NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

DINAMIKA REZIM INTERNASIONAL

28 May 2013 - dalam Rezim-rezim Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

DINAMIKA REZIM INTERNASIONAL

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Rezim merupakan institusi sosial yang bergerak dalam aktivitas-aktivitas isu yang spesifik. Rezim internasional berkaitan dengan aktivitas yang menyangkut kepentingan-kepentingan anggotanya dalam sebuah sistem internasional. Mayoritas aktivitas ini melewati batas-batas yurisdiksi negara yang berdaulat, atau melintasi batas-batas yurisdiksi internasional, bahkan aktivitas yang dilakukan pun berimplikasi langsung pada kepentingan-kepentingan anggota rezim dalam komunitas internasional (Young, 1982: 277). Secara formal, aktor yang menjadi anggota rezim internasional adalah negara yang berdaulat. Namun, dalam hal ini terdapat keterlibatan entitas swasta yang melakukan aturan-aturan dalam rezim.

Rezim internasional merupakan institusi sosial yang kompleks, sehingga pendekatan yang kerap dilakukan adalah melalui pendekatan statis yang mengabstraksikan rezim dari impact of time dan perubahan sosial (Young, 1982: 278). Namun pendekatan statis ini ternyata tidak cukup menghadirkan analisis yang komprehensif. Layaknya institusi internasional yang lain, rezim mengalami pertumbuhan maupun perkembangan dari waktu ke waktu. Hal ini mengindikasikan dibutuhkannya pemikiran mengenaidevelopmental pattern maupun life cycles of regimes (Young, 1982: 278).

Regimes as human artifacts. Young (1982) mengatakan bahwa ciri khas semua institusi sosial, termasuk rezim internasional, adalah konjungsi antara ekspektasi konvergen dan pola perilaku maupun praktik (Young, 1982: 278). Timbulnya keteraturan perilaku kerap menumbuhkan ekspektasi konvergen, dan sebaliknya. Eksistensi konjungsi juga kerap menghasilkan conventionalized behavior atau perilaku yang berbasis pada konvensi sosial yang dikenal, yang mampu mengarahkan pada aksi atau standar perilaku (Young, 1982: 278).

Rezim dipandang sebagai artefak kemanusiaan, dimana ia tidak berarti saat perilaku individual maupun kelompok dalam kemanusiaan tidak hadir (Young, 1982: 279). Hal ini mengindikasikan bahwa rezim merupakan “kepunyaan” dari sistem sosial, bukan sistem alam. Rezim dibentuk sebagai respon dari adanya masalah mengenai koordinasi diantara kelompok manusia dan merupakan produk dari keteraturan perilaku manusia. Rezim internasional juga memiliki implikasi yang substansial terkait pencapaian efisiensi alokasi, keadilan, dan sebagainya (Young, 1982: 280).

Tidak selamanya setiap rezim merefleksikan perilaku semua aktor yang terlibat di dalamnya, dimana terdapat sejumlah aktor di dalamnya yang tidak mampu untuk memberi pengaruhnya secara lebih terhadap rezim tersebut (Young, 1982: 280). Praktik sosial dan ekspektasi konvergen kerap terbukti resisten terhadap perubahan, bahkaan saat keduanya menghasilkan outcomes yang secara luas dipahami sebagai hasil yang tidak diinginkan atau suboptimal (Young, 1982: 280). Rezim bersifat dinamis mengikuti dinamika sosial dan internasional yang berjalan. Rezim mengalami beberapa modifikasi karena menyesuaikan dengan kepentingan untuk menghasilkanoutcome yang efisien dan sama. Perubahan terencana dalam rezim membutuhkan tidak hanya destruksi institusi yang telah ada namun juga koordinasi ekspektasi di area titik fokus yang baru. Dalam upaya memodifikasi maupun mereformasi rezim, terdapat konsekuensi yang mampu memberi efek kekacauan yang tidak bisa diperkirakan oleh mereka yang mempromosikan perubahan spesifik, sehingga selalu ada beberapa risiko bahaya terkait usaha dalam rekayasa sosial tersebut (Young, 1982: 280-281).

Regime formation. Institusi sosial dan konvensi konstituen perilaku merupakan respon terhadap masalah koordinasi atau situasi dimana pencapaian kepentingan didefinisikan dalam perspektif yang sempit yang mengarah pada outcomes yang tidak dikehendaki secara sosial (Young, 1982: 281). Adalah sebuah hal yang krusial mengenai penekanan terhadap karakter normatif konvensi sosial dan keinginan luas para aktor yang terlibat untuk memenuhi kualifikasi institusi sosial. Terdapat empat tipe order dalam rezim internasional, yakni spontaneous orders, negotiated orders,dan imposed orders.

