NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PANCASILA: IDEOLOGI NASIONAL BANGSA INDONESIA

15 April 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia I: Negara Bangsa dan Struktur Dasar Oleh nurlaili-azizah-fisip11

PANCASILA: IDEOLOGI NASIONAL BANGSA INDONESIA

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Seperti yang kita ketahui, Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia sejak ia resmi dirumuskan tahun 1945. Sebagai sebuah ideologi, selayaknya ia dimaknai dan diimplementasikan sebagai kaidah dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila juga merupakan koridor sekaligus konsensus bersama dalam rangka mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dicita-citakan. Perumusan Pancasila oleh founding fathers menjadi ideologi bangsa ini merupakan sebuah momentum yang luar biasa, di mana bangsa ini telah mampu untuk menemukan identitas nasional maupun kultural sebagai sebuah bangsa. Identitas inilah yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain di dunia. Identitas ini jualah yang menekankan bahwa bangsa Indonesia memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya.

Negara-negara di dunia ini memiliki ideologi-ideologi yang beragam. Jenis-jenis ideologi yang ada itu antara lain liberalisme, radikalisme, konservatisme, sosialisme, dan sebagainya. Pertanyaan yang muncul selanjutnya, mengapa Indonesia menggunakan Pancasila sebagai ideologinya? Ditilik dari sejarahnya, Pancasila merupakan buah pemikiran para founding fathers di masa lalu. Pancasila sebagai ideologi diformulasikan dengan melihat situasi, kondisi, perkembangan, dan kemajuan yang terjadi di dalam masyarakat saat itu. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang diadopsi dari realitas yang berkembang dalam masyarakat.  Dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945, di depan peserta sidang BPUPKI, Soekarno mengemukakan gagasannya mengenai Pancasila. Pancasila tersebut berisi lima sila, yakni kebangsaan, internasionalisme, mufakat/demokrasi, kesejahteraan, dan ketuhanan. Tidak hanya Soekarno saja yang mengemukakan gagasannya mengenai konsep dasar negara saat itu, namun ada juga pemikiran dari beberapa tokoh, yakni Mohammad Yamin dan Mr. Supomo. Lima sila di atas kemudian dimampatkan/diperas sehingga tinggal tiga sila saja, yang kerap disebut Trisila. Trisila ini berisikan tentang socio-nationalisme, socio-democratie, dan ketuhanan. Trisila ini kemudian dimampatkan lagi hingga menjadi Ekasila. Pemerasan ini melahirkan konsep yang mulia, yakni “Gotong Royong”. Menurut Soekarno, gotong royong ini adalah prinsip yang dinamis, dan lebih dinamis dibanding kekeluargaan. Beliau juga mengungkapkan bahwa alangkah luar biasanya negeri ini jika semuanya saling bergotong royong. Bangsa Indonesia memilih Pancasila sebagai ideologinya karena Pancasila merupan ideologi yang paling tepat untuk mereka. Pancasila berisikan pandangan hidup dan nilai-nilai filosofis bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dipandang sesuai dengan iklim kebangsaan Indonesia. Pancasila tidak memihak kepentingan satu golongan saja, namun lebih dari itu, ia mewadahi semua golongan. Ia menghormati segala perbedaan yang terjadi dalam masyarakat. Kehadirannya dipandang mampu mempersatukan bangsa secara politis, dapat merepresentasikan dan memfilter berbagai kepentingan, mengandung pluralisme agama, dan dapat menjamin kebebasan beragama. Oleh karena itu, Pancasila dipilih sebagai ideologi karena karakter yang dikandungnya amat sesuai jika diimplementasikan di tengah kondisi Indonesia yang heterogen.

Tidak dapat dipungkiri, Pancasila memiliki makna yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Ideologi Pancasila memberikan pedoman dan koridor bagaimana seharusnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dijalankan. Kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sudah seharusnya berorientasikan pada sebuah ideologi. Hal ini dikarenakan setiap proses interaksi, apalagi dalam iklim bangsa yang plural dan heterogen sebagaimana Indonesia, dibutuhkan sebuah pedoman dan “penunjuk arah” yang disepakati bersama untuk memberikan arahan agar setiap konflik yang berdasarkan pluralitas dan heterogenitas dapat diminimalisasi, serta bagaimana nilai-nilai dalam ideologi tersebut mengkonstruksikan struktur sosial yang memiliki visi kebangsaan yang sama meski bermula dari heterogenitas kepentingan.

Sejak kemunculannya di era reformasi, Pancasila terus menjadi sasaran kritik. Banyak pihak-pihak yang mulai memperdebatkan keabsahan Pancasila sebagai ideologi negara. Pancasila adalah ideologi sah bangsa ini, sejak diformulasikan pada awal terbentuknya republik ini. Kehadirannya harusnya dimaknai sebagai keinginan dan cita-cita luhur founding fathers untuk memperbaiki, menata, dan menyatukan kondisi bangsa Indonesia yang beragam. Pancasila merupakan pijakan dan pedoman yang tepat dalam memformulasikan bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara yang seharusnya. Namun, ditilik dari sejarahnya, Pancasila justru banyak disalahgunakan oleh para penguasa untuk mempertahankan dan memperkuat kekuasaannya. Posisi Pancasila sebagai ideologi menjadi tidak berarti, karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya banyak yang dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa. Semakin hari dinamika kehidupan masyarakat semakin tinggi, inilah yang menjadi tantangan berat Pancasila agar terus bertahan untuk mengayomi para pengikutnya.

Pancasila adalah ideologi yang fleksibel, ia terbuka dengan perubahan jaman dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut tanpa kehilangan identitas/jati dirinya. Ideologi Pancasila termasuk ideologi yang terbuka bagi kelahiran interpretasi baru. Mengapa dikatakan demikian? Founding fathers menyadari dan mengakui bahwa banyak kekurangan dan keterbatasan pemikiran akan definisi dan analisis mereka tentang ideologi ini. Menurut mereka, keterbatasan ini membuat segala macam definisi dan analisis mereka tentang Pancasila tidak bisa bersifat final dan dapat dipergunakan selamanya. Perkembangan dan kemajuan masyarakat tentunya dapat membuat analisis mereka mengenai Pancasila di masa lampau dapat menjadi kadaluarsa. Oleh sebab itu, dibutuhkan interpretasi dan ide baru dari generasi sekarang dan mendatang untuk memperbaiki serta menyempurnakan pemikiran tentang Pancasila yang sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Pada akhirnya, jika nilai-nilai Pancasila benar-benar diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan hanya dipahami sebagai simbol, maka Indonesia akan mampu melewati segala problematika yang menghadangnya dan mampu membawa dirinya ke arah yang lebih baik.

 

Referensi:

Van der Kroef, Justus M. 1954. "Pantjasila: The National Ideology of the New Indonesia" dalam "Philosophy East and West", vol. 4 no. 3, pp. 225-251.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    273.998