NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PENDEKATAN REZIM INTERNASIONAL BERBASIS INTEREST, POWER, DAN KNOWLEDGE

15 April 2013 - dalam Rezim-rezim Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11
Pendekatan Rezim Internasional Berbasis Interest, Power, dan Knowledge

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Rezim internasional dewasa ini telah menjadi alternatif bagi negara-negara untuk mencari jalan keluar dari konflik atau isu yang mereka hadapi. Rezim dibentuk, dalam skala regional atau global, untuk menyelesaikan issue-area yang bersifat spesifik dalam politik internasional melalui perilaku self-help (Hasenclever et. al., 2000: 3). Dalam rezim internasional, dikenal tiga major theory, yakni realisme, neoliberalisme, dan kognitivisme. Varian teori tersebut berkaitan dengan model perilaku atau kerap disebut behavioral models  (Young 1989a: 209-13 dalam Hasenclever et. al., 1997: 3), dimana ketiga teori tersebut membangun pondasi pemikiran mereka dengan asumsi mengenai sifat dan motif aktor negara. Sifat dan motif tersebut antara lain power, interest, dan knowledge. Pertama, teori rezim yang berbasiskan power atau sekte realis memiliki ketarkaitan erat dengan hegemoni, distributional conflict, dan relative gains. Negara tidak hanya memusatkan perhatiannya kepada keuntungan absolut, tetapi juga keuntungan relatif, dimana hal ini cenderung merujuk pada tingkat signifikansi kausal dengan institusi internasional. Realis beranggapan bahwa power  tidak hanya dibutuhkan pada saat menghadapi konflik antarbangsa, tetapi  juga dalam sebuah kerjasama (Hasenclever et. al., 1997: 3). Hasenclaver bersama Peter Mayer dan Volker Rittberger (1997) mengemukakan bahwa distribusi power diantara aktor-aktor yang kuat mampu berpengaruh terhadap prospek kemunculan rezim yang efektif dan bertahan dalam sebuah issue-area serta sifat rezim yang dihasilkan, terutama menyangkut sejauh mana manfaat yang dihasilkan dari kerjasama yang terbangun. Kaum realis yang lain menitikberatkan cara dimana pertimbangan power menciptakan hambatan terhadap kerjasama internasional yang kerap mempertanyakan efektivitas rezim internasional (Hasenclever et. al., 1997: 4).

Kedua, teori neoliberalisme yang berbasis pada interest. menekankan peran rezim internasional dalam membantu negara-negara mewujudkan kepentingan bersama. Mereka menggambarkan negara sebagai rational egoists yang hanya peduli pada kepentingan absolut atau kepentingannya sendiri (Hasenclever et. al., 1997: 4). Teori ini berfokus pada teori ekonomi mengenai institusi, yakni pada aspek informasi dan transaksi biaya. Model game theory telah digunakan untuk karakterisasi  berbagai kepentingan yang mendasari berbagai jenis rezim dan juga mempengaruhi kemungkinan suatu rezim yang diciptakan di tempat pertama. Kaum neoliberal dalam pandangannya telah mengkritisi dan menantang rasionalitas skeptisisme realis sebagai lawan  institusi internasional dengan mencoba menunjukkan bahwa skeptisisme ini tidak terjadi pada kenyataanya yang didasarkan pada asumsi realis mengenai sistem negara dan sistem internasional (Hasenclever et. al., 1997: 4).  Dalam interest-based theory ini, perspektif yang diadopsi adalah institusionalis yang sangat meyakini ketangguhan dan efektivitas rezim. Rezim membantu negara (self-interested) untuk mengkoordinasikan dan mengkonsolidasikan perilaku mereka sehingga mereka bisa menghindari hasil kolektif yang kurang optimal, dan negara juga  akan cenderung memelihara rezim bahkan ketika rezim tersebut tidak dibutuhkan lagi. Namun, perlu diingat bahwa institusionalisme yang dianut neoliberal ini dibatasi, hal ini terlihat dalam model pilihan rasional atas dasar teori yang mereka gunakan., dimana model pilihan rasional ini tidak terpengaruh oleh praktek rule-governed atau institusi (Hasenclever et. al., 1997: 4). 