Spontaneous orders bagi Friedrich A. Hayek (1973) merupakan produk dari aksi manusia namun bukan resultan dari desain manusia. Order ini memiliki sejumlah fakta, antara lain tidak melibatkan koordinasi yang sadar diantara partisipan, tidak memerlukan persetujuan eksplisit pada subjek dan calon subjek, dan sangat resisten terhadap upaya pada rekayasa sosial (Hayek dalam Young, 1982: 282). Spontaneous orders juga berkontribusi terhadap kelompok yang besar saat biaya transaksi yang tinggi maupun restriksi formal dalam kebebasan partisipasi individual tidak hadir. Selain itu, spontaneous orders ini menghindarkan akan adanya kebutuhan untuk mengembangkan argumen yang tidak masuk akal mengenai negosiasi maupun artikulasi kontrak sosial (Young, 1982: 283).

Dalam negotiated orders, karakteristik yang dapat dilihat antara lain upaya untuk menyetujui ketentuan mayor secara sadar, persetujuan eksplisit dalam bagian partisipasi individu, dan ekspresi formal terhadap hasil (Young, 1982: 283). Bentuk yang dipakai dalam order ini adalah kontrak konstitusional atau legislative bargains.Kontrak konstitusional melibatkan subjek yang secara langsung terlibat dalam negosiasi relevan. Sebaliknya, legislative bargains terjadi di bawah kondisi dimana subjek dalam rezim tidak berpartisipasi secara langsung namun memiliki perwakilan dalam negosiasi yang dilakukan. Negotiated orders ini kerap terjadi dalam level intenasional (Young, 1982: 283).

Imposed orders dibentuk oleh aktor dominan yang berhasil membuat aktor lain bersedia memenuhi kualifikasi dari order ini melalui serangkaian kombinasi koersif, kooptasi, dan manipulasi insentif (Young, 1982: 284). Aktor hegemon ini mengartikulasikan pengaturan institusional secara terbuka dan eksplisit, serta memaksa aktor subordinat untuk menyesuaikan diri dengan mereka. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan bagi pihak hegemon. Negara-negara yang membantu aktor hegemon ini biasanya ingin mengambil keuntungan pula.  Dapat dilihat disini bahwa elemen penting dalam imposed orders adalah power.

Regime transformation. Rezim internasional bersifat dinamis. Oleh sebab itu, rezim mengalami transformasi secara berkesinambungan dalam merespon dinamika politik, ekonomi, dan sosial. Young (1982) dalam hal ini menggunakan terminologi “transformasi”, yang merujuk pada perubahan signifikan dalam struktur rezim terkait hak dan aturan, karakter mekanisme pilihan sosial, dan sifat dari mekanisme kepatuhan (Young, 1982: 290-291). Terdapat beberapa faktor yang mempengarahi transformasi rezim, antara lain internal contradictions, underlying structures of power, dan exogenous forces.

Internal contradictions dapat mengarahkan rezim pada kegagalan serius dan tekanan untuk melakukan perubahan besar. Kontradiksi semacam ini melibatkan unsur utama dalam rezim dimana terjadi konflik yang tidak bisa dipecahkan dan dicari jalan damainya (Young, 1982: 291). Di sisi lain, kontradiksi ini menunjukkan karakter perkembangan yang kian mendalam dari waktu ke waktu sebagai akibat dari operasi normal rezim. Perspektif ini diadopsi oleh Marxis dalam menganalisis capitalist world orders. Underlying structures of power dalam sistem internasional terjadi saatimposed orders tidak bisa bertahan akibat menurunnya effective power dari aktor hegemon (Young, 1982: 292). Dalam hal ini aktor hegemon gagal memberi kepuasan kepada aktor lain akibat terlalu fokus mencapai kepentingannya sendiri. Exogenous forces yakni tekanan dari luar berarti bahwa perubahan dan perkembangan sosial eksternal dapat menyebabkan perubahan dalam perilaku manusia yang merusak elemen penting dari rezim tersebut (Young, 1982: 294). Perubahan eksternal yang paling dramatis adalah mengenai perubahan di alam dan distribusi teknologi.

Dari pemaparan di atas, rezim merupakan human artifacts dimana ciri khas yang membedakannya adalah konjungsi antara ekspektasi konvergen dengan pola perilaku yang dikenal maupun praktik. Rezim internasional tidak bersifat statis, justru ia bersifat dinamis dalam merespon kondisi politik, ekonomi, dan lingkungan yang terus berubah. Rezim terbentuk melalui tiga order, yakni spontaneous orders, negotiated orders, dan imposed orders. Rezim juga bertransformasi akibat dipengaruhi oleh tiga faktor mayor, yakni internal contradictions, underlying structures of power, danexogenous forces.

 

Referensi:

Oran R. Young, 1982, “Regime Dynamics: The Rise and Fall of International Regimes”, International Organization, Vol. 36, No. 2, International Regimes (Spring, 1982), pp.277-297 dalam http://www.jstor.org/stable/2706523

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.083