NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

NEOLIBERALISASI GLOBALISASI

14 April 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Neoliberalisasi Globalisasi

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001) 

 

Globalisasi telah menyerang sendi-sendi kehidupan manusia di segala penjuru dunia. Mau tidak mau, setiap warga dunia telah menjadi bagian dalam pusaran globalisasi itu. Dalam artikelnya yang berjudul “Globalisation as the Total Commercialisation of Politics?”, Grahame F. Thompson telah memberikan analisisnya terhadap buku ciptaan Naomi Klein, Noreena Hertz, dan George Monbiot mengenai globalisasi ini. Menurut Thompson, ketiga penulis ini muncul sebagai reaksi terhadap gelombang globalisasi mutakhir dan telah mencapai status ikonik dalam gerakan anti-globalisasi. Ketiga penulis ini menitikberatkan pada tema yang senada: globalisasi dibangun di balik pengambilalihan korporat dalam sektor kehidupan ekonomi, politik, dan budaya. Hal ini mengindikasikan bahwa kapitalisme global tidak hanya mendikte sifat kebiasaan konsumtif kita ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi kapitalisme juga secara perlahan tapi pasti telah menggerogoti seluruh aktivitas demokrasi dan telah mengakibatkan perebutan negara yang disebabkan oleh kepentingan komersial.

Dalam perjalanannya, globalisasi memang selalu menarik untuk dikaji lebih dalam. Kajian terkait globalisasi menyuguhkan betapa luasnya aspek-aspek yang telah dipengaruhi globalisasi. Tidak hanya aspek ekonomi dan politik saja yang telah mendapat sentuhan dari globalisasi, namun teknologi, isu lingkungan, kriminalitas, perdamaian dan isu peperangan, modernisasi dan strategi pengembangan, kemiskinan, kesehatan, kompresi ruang dan waktu, dan serentetan aspek lainnya juga terkena imbas dari globalisasi ini. Apa yang terjadi di suatu negara, secara bersamaan dirasakan juga oleh negara lain (reflektif). Nampak sekali bahwa globalisasi ini tidak bisa dihindari oleh siapapun.

Dalam bukunya yang berjudul No Logo, Naomi Klein mengungkapkan analisisnya mengenai “brand global” yang cukup tersohor, yakni McDonald’s dan Nike. Brand-brand ternama ini telah menjadi ikon globalisasi di banyak negara. Tidak dapat dipungkiri, brand tersebut telah bertindak sebagai pedoman global untuk perbandingan harga daya beli power  di antara negara-negara dan telah menjadi indikator minimnya konflik antarnegara (sebagaimana yang dikatakan Friedman dalam bukunya, The Golden Arches Theory of Conflict Avoidance, tidak ada dua negara yang memiliki restoran McDonald yang berperang). Singkatnya, kehadiran brand atau MNC ini dianggap dapat meningkatkan keamanan karena  meminimalisir konflik antarnegara. Pada kasus yang sama, Nike juga dianggap menjadi cause célèbre karena merupakan bentuk gerakan antiglobalisasi. Metode produksi dianggap tercela dan tidak mengindahkan nilai moral