Kritik datang dari kaum realis dan kognitivis. Realis mengatakan bahwa argumen neoliberalis tidak sempurna karena gagal memaknai asumsi realis, khususnya asumsi mengenai dasar motivasi negara untuk tinggal dalam kondisi anarki. Sedangkan kognitivis mengatakan bahwa neoliberalis telah memasukkan unsur-unsur realis dalam teori yang mereka usung, yakni (1) konsep negara sebagai aktor rasional yang atomistik dalam arti bahwa identitas, power, dan kepentingan fundamental mereka lebih diutamakan dibanding masyarakat internasional dan institusinya; (2) pendekatan statis terhadap studi hubungan internasional, yang kurang memenuhi dalam memperhitungkan pembelajaran di tingkat unit dan sejarah di tingkat sistem; dan (3) metodologi positivis yang mencegah penstudi institusi internasional dari aspek pemahaman utama terkait kerja norma-norma sosial (termasuk norma-norma di tingkat antar negara) (Hasenclever et. al., 1997: 5). 

Ketiga, teori berbasis pengetahuan yang diusung oleh kognitivisme yang berfokus kepada asal-usul kepentingan negara, dimana dalam hubungan ini telah menitikberatkan peran kausal serta ide-ide normatif. Kontribusi teori ini yakni dipandang sebagai komplemen mainstream neoliberalis rasionalis dalam analisis rezim, yang mencoba mengisi kekosongan dalam teori yang berbasis interest dengan menambahkan sebuah teori tentang pembentukan preferensi (Hasenclever et. al., 1997: 5). Teori ini disebut pula sebagai “kognitivis lemah”.  Kritik dari beberapa kognitivis yang lebih komprehensif menunjukkan bahwa institusionalisme yang diinformasikan oleh sosiologis daripada perspektif pilihan rasional juga sesuai untuk sistem internasional. Dengan demikian, "kognitivis kuat" telah menunjukkan bahwa teori berbasis interest telah memberikan gambaran terpotong dari sumber ketahanan rezim karena gagal memperhitungkan secara memadai dampak dari praktik terlembaga pada identitas aktor internasional. Setidaknya dalam beberapa situasi, disarankan, negara lebih baik dipahami sebagai pemain peran selain sebagai maksimalisator utilitas. Akibatnya, teori rezim berbasis pengetahuan cenderung merangkul institusionalisme yang jauh lebih jelas daripada yang kita temukan baik dalam neoliberalisme atau realisme (Hasenclever et. al., 1997: 5). 

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga sekte teori yang digunakan untuk menganalisis rezim internasional. Ketiga teori tersebut berfokus pada variabel yang spesifik. Neoliberalisme menekankan pada interest sebagai motif untuk menjalin kerjasama antarnegara dan penciptaan rezim sebagai hal yang harus dipatuhi. Realis menekankanbagaimana kekuasaan dan pertimbangan posisi kekuasaan relatif mempengaruhi konten, dan membatasi efektivitas dan ketahanan dari rezim internasional Hasenclever et. al., 1997: 211). Kognitivis berpandangan bahwa kedua persepsi, interest dan makna dari kapablititas power, tergantung pada kausal dan pengetahuan sosial yang dimiliki aktor.

Referensi:

Hasenclever, Andreas, Mayer, Peter, and Rittberger, Volker. (1997) “Theories of international regimes”, New York: Cambridge University Press.

Hasenclever, Andreas, Peter Mayer, Volker Rittberger, 2000, “Integrating Theories of International Regimes”, Review of International Studies, Vol. 26, No. 1 (Jan., 2000), pp. 3-33 dalam http://www.jstor.org/stable/20097653

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.223