NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

INTERFAITH DIALOGUE (week 12)

07 June 2013 - dalam Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan Fundamentalisme Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Pentingnya Dialog antar Agama dalam Mewujudkan Masyarakat Dunia yang Toleran

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Pasca terjadinya tragedi 9/11, nasib muslim di AS dipertaruhkan. Sempat dituduh sebagai agama teroris, kehidupan muslim di AS mengalami babak baru. Dialog antar agama menjadi kian dibutuhkan di tengah globalisasi demi menjembatani perbedaan ideologis dalam tatanan masyarakat modern yang diwarnai multiple identities dan pluralisme agama (Mandour, 2010: 886). Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, sehingga tidak ada alasan untuk mempermasalahkan perbedaan tersebut. Pentingnya hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain pun menjadi sebuah keniscayaan.

Dalam memperjuangkan perdamaian seperti di atas, antar agama butuh untuk bertemu dan duduk bersama, berbicara dan mengenal satu sama lain, menemukan kesamaan dan menghormati perbedaan dan hak pribadi mereka (Mandour, 2010: 886). Inilah yang dinamakan dengan interfaith dialogue atau dialog antar agama. Sulayman Nyang dalam artikel Liyakatali Takim (2004) yang bertajuk “From Conversion to Conversation: Interfaith Dialogue in Post 9-11 America” juga mendefinisikan dialog antar agama sebagai sebuah proses dimana anggota dari dua komunitas agama saling berupaya menjembatani kelompok masing-masing terkait perbedaan keyakinan, ritual, dan pola perilaku (Takim, 2004: 345).

Dialog antar agama  memungkinkan untuk menampung semua aspirasi yang terlibat. Dialog juga membuka cakrawala wawasan dan pemahaman mengenai bagaimana orang lain mendefinisikan diri mereka sendiri dan dan menantang lawan bicaranya untuk bertumbuh melalui imannya sendiri melalui sharing experience (Takim, 2004: 347). Dalam hal ini perubahan paradigma dibutuhkan. Maksudnya pemikiran-pemikiran seperti meremehkan agama lain dan pemikiran-pemikiran negatif lainnya harus dihilangkan dan memposisikan diri sebagai individu yang setara dengan individu lain.

Dalam membangun dialog antar agama, dibutuhkan beberapa aspek untuk membangun kepercayaan antar pihak. Pertama, aspek pengakuan dan dasar kesetaraan. Dalam hal ini, harus ada pengakuan dari masyarakat  lain berdasarkan equality. Pengakuan dan kepercayaan merupakan aspek yang paling fundamental. Sesama pemeluk agama harus memiliki kedua aspek ini, karena jika tidak ada kepercayaan maupun pengakuan, maka dialog yang damai tidak akan bisa dibangun. Kedua, saling menghormati. Sesama pihak harus saling menghormati yang lain, bersama dengan agamanya, keyakinan, kepercayaan, adat istiadat, tradisi, peradaban dan karakteristik budaya, dan setiap hal yang melekat pada individu tersebut (Mandour, 2010: 888). Saling menghormati bukan berarti selalu setuju dengan orang lain, namun terdapat kemauan dari masing-masing pihak untuk mendengarkan yang lain dan menerima kritik. Ketiga, dialog antara dua pihak. Melalui dialog, masing-masing pihak dapat memahami posisi, kondisi, keyakinan, dan karakteristik peradaban yang lain. Dialog juga memberi ruang untuk mengoreksi prasangka dan kesalahpahaman dari kedua belah pihak. Kedua belah pihak juga memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi kesamaan keduanya dalam peradaban, budaya, dan sejarah yang dapat digunakan untuk kepentingan keduanya (Mandour, 2010: 889). Keempat, toleransi. Dialog yang dilakukan bertujuan untuk membangun toleransi,  mempromosikan hidup berdampingan secara damai, dan mengkonsolidasikan akar atau nilai kerjasama. Terakhir, joint cooperation. Toleransi yang diusung antar pihak yang terlibat akan berimplikasi pada timbulnya kepercayaan untuk saling bekerjasama (Mandour, 2010: 889).

Terdapat sejumlah upaya untuk menjadikan dialog antar agama ini mengemuka di ranah domestik hingga internasional. Contoh yang paling kentara adalah Mesir. Mesir kerap terlibat dalam dialog di tingkat internasional. Pada tahun 1998, Mesir menandatangani perjanjian dialog lintas agama antara Universitas Al-Azhar dan Vatikan, dan mengadakan perjanjian yang sama pada tahun 2002, ketika Mesir menandatangani perjanjian dialog lintas agama antara Al-Azhar dan Gereja Inggris (Mandour, 2010: 891). Di tingkat regional, Mesir juga terlibat dalam konferensi dialog antar agama di Makkah, Arab Saudi, pada tahun 2007. Sedangkan di tingkat nasional, Mesir menggelar konferensi pada tahun 2009 yang berfokus pada perdamaian, keadilan, dan perlawanan terhadap ekstremisme (Mandour, 2010: 892).

Perdamaian dunia dapat dicapai jika semua pihak saling berkonsolidasi, mulai dari tingkat elit, pemerintah, dan masyarakat sipil. Tugas ini juga harus melibatkan politisi, decision-maker, tokoh masyarakat, dan yang paling krusial adalah tingkat akar rumput (Mandour, 2010: 886). Sudah waktunya pihak yang mendukung dan memahami pentingnya hidup berdampingan antar pemeluk agama yang berbeda bangkit dan menunjukkan aksinya, tentu saja dengan sokongan dari semua lapisan masyarakat. Kebangkitan kelompok semacam ini sangat penting untuk mencegah konflik yang dilatarbelakangi perbedaan agama.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dialog antar agama sangat penting demi menciptakan kehidupan antarumat beragama yang harmonis dan toleran. Tujuan yang sangat mulia ini diharapkan dapat mereduksi atau bahkan meredam potensi konflik antar umat beragama. Melalui dialog antar agama ini, umat beragama satu dengan umat beragama yang lain memiliki kesempatan untuk saling memahami keyakinan masing-masing, menemukan kesamaan, dan menghormati perbedaan diantara mereka. Dialog antar agama ini juga berperan untuk mereduksi clash of civilization yang terjadi antara dunia Islam dan Barat. Dialog ini sejatinya ingin menyadarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan perbedaan, sehingga tidak ada alasan bagi manusia menjadikan perbedaan ini sebagai justifikasi untuk menyakiti agama lain.

Referensi:

Takim, Liyakatali, 2004. From Conversion to Conversation: Interfaith Dialogue in Post 9-11 America. The Muslim World, Vol. 94, pp. 343-355.

Tayseir M. Mandour. 2010. Islam and Religious Freedom: Role of Interfaith Dialogue in Promoting Global Peace. Brigham Yong University Law Review.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.682