NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

MEMAHAMI REZIM INTERNASIONAL

15 April 2013 - dalam Rezim-rezim Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

MEMAHAMI REZIM INTERNASIONAL

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Dewasa ini, rezim internasional merupakan salah satu alternatif yang digunakan negara-negara dalam menghadapi maupun menyelesaikan isu spesifik tertentu, di samping oganisasi internasional (OI), perjanjian internasional, dan sebagainya. Rezim dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip, norma, aturan, dan prosedur pengambilan keputusan yang implisit maupun eksplisit yang sesuai dengan ekspektasi aktor dalam suatu issue-area tertentu dari hubungan intemasional (Krasner, 1983: 186). Prinsip merupakan keyakinan terhadap fakta, sebab akibat, dan kejujuran. Norma merupakan standar perilaku yang dimanifestasikan dalam hal hak dan kewajiban. Aturan merupakan preskripsi atau larangan spesifik mengenai tindakan yang tidak boleh diambil. Prosedur pengambilan keputusan dipandang sebagai sebuah praktek yang berlaku yang ditujukan untuk membuat dan mengimplementasikan pilihan kolektif (Krasner, 1983: 186). 

Dalam artikelnya yang berjudul Structural causes and regime consequences: regimes as intervening variables, Stephen D. Krasner (1983) juga mengungkapkan pandangan beberapa scholar mengenai definisi rezim. Keohane dan Nye mendefinisikan rezim sebagai "sets of governing arrangements" yang mencakup aturan, norma, dan prosedur yang mengatur perilaku dan mengontrol implikasi yang ditimbulkannya (Krasner, 1983: 186). Haas memandang bahwa rezim terdiri dari seperangkat prosedur, aturan, dan norma-norma yang saling koheren. Dengan terminologi yang agak berbeda, pendapat yang dikemukakan Hedley Bull mengacu pada pentingnya aturan dan institusi dalam masyarakat intemasional, dimana aturan tersebut merujuk pada "prinsip-prinsip penting umum yang memerlukan atau memberikan wewenang kepada kelas personal atau kelompok yang ditentukan untuk berperilaku dengan cara yang ditentukan." Menurut Bull, adanya institusi akan membantu mendorong aktor yang terlibat untuk patuh terhadap aturan melalui fase-fase berikut ini, antara lain memformulasikan, mengkomunikasikan, mengadministrasikan, menegakkan, menafsirkan, melegitimasikan, dan mengadaptasikan aturan-aturan tersebut (Krasner, 1983: 186).

Keohane mengatakan bahwa terdapat perbedaan antara rezim dan agreement. Tujuan dibentuknya rezim adalah demi memfasilitasi terbentuknya agreement (Krasner, 1983: 187). Dalam artikel Krasner (1983) tersebut juga diungkapkan pandangan Jervis bahwa rezim tidak hanya menyangkut norma dan ekspektasi aktor yang memfasilitasi kerjasama, namun merupakan bentuk kerjasama yang lebih dari kepentingan jangka pendek. Perlu ada pemahaman mendasar mengenai perbedaan  antara prinsip dan norma pada satu sisi, dan aturan dan prosedur di sisi yang lain. Mungkin ada sejumlah aturan dan prosedur pengambilan keputusan yang konsisten dengan prinsip dan norma yang sama. Prinsip dan norma yang ada merujuk pada karakteristik dasar yang mendefinisikan sebuah rezim (Krasner, 1983: 187). Terdapat dua hal utama yang perlu mendapat perhatian terkait rezim. Pertama, jika terjadi perubahan pada aturan dan prosedur pengambilan keputusan, hal ini mengindikasikan adanya perubahan dalam rezim. Kedua, jika yang berubah adalah prinsip dan norma yang membangunnya, hal ini berarti bentuk rezim itu sendiri telah berubah (Krasner, 1983: 188). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa perubahan dalam rezim terjadi karena adanya aturan dan prosedur pengambilan keputusan yang berubah, namun norma dan prinsipnya masih tetap. Sedangkan perubahan rezim sendiri merupakan akibat norma dan prinsip yang berubah. Rezim juga kehilangan power atau melemah saat komponen-komponennya mengalami inkoherensi atau perilaku aktor dalam rezim tersebut tidak konsisten (Krasner, 1983: 189).

