NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

TEORI REZIM INTERNASIONAL

15 April 2013 - dalam Rezim-rezim Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

TEORI REZIM INTERNASIONAL

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Rezim muncul mewarnai ranah internasional berkat adanya ketidakpuasan terhadap konsep-konsep yang dominan terkait international order, otoritas, dan organisasi. Dalam satu dekade terakhir, rezim internasional pun kerap menjadi fokus prominen dalam beberapa riset, baik secara empiris ataupun teoritis. Rezim berpandangan bahwa segala tindakan negara dipengaruhi oleh norma-norma, dengan catatan bahwa norma yang dipakai memiliki korelasi dalam upaya pencapaian national interest (Haggard & Simmons, 1987: 492). Menurut Stephen Krashner, rezim digambarkan sebagai kumpulan prinsip, norma, aturan, dan prosedur pengambilan keputusan oleh aktor, baik secara eksplisit maupun implisit, dalam suatu wadah hubungan internasional (Haggard & Simmons, 1987: 493).

Rezim bersifat dinamis, dimana ia dapat bertransformasi melalui empat cara, yakni strength, organizational form, scope, dan allocational mode. Pertama, strength menunjukkan tingkat kepatuhan terhadap perintah yang termaktub dalam rezim, khususnya pada kasus dimana kepentingan jangka pendek aktor tertentu yang  kontras dengan aturan rezim. Kedua,  organizational form menunjukkan bahwa bentuk organisasional rezim dapat berpengaruh terhadap jalannya rezim ke depannya. Permasalahan yang kompleks membuat struktur kerja dalam rezim juga kian kompleks, bahkan berpotensi otonom (Haggard & Simmons, 1987: 497). Ketiga, ruang lingkup atau scope dalam rezim berkaitan dengan isu-isu apa saja yang menjadi cakupan rezim. Dinamika yang terus berubah bisa saja berpengaruh terhadap scope suatu rezim. Terakhir, allocational mode menunjukkan bagaimana rezim dapat menyokong mekanisme sosial yang berbeda dalam pengalokasian sumber daya.

Pendekatan rezim dapat diklasifikan menjadi empat kategori, yakni struktural, game theory, fungsional, dan kognitif. Pendekatan struktural, termasuk teori hegemonic stability, mengatakan bahwa kondisi nternasional menentukan kemungkinan untuk melakukan kerjasama (Haggard & Simmons, 1987: 499). Teori hegemonic stability menghubungkan penciptaan rezim dan pemeliharaannya terhadap kekuatan hegemon, bahkan mengatakan bahwa rezim akan melemah jika kekuatan hegemon turun. Dengan kata lain, dinamika internasional akan lebih stabil jika terdapat kekuatan dominan atau hegemon yang menguasai dunia. Bahkan menurut Keohane dan Nye, diprediksi bahwa negara yang memiliki kekuatan lebih akan mendominasi negara lain yang lemah dan mengambil alih terhadap jalannya “permainan”. Terdapat dua pendapat mengenai teori hegemonic stability. Pertama, kekuatan hegemoni dipandang sebagai kekuatan koersif. Menurut pendapat yang pertama ini, negara hegemon akan memberlakukan aturan rezim dengan sanksi positif dan negatif, bahkan memaksa negara yang lemah untuk melakukan pembayaran lebih demi mempertahankan rezim (Haggard & Simmons, 1987: 502). Kedua, kekuatan hegemon dianggap sebagai sistem yang memiliki keteraturan sehingga bisa menunjang kebaikan bagi masyarakat internasional. Pendekatan strategis dan game theory menunjukkan bagaimana kerjasama dapat terjadi di bawah kondisi anarki dimana tidak ada otoritas supranasional untuk memenuhi kebutuhan warga negara. Studi mengenai game theory banyak memiliki keterkaitan dengan prisoner’s dilemma. Mengapa? Karena pada prisoner’s dilemma, perilaku kerjasama di bawah kondisi “realis” masih sangat dimungkinkan. Pendekatan ketiga, yakni pendekatan fungsional, merujuk pada perilaku dan efek yang ditimbulkan institusi (Haggard & Simmons, 1987: 506). Pendekatan ini juga mengatakan bahwa rezim digunakan sebagai instrumen untuk mencapai common interest. Keuntungan yang ditimbulkan rezim adalah menyediakan insentif dalam bentuk kerjasama. Keohane mengatakan bahwa negara akan mengkalkulasi opportunity cost untuk membentuk sebuah rezim, apakah biayanya tersebut lebih besar daripada alternatif kebijakan lain atau tidak. Rezim dapat meminimalisir biaya transaksi tawar-menawar dan risiko dalam pembuatan perjanjian. Dalam membentuk rezim, dibutuhkan biaya. Namun biayanya akan bisa diminimalisir jika antar negara yang ingin membentuk rezim saling terlibat komunikasi secara masif. Pendekatan terakhir, yakni pendekatan kognitif yang menekankan pada pentingnya ideologi, nilai-nilai aktor, keyakinan terkait isu interdependensi, dan pengetahuan untuk merealisasikan tujuan yang spesifik (Haggard & Simmons, 1987: 510). Dalam membangun kerjasama, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, misalnya persepsi dan mispersepsi, kapasitas terhadap proses informasi, dan pembelajaran. Kepentingan aktor dapat dipengaruhi bahkan diubah oleh pengetahuan dan ideologi, termasuk pengetahuan yang disediakan oleh rezim. Mayoritas pendekatan ini tidak bisa mengeksplanasikan secara gamblang bagaimana power dan ide saling berinteraksi (Haggard & Simmons, 1987: 512)

Sebagai makhluk sosial, individu selalu memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini berlaku juga pada negara. Rezim diciptakan demi menangani kasus-kasus spesifik yang tidak bisa diselesaikan sendiri oleh negara. Dengan adanya rezim diharapkan kepentingan-kepentingan negara anggota akan bisa terakomodir dengan baik yang berujung pada tercapainya kepentingan dan terselesaikannya permasalahan. Dalam konteks kekinian, kehadiran rezim dalam menangani setiap isu adalah sebuah keniscayaan, dengan catatan rezim tersebut digunakan untuk kepentingan bersama dan tanpa diikuti tujuan menindas negara lain. Dinamika kehidupan yang terus berjalan juga membuat rezim harus selalu bertransformasi menyesuaikan kepentingan aktornya.

 

Referensi:

Stephan Haggard and Beth A. Simmons, 1987, “Theories of International Regimes”, International Organization, Vol. 41, No. 3 (Summer, 1987), pp. 491-517 dalam http://www.jstor.org/stable/2706754

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.085