NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

FUNDAMENTALISME AGAMA DALAM PERPOLITIKAN GLOBAL PASCA 9/11 (week 11)

31 May 2013 - dalam Kosmopolitanisme, Nasionalisme, dan Fundamentalisme Oleh nurlaili-azizah-fisip11

FUNDAMENTALISME AGAMA DALAM PERPOLITIKAN GLOBAL PASCA 9/11

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

11 Desember 2001 adalah salah satu tragedi memilukan yang melanda AS. Kala itu Menara Kembar WTC dan Pentagon di AS ditabrak oleh empat pesawat penumpang komersial yang dicurigai sebagai anggota Al-Qaeda. Tragedi ini menewaskan 3000 orang dan meninggalkan duka cita mendalam bagi warga AS. Pasca kejadian tersebut, George W. Bush yang kala itu tengah menjabat sebagai presiden, mengeluarkan kebijakan untuk memerangi teroris dan mengajak negara-negara untuk bergabung dengan mereka. Jika negara-negara tersebut menolak, maka mereka dianggap sama dengan teroris dan akan diperangi. Fundamentalisme agama tidak hanya merujuk pada satu agama yakni Islam saja, namun terdapat sejumlah fundamentalisme agama serupa dalam Kristen, Yahudi, dan sebagainya. Fundamentalisme agama merupakan manifestasi perlawanan terhadap modernitas dan konsumerisme yang diusung Barat (Beary, 2009: 29). Fundamentalisme agama yang dipandang sebagai keyakinan kuat terhadap interpretasi kitab suci dan keinginan untuk memurnikan ajaran agama, terjadi di sejumlah negara. Fundamentalisme Islam pernah muncul di kawasan Pakistan, Afghanistan, dan Palestina, serta bangsa Eropa. Di AS juga sempat muncul fundamentalisme Kristen yang menginginkan pemberlakuan ajaran bible pada semua aspek kehidupan, baik aspek publik maupun pribadi (Beary, 2009: 29). Fundamentalisme muncul pertama kali dalam konflik internal antara Protestan Amerika pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Terdapat pertentangan internal antara dua kubu dalam Protestan, yakni kubu modernis atau liberal yang berpandangan bahwa pengikut Protestan harus mengadaptasi ilmu pengetahuan melawan kubu tradisional atau konservatif yang tetap berpegang teguh pada ajaran bible (Barkun, 2003: 57). Pandangan anti-modernis termanifestasikan dalam seperangkat pamflet yang dipublikasikan tahun 1910 dan 1915 yang berjudul The Fundamentals. Selanjutnya istilah fundamentalisme pun digunakan pengikutnya sebagai istilah antitesis dari modernis. Pada pertengahan 1920an, kubu fundamentalis ini kalah dan modernis pun memegang kontrol. Pasca kejadian ini, kubu fundamentalis pun mendirikan institusi mereka sendiri (Barkun, 2003: 57-58). Modernitas dianggap sebagai musuh utama fundamentalisme agama. Modernitas mengakibatkan banyak terjadi penyimpangan kehidupan dimana manusia sudah tidak taat pada nilai agama yang dianut. Fundamentalisme agama menganggap bahwa modernitas mengancam nilai-nilai luhur agama yang berimplikasi pada kerusakan moral. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah bukti. Misalnya adalah didirikannya Muslim Brotherhood di Mesir oleh Sayyid Qutb. Pendirian organisasi ini berdasarkan keprihatinan Qutb yang menjumpai sexual permissiveness dan konsumerisme di AS pada tahun 1948 (Beary, 2009: 36). Dalam akunnya, Goldberg, seorang jurnalis, mengatakan bahwa fundamentalisme Islam membenci mayoritas yang berasal dari Barat – sexual openness, seni, dan kemungkinan menjauhkan diri dari keluarga untuk menciptakan kehidupan sendiri. Kebencian serupa juga ditunjukkan oleh nasionalis Kristiani (Beary, 2009: 36). Pasca tragedi WTC, fundamentalisme agama pun mendapat image miring di kalangan dunia internasional. Dalam hal ini fundamentalisme agama kerap diidentikkan dengan terorisme. Dalam artikelnya yang bertajuk “Religious Violence and the Myth of Fundamentalism”, Michael Barkun (2003) mengungkapkan bahwa fundamentalisme