitas bagi aktor nasional. Hal ini berimplikasi pada diijinkannya ilmuwan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai aktivitas aktor-aktor tersebut (Singer, 1961: 83). Ketika perilaku aktor tersebut dieksplorasi lebih mendalam, maka akan memudahkan ilmuwan untuk membuat generalisasi yang valid dan bersifat komparatif. Meskipun demikian, model analisis ini tidak menjanjikan untuk menghasilkan model yang canggih untuk studi Perbandingan Politik Luar Negeri.

Level analisis ketiga adalah organisasi –mengkaji bagaimana organisasi dalam sebuah negara mempengaruhi perilaku politik luar negeri negara tersebut. Dalam hal ini, organisasi melakukan bargaining satu sama lain untuk merumuskan politik luar negeri, karena negara tidak mengeluarkan keputusan atau kebijakannya terkait politik luar negeri. Organisasi-organisasi yang saling bersaing inipun menghasilkan kompromi. Misalnya adalah menjelaskan perang Irak dengan cara mengkaji kepentingan militer, departemen luar negeri, departemen pertahanan, dan badan intelijen pusat yang dimiliki AS (Newmann, n.d). Level analisis terakhir adalah individu –berfokus pada individu sebagai decision maker. Misalnya adalah menjelaskan Perang Dunia II dengan mengkaji peran Hitler, ataupun menjelaskan reformasi ekonomi di China sebagai implikasi dari transisi kepemimpinan Mao Zedong menuju Deng Xiaoping. Teori kognitif juga merupakan bagian dari level analisis ini, yang berupaya menjelaskan politik luar negeri sebuah negara berdasarkan cara pandang pemimpinnya dalam mengkonstruksi dunia (Newmann, n.d).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa studi Hubungan Internasional berhubungan erat dengan studi Politik Luar Negeri, mengingat teori dan perspektif  dalam Hubungan Internasional banyak digunakan untuk mengkaji politik luar negeri suatu negara. Dalam memahami perilaku politik luar negeri negara, dibutuhkan suatu alat, yakni level analisis yang memudahkan bagaimana negara mengambil kebijakan terkait politik luar negerinya dan faktor apa saja yang menjadi determinannya. Menurut penulis, perspektif dan level analisis yang ada merupakan kunci utama dalam memahami politik luar negeri dan mampu mensimplifikasi kompleksitas masalah terkait politik luar negeri. Masing-masing perspektif dan level analisis memiliki cara pandang yang beragam, namun memiliki tujuan yang sama, yakni sebagai alat untuk memahami bagaimana politik luar negeri diputuskan dan apa yang menjadi pijakannya. Melalui perspektif dan level analisis ini pula, politik luar negeri mampu dipandang secara spesifik dan komprehensif.

 

Referensi

Artikel

Checkel, Jeffrey (2008). “Constructivism and foreign policy” in, Steve Smith, Amelia Hadfield & Tim Dunne, Foreign Policy, Theories . Actors . Cases. Oxford; pp. 71-82.

Doyle, Michael W. (2008). “Liberalism and foreign policy” in, Steve Smith, Amelia Hadfield & Tim Dunne, Foreign Policy, Theories . Actors . Cases. Oxford; pp. 49-70.

Singer, J. David (1961). “The Level-of-Analysis Problem in International Relations”, World Politics, 14(1); pp.77-92.

Wohlforth, William C. (2008). “Realism and foreign policy” in, Steve Smith, Amelia Hadfield & Tim Dunne, Foreign Policy, Theories . Actors . Cases. Oxford; pp. 31-48.

Web

NEWMAN, BILL (n.d) A Brief Introduction on International Relations and Foreign Policy [WWW] Available from: http://www.people.vcu.edu/~wnewmann/468theory.htm [Accessed 26/09/13]

 

 

 

 



Read More | Respon : 1 komentar

1 Komentar

arini

pada : 15 November 2013


"tambahkan lagi lebih banyak kunci-kunci sukses..!!!"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.072