Implikasi independen rezim adalah menyangkut isu analitik pusat. Terdapat tiga orientasi dasar rezim. Orientasi pertama, pandangan struktural konvensional, direpresentasikan oleh Susan Strange, dimana ia menganggap konsep rezim sebagai konsep yang sia-sia jika keberadaan rezim malah menyesatkan (Krasner, 1983: 190). Menurut Strange, konsep rezim mengaburkan hubungan antara interest dan power, padahal hubungan antara keduanya sangat dekat. Prinsip, norma, aturan, dan prosedur pengambilan keputusan yang termaktub dalam rezim dipandang memiliki dampak terhadap hasil dan perilaku aktor (Krasner, 1983: 190). Orientasi kedua, struktural modifikasi, menunjukkan bahwa keberadaan rezim mungkin penting, tetapi hanya dalam kondisi yang cukup ketat. Orientasi kedua ini direpresentasikan oleh Keohane dan Stein, dimana mereka mengawali analisis mereka dari perspektif struktural konvensional realis, dimana negara akan selalu berupaya untuk memaksimalkan ­interest dan power yang mereka miliki (Krasner, 1983: 191). Keohane menyatakan bahwa aktor memasuki rezim dengan sukarela dengan mengedepankan prinsip kesetaraan diantara mereka. Stein menambahkan bahwa konseptualisasi rezim berakar dari karakteristik politik internasional klasik sebagai hubungan antara entitas yang berdaulat yang didedikasikan untuk self-preservation mereka (Krasner, 1983: 191). Kedua scholar juga mengandaikan bahwa rezim dapat berdampak saat hasil Pareto-optimal tidak mampu dicapai melalui kalkulasi self-interest individu yang tidak terkoordinasi.  Orientasi ketiga, Grotian, melihat rezim dengan lebih luas, sebagai atribut yang melekat dari setiap kompleksitas dan merupakan pola yang kontinyu dari perilaku manusia. Orientasi ini direpresentasikan oleh Raymond Hopkins, Donald Puchala, dan Oran Young. Hopkins dan Puchala mengatakan bahwa rezim hadir dalam semua area hubungan internasional, bahkan dalam persaingan major power. Mereka juga mengkritisi realis yang terlalu sempit dalam menjelaskan peningkatan kompleksitas, interdependensi, dan bahaya dunia (Krasner, 1983: 191).

Dalam perkembangan rezim, terdapat lima variabel utama yang mempengaruhi, antara lain egoistic self-interest, political power, norms dan principles, usage dan custom, serta knowledge. Adanya egoistic self-interest membuat aktor ingin memaksimalkan fungsi kepemilikannya tanpa memandang kepemilikan aktor lain (Krasner, 1983: 195). Political power dibagi menjadi dua, yakni (a) power dalam pelayanan common good dan (b) power dalam pelayanan kepentingan tertentu.  Power dalam pelayanan common good berfokus pada bagaimana penggunaan power sebagai instrumen untuk mengelola properti bersama. Power dalam pelayanan kepentingan tertentu merujuk pada penggunaan power untuk meningkatkan utilitas aktor tertentu, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh negara (Krasner, 1983: 198-199). Norma dan prinsip yang mempengaruhi rezim dalam isu tertentu namun tidak secara langsung terkait dengan issue-area tersebut dapat dianggap sebagai penjelasan dari penciptaan, ketekunan, dan memudarnya rezim (Krasner, 1983: 200). Variabel usage dan custom tidak dipandang sebagai variabel eksogen yang mampu menghasilkan rezim mereka sendiri. Keduanya melengkapi dan menguatkan dalam melakukan pemaksaan terkait dengan self-interest, political power, dan penyebaran nilai (Krasner, 1983: 202). Seperti usage dan custom, knowledge juga bukan merupakan variabel eksogen, melainkan variabel intervensi. Variabel ini menciptakan dasar kerjasama dengan menunjukkan kompleksitas interkoneksi yang sebelumnya tidak dipahami.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa rezim merupakan seperangkat prinsip, norma, aturan, prosedur pengambilan keputusan yang sesuai dengan ekspektasi aktor dalam suatu issue-area tertentu. Keanggotaan rezim bersifat sukarela, sehingga anggota di dalamnya bisa sewaktu-waktu keluar dari rezim jika kepentingannya sudah tidak sejalan dengan rezim. Berbeda dengan hukum internasional yang bersifat represif, rezim internasional justru bersifat tidak mengikat dan tidak ada sanksi resmi bagi anggota yang melanggar ketentuan dalam rezim. Untuk bergabung dalam sebuah rezim, suatu negara akan mengkalkulasikan terlebih dahulu untung dan ruginya.

 

Referensi:

Krasner, Stephen D. 1983. Structural causes and regime consequences: regimes as intervening variables. United States of America: Cornell University Press

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.219