NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

WHAT IS INDONESIA?

15 April 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia I: Negara Bangsa dan Struktur Dasar Oleh nurlaili-azizah-fisip11

WHAT IS INDONESIA?

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Apa itu Indonesia? Pertanyaan sederhana namun cukup krusial. Sebuah pertanyaan menyangkut identitas. Indonesia adalah sebuah negara. Cukupkah sampai disitu saja? Tidak.

Indonesia, salah satu negara republik yang amat kaya akan sumber daya alam dan flora fauna. Posisinya yang strategis juga membuat keberadaannya cukup diperhitungkan di kancah percaturan dunia. Namun, masih banyak yang belum mengetahui asal-usul negara ini. Beberapa tokoh di masa lalu mencoba menginterpretasikan tentang apa itu Indonesia.

Tahun 1850, istilah Indonesia pertama kali muncul. Pencetusnya adalah seorang etnolog Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865). Pertama kali ia menggunakan istilah “Indunesians” untuk mendeskripsikan ras Polinesia berkulit coklat yang menghuni Kepulauan Hindia. Penyebutan Indunesians tersebut didasarkan pada kemiripan kultur yang terjadi di kepulauan Indonesia dan tempat lain pada masa itu. Saat itu, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikel tersebut, Earl mengatakan bahwa sudah saatnya penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu memiliki nama khas, karena nama Hindia sudah tidak lagi koheren dan mengakibatkan kesalahpahaman dengan penyebutan India yang lain. Istilah Indunesians akhirnya dibuang dan diganti dengan Malayunesians. Istilah Indunesians ini akhirnya diadaptasi oleh etnolog Inggris yang lain, yakni John Logan, yang akhirnya diubah menjadi “Indonesia”. Istilah geografis “Indonesia” yang merupakan kependekan dari istilah “Indian Islands” atau “Indian Archipelago”, “Indonesian” dari “Indian Archipelagian” atau “Archipelagic”, dan “Indonesians” untuk ”Indian Archiplegians” atau “Indian Islanders”. Logan adalah orang pertama yang menggunakan istilah “Indonesia” untuk menjelaskan area geografis dari Sumatera hingga Formosa, Taiwan.

Definisi Indonesia menurut Robert Cribb dalam bukunya yang berjudul Historical Dictionary of Indonesia (1992) adalah sebagai berikut: “Negara…yang terdiri dari 13,669 pulau seukuran lapangan tenis atau lebih besar, jumlahnya secara pasti sering berubah akibat sedimentasi dan letusan gunung berapi.” Delapan tahun kemudian, Cribb memperbaharui Historical Dictionary of Indonesia dan mengganti definisi mengenai Indonesia. Ia menulis bahwa Indonesia secara resmi dianggap terdiri dari 17,508 pulau. (Baru-baru ini kehilangan dua pulau lepas pantai Timor Timur, Atauro [Kambing] dan Jaco, angka resminya sekitar 17,506). Angka ini diputuskan pada tahun 1994 dan secara resmi menggantikan angka sebelumnya yakni 13,667 yang ditetapkan tahun 1963. Hanya sekitar 3,000 pulau yang dihuni dan sekitar 6,000 pulau yang secara resmi telah diberi nama, meskipun masih banyak lagi nama lokal yang tidak diakui. Pada realitasnya, jumlah pulau –bagaimana sebuah pulau didefinisikan− dalam konstan fluks.

Donald K. Emmerson mengatakan bahwa ada tiga image Indonesia, antara lain Javanese Empire, warisan Belanda, dan artifak nasionalis. Apakah Indonesia adalah sebuah Javanese Empire? Jika yang dimaksudkan adalah sentralitas Jawa, ya, meskipun secara historikal saingan politis dari Jawa dan percobaan ini dalam devolusi. Tetapi Jawanisme sebagai hegemoni etnoideologis, tidak, meskipun kata-kata mutiara Suharto dan bagaimana budaya Jawanistik Indonesia masih dapat muncul di mata sebagian orang non-Jawa. Modernisasi, Islamisasi, dan sekarang demokrasi telah dibuat tegas dengan cara berbeda.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, apakah Indonesia adalah warisan Belanda? Tentu. Belanda menarik garis di sekitar area yang menjadi celah. Melalui kecanggihan teknologi transportasi dan komunikasi, mereka memulai proses menghubungkan elemen di dalam dan luar ruang. Awalnya, secara tidak sengaja, dan kemudian sedikit lebih sadar selama akhir permainan “kebijakan etis”, mereka membina mobilisasi sosial terbatas, dan menambah anggota baru atas persetujuan anggota lain. Mereka menjadi lawan yang menentang Indonesia. Pada akhirnya, Belanda pergi dengan  meninggalkan  pertanyaan di benaknya, yakni dapatkah sebuah formasi yang memulai kedaulatannya sebagai state-nation menjadi nation-state?

Apakah Indonesia adalah artifak nasionalis? Tentu saja, hal disertai beberapa kesuksesan pula. Contohnya, saat Papua Barat kembali ke pangkuan ibu pertiwi di tahun 1963. Saat itu rasa nasionalisme bangsa kita telah menyebar ke semua lapisan. Tetapi, banyak pemimpin Indonesia yang memiliki minat yang sedikit untuk menutup celah yang berbeda: antara intensitas manuver mereka yang berbahaya di ibukota dan kurangnya upaya pemerintah untuk melibatkan sebagian besar warga Indonesia, secara bersama-sama, mewujudkan bangsa yang lebih bernilai.

Indonesia sedang menempuh proses yang tidak bisa direduksi, bahkan ia merupakan desain kausal yang amat kompleks. Sebuah perubahan membutuhkan lintasan terjal dalam perjalanannya. Setiap prosesnya akan mengantarkan ke sebuah tujuan, yakni kesejahteraan. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib Indonesia di masa depan. Indonesia is unpredictable. Jika Indonesia melihat segala sesuatu dari yang positif, maka ia akan menjadi lebih kuat. Sebaliknya, jika ia tidak mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang menimpanya, ia akan rapuh.

Top of Form

 

Referensi:

Emmerson, Donald K. “What is Indonesia?”, dalam Indonesia : The Great Transition, Maryland : Rowman & Littlefield Publisher. Inc., pp. 7-73

 

Komentar:

Siti Khoriyah (071112013): Di dalam artikel tersebut disebutkan bahwa Indonesia terbentuk sebagai negara terlebih dahulu, kemudian bangsa. Tetapi, melalui Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, menunjukkan bahwa dengan adanya kesatuan bahasa, rakyat Indonesia menunjukkan kesatuannya sebagai bangsa. Ditambah lagi dengan deklarasi resmi Indonesia sebagai negara tanggal 17 Agustus 1945. Dengan begini, membuat kami, mahasiswa, menjadi bingung.

Sofi N.F. (071112068): Sejak terjadinya krisis moneter tahun 1998, Indonesia telah mengalami kemajuan di bidang ekonomi. Namun, kemajuan ekonomi tersebut hanya untuk kalangan atas saja. Rakyat miskin masih sangat banyak. Bagaimana cara Indonesia mengatasinya? Bukankah ekonomi adalah salah satu aspek kemajuan bangsa? Di sisi lain, banyaknya demonstrasi, korupsi, hukum yang lemah, sarana dan prasarana kesehatan serta pendidikan yang kurang memadai. Apakah Indonesia bisa disebut negara gagal atau tidak?

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.701