NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

INTEGRASI TEORI REZIM INTERNASIONAL

15 April 2013 - dalam Rezim-rezim Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

INTEGRASI TEORI REZIM INTERNASIONAL

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Selama beberapa dekade, rezim internasional telah mewarnai diskursus hubungan internasional. Rezim internasional dipandang sebagai major type dari institusi internasional  Rezim dibentuk, dalam skala regional atau global, untuk menyelesaikan issue-area yang bersifat spesifik dalam politik internasional melalui perilaku self-help (Hasenclever et al., 2000: 3). Melalui penciptaan ekspektasi yang sama mengenai perilaku yang tepat dan peningkatan level transparansi dalam issue-area, rezim diharapkan dapat membantu negara dan aktor-aktor terkait untuk saling bekerjasama demi keuntungan bersama yang dimanifestasikan dalam peningkatan kesejahteraan atau keamanan. Dalam studi rezim internasional, terdapat tiga teori major, yakni neoliberalisme, realisme, dan kognitivisme. Neoliberalisme menekankan analisisnya pada konstelasi interest, realisme pada hubungan power antarbangsa, dan kognitivisme pada perilaku aktor dan pengetahuan sosial (Hasenclever et al., 2000: 5). Ketiga teori tersebut menunjukkan rivalitas yang tajam dan pandangan berbeda mengenai asal-muasal, stabilitas, dan konsekuensi atas rezim internasional.

Dalam artikelnya yang berjudul “Hegemonic Cooperation in the Postwar Era”, Robert O. Keohane (2005) mengungkapkan bahwa dalam kerjasama internasional, negara hegemon tidak perlu ada. Negara hegemon yang otomatis menjadi dominan tidak diperlukan karena tanpa kehadiran mereka pun kerjasama oleh institusi-institusi internasional dimungkinkan dapat terjadi. Pasca Perang Dunia II, Keohane membagi perspektif mengenai kerjasama internasional menjadi dua, yakni liberalisme dan realisme. Liberalisme beranggapan bahwa motif yang mendasari adanya kerjasama internasional pasca Perang Dunia II adalah akibat adanya kepentingan kolektif yang berbasiskan interdependensi ekonomi (Keohane, 2005: 139). Perang telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, dari mulai kehilangan harta hingga nyawa. Untuk mengatasi kerugian tersebut, khususnya dalam ranah ekonomi, negara saling bekerjasama melalui pembentukan sebuah rezim yang diharapkan dapat mereduksi timbulnya free rider. Negara-negara yang kekuatan ekonominya paling gemilang pasca perang misalnya Jerman dan Jepang. Kedua negara tersebut berusaha mencukupi perekonomian domestiknya secara mandiri dan mereduksi anggaran perang (Jackson & Sorensen, 2005: 148). Sebaliknya, mereka memilih berdagang dengan pendistribusian tenaga kerja internasional yang intensif dan meningkatkan interdependensi.

Sedangkan bagi realisme, kerjasama internasional yang terbentuk pasca Perang Dunia II merupakan manifestasi dari upaya pencapaian kepentingan negara-negara hegemon. Negara-negara powerless yang terlibat dalam kerjasama internasional pun dimanfaatkan oleh negara hegemon sebagai instrumen untuk mencapai kepentingannya. Para realis seperti Robert Gilpin, Stephen Krasner, dan Joseph Grieco mengungkapkan bahwa power merupakan aspek sentral dalam kerjasama dibanding perselisihan antara bangsa-bangsa (Hasenclever et al., 2000: 5). Distribusi kapabilitas antar aktor mempengaruhi prospek efektivitas rezim untuk muncul dan bertahan dalam sebuah issue-area dan sifat dari rezim yang dihasilkan, terutama sejauh mana alokasi manfaat dari kerjasama yang bersangkutan. Pasca perang, AS terlibat konsensus dengan Jepang sebagai upaya maintaining sistem kapitalisme internasional.

Meskipun banyak yang mengakui hegemoni AS, saat itu Inggris justru menentang hegemoni tersebut, khususnya dalam perdagangan dan moneter internasional. Tindakan yang dilakukan Inggris adalah penarikan mata uang dolar yang beredar dengan mendiskriminasi perusahaan minyak milik AS (Keohane, 1984: 158). Inggris pun mereduksi penjualan minyak ke perusahaan AS di sejumlah negara. Hegemoni AS juga dapat dilihat dalam kasus AIOC (Anglo-Iranian Oil Company). AIOC merupakan perusahaan bentukan Inggris yang bertujuan mendominasi produksi minyak Iran. Tindakan Inggris ini membuat AS melakukan intervensi dengan cara membentuk konsorsium yang menyepakati bahwa AS dan AIOC masing-masing menerima bagian sebesar 40% (Keohane, 1984: 167-168). Dalam kasus nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir, hegemoni AS juga berbicara. Nasionalisasi ini menyebabkan krisis Eropa akibat terhambatnya sirkulasi perdagangan minyak antara Teluk Persia dan Eropa (Keohane, 1984: 170). Hal ini direspon AS dengan membentuk Middle East Emergency Committee (MECC) yang terdiri dari perusahaan minyak AS, yang menghasilkan kesepakatan untuk saling berkoordinasi dan berkonsolidasi terkait penanganan konflik Terusan Suez.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, Keohane menolak pendapat bahwa kerjasama tidak bisa terealisasi tanpa hegemoni. Bagi Keohane, kerjasama internasional dapat dicapai melalui eksistensi rezim internasional, sehingga dominasi hegemoni tidak diperlukan. Dalam artikelnya, Keohane juga menambahkan bahwa kerjasama internasional yang terjadi dalam masa dan pascaperang lebih bersifat komplemen antara hegemon dengan kerjasama internasional (Keohane, 2005: 144). Hegemon yang dimiliki dimanfaatkan dalam dua hal, yakni sebagai instrumen untuk terlibat dalam kerjasama internasional dan pencapaian interest melalui benefit yang dihasilkan dari proses kerjasama tersebut.

 

Referensi: 

Andreas Hasenclever, Peter Mayer, Volker Rittberger, 2000, “Integrating Theories of International Regimes”, Review of International Studies, Vol. 26, No. 1 (Jan., 2000), pp. 3-33 dalam http://www.jstor.org/stable/20097653

Jackson, Robert & George Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Keohane, Robert O, 2005, “Hegemonic Cooperation in the Postwar Era”, dalam Robert O. Keohane. After Hegemony Cooperation and Discord in The World Political Economy. New Jersey. pp. 135-181.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.222