NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PERMINTAAN AKAN REZIM INTERNASIONAL

15 April 2013 - dalam Rezim-rezim Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

PERMINTAAN AKAN REZIM INTERNASIONAL

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Timothy J. McKeown dalam artikel Keohane (1982) yang berjudul “Demand for International Regimes” melancarkan kritiknya terhadap teori stabilitas hegemoni. Teori yang berorientasi pada power yang hegemon dalam pemeliharaan rezim ini dipandang gagal menjelaskan lags antara perubahan dalam struktur power dan perubahan dalam rezim internasional. Teori yang kental dengan realisme ini dipandang tidak memiliki kalkulasi matang terkait ketahanan diferensial dari lembaga yang bervariasi dalam issue-area dan kurang reaktif terhadap pertanyaan mengapa rezim internasional tampak lebih ekstensif dalam politik internasional dewasa ini dibanding masa sebelumnya (akhir abad 19), yakni saat berada dalam pengaruh hegemon (Keohane, 1982: 326). Teori stabilitas hegemoni cenderung berfokus pada supply akan rezim internasional, dimana power hanya terkonsentrasi dalam sistem internasional dan melupakan aspek demand, padahal aspek ini juga penting. Antara supply dengan demand sejatinya tidak bisa dispesifikasi secara independen. Keohane (1982) juga memandang supply dan demand sebagai kiasan dan bukan sebagi usaha untuk menseparasi keduanya (Keohane, 1982: 326-7). Bisa dilihat di sini bahwa Keohane tidak memungkiri pentingnya adanya hemoni dalam sebuah rezim, namun baginya rezim bisa terbentuk tanpa adanya hegemoni. Permintaan akan rezim bisa dianalisis melalui lima aspek.

Systemic constraint-choice analysis. Dalam analisis ini, dikemukakan bahwa anggota dalam rezim kerap memilih bergabung dalam rezim meskipun keuntungan yang mereka terima lebih sedikit dari yang lain karena mereka memiliki kalkulasi sendiri dalam rational choice.

Context and function of international regimes. Berbicara mengenai rezim internasional pasti tidak jauh-jauh dari realisme. Perspektif ini mengatakan bahwa politik internasional berada dalam kondisi anarki, dimana aktor-aktor yang berperan saling bersaing untuk mencapai kepentingannya. Dalam usaha mengejar kepentingan ini, tentunya akan dijumpai clash of interest antara aktor satu dengan yang lainnya, sehingga kerjasama pun sulit diwujudkan. Kemunculan rezim dianggap penting dan sangat berfungsi karena mampu memfasilitasi pembuatan perjanjian yang berujung pada tercapainya kepentingan semua aktor. Keohane (1984) menjelaskan bahwa terdapat kekurangan dari perpolitikan internasional, antara lain tingginya biaya transaksi dan ketidakpastian. Kehadiran rezim sebagai institusi akan sangat berpengaruh karena diyakini dapat memperbaiki kondisi sistem internasional yang anarki dan mampu meningkatkan kerjasama antarnegara.

Elements of demand of international regimes. Rezim berbasiskan elemen-elemen seperti aturan, prinsip, norma, dan prosedur negosiasi yang bisa mereduksi adanya informasi yang tidak sempurna, biaya transaksi yang tinggi, dan ketidakpastian. Elemen-elemen tersebut membuat rezim menjadi alternatif menarik yang dipilih negara untuk menyelesaikan konflik atau isu yang dihadapinya, sehingga permintaan akan rezim pun menjadi meningkat.

Information, communication, and openness. Keohane (1982) secara tersirat pernah mengatakan bahwa kehadiran rezim di tengah dunia internasional adalah dengan memberikan informasi yang lebih baik kepada para decision-maker, sehingga mereduksi kemungkinan adanya unfair bargaining. Komunikasi yang berkualitas dan intensif yang ditawarkan rezim kepada anggotanya tentunya akan mampu mereduksi ketidakpastian dan konsekuensi resiko dari setiap isu yang terjadi. Rezim juga menganut asas transparansi kepada setiap anggota untuk menjamin tercapainya kesepakatan.

Coping with uncertainties. Dinamika internasional yang begitu cepat berubah membuat efek ketidakpastian kian meningkat. Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya rezim demi meminimalisir efek ketidakpastian tersebut. Kadangkala dalam rezim unsur ketidakpastian juga masih ada, khususnya mengenai konsistensi aktor dalam pemeliharaan rezim. Rezim dipandang sebagai upaya untuk mengontrol anggotanya melalui seperangkat aturan yang terlembaga yang berimbas pada kepatuhan anggota terhadap rezim tersebut. Jika aktor telah mematuhi rezim, maka bahaya yang datang dari luar bisa diatasi dan mereduksi tingkat ketidakpastian yang berasal dari aktivitas yang tidak terkoordinasi.

Dari pemaparan di atas, teori stabilitas hegemoni mendapat kritik karena dipandang hanya berfokus pada aspek supply saja dan melupakan demand. Lima analisis mengenai permintaan akan rezim yang disuguhkan Keohane di atas adalah manifestasi dalam memandang rezim secara berimbang. Rezim dipandang sebagai salah satu alternatif dalam penyelesaian isu antarnegara karena kelebihan-kelebihan yang ditawarkannya, seperti yang diungkapkan Keohane di atas. Rezim memuat aturan, prinsip, norma, dan prosedur yang memudahkan tercapainya kesepakatan dengan mereduksi ketidakpastian akibat dinamika internasional yang terjadi serta menawarkan informasi, komunikasi, dan keterbukaan yang lebih baik kepada para decision-maker.

 

Referensi:

Keohane, Robert O. (1982). “The Demand for International Regimes”. Dalam Stephen D. Krasner (ed.), International Regimes, Hal. 325-355.. Cambridge University Press.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.087