hendaknya tidak diasosiasikan dengan kekerasan, apalagi terorisme, karena hal ini belum tentu benar dan kerap merupakan aksi pelabelan yang ditujukan untuk penghukuman semata (Barkun, 2003: 56). Hubungan antara fundamentalisme dengan kekerasan juga masih menuai perdebatan. Banyaknya korban yang jatuh akibat tragedi WTC menyadarkan masyarakat internasional bahwa ekstrimisme sangat mengancam keamanan dunia internasional. Kesadaran ini mendorong masyarakat internasional untuk menjadikan fundamentalisme agama sebagai salah satu diskursus utama dalam perpolitikan global. Terorisme agama, dipandang Mark Juergensmeyer sebagai performance violence, dimana para teroris menginginkan agar aksi kejahatannya dilihat dan disaksikan publik (Barkun, 2003: 62). Aksi teror ini bertujuan untuk menimbulkan rasa takut kepada korbannya. Radwan Masmoudi, Presiden Center for the Study of Islam and Democracy di Washington D.C mengungkapkan bahwa pada Gallup Poll terakhir, lebih dari 85% muslim mengaku tidak memiliki niat untuk memaksakan pandangan mereka kepada orang lain, karena mereka berpegang pada ajaran agama mereka untuk menghormati agama maupun pandangan orang lain (Masmoudi, 2009 dalam Beary, 2009: 49). Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat sudah memiliki kesadaran bahwa penghormatan terhadap keyakinan orang lain adalah hal yang harus dipegang teguh. Kelompok ekstremis yang radikal seperti Al-Qaeda dan Taliban dipandang hanya merepresentasikan kepentingan minoritas dari fundamentalisme Islam. Mereka tidak mencerminkan opini mayoritas diantara kelompok berbasis agama yang menginginkan kehidupan masyarakat yang damai (Masmoudi, 2009 dalam Beary, 2009: 49). Dalam perpolitikan global mendatang, isu mengenai fundamentalisme agama masih akan mendominasi. Seiring berjalannya modernitas, tentunya kelompok fundamentalis pun tidak akan tinggal diam dan akan terus berupaya melancarkan aksinya untuk mencapai tujuannya. Tesis Huntington mengenai clash of civilization juga masih mewarnai dinamika politik global yang mendikotomikan Barat dengan fundamentalisme Islam. Pergerakan fundamentalis bertujuan untuk purifikasi militan mengenai doktrin agama dan institusi. Tujuan yang lain adalah membentuk kembali perilaku personal, sosial, dan masyarakat sesuai dengan ajaran agama (Barkun, 2003: 59). Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kaum fundamentalis muncul akibat perlawanan terhadap modernitas yang dianggap memiliki andil besar dalam mendestruksi nilai-nilai agama yang berimplikasi pada degradasi moral manusia. Terorisme agama terjadi karena para pelaku teror tidak tepat dalam menafsirkan ajaran agama mereka, sehingga mereka berpikiran bahwa kejahatan yang mereka lakukan adalah bagian dari jihad. Di sini agama berperan sebagai janus face. Di satu sisi ia memberi ajaran kebaikan untuk menuntun kehidupan manusia, namun di sisi lain ia bersifat destruktif jika tidak dipahami dengan benar dan komprehensif. Merebaknya kasus terorisme di sejumlah negara membuat diskursus mengenai fundamentalisme agama menjadi sangat krusial untuk terus dikaji dan dicari solusinya. Isu mengenai fundamentalisme agama juga diprediksi masih akan mewarnai perpolitikan global, karena seiring modernitas yang terus berjalan para fundamentalis akan berupaya untuk mengembangkan aksinya.

 

Referensi:

Barkun, Michael. 2003. “Religious Violence and the Myth of Fundamentalism”. In: Leonard Weinberg and Ami Pedahzur (eds.). Religious Fundamentalism and Political Extremism. Totalitarian Movements and Political Religions, Vol. 4, No. 3, Winter 2003.

Beary, Brian. 2009. Religious Fundamentalism: Does It Lead to Intolerance andnViolence? Global Researcher, Vol. 3, No.2.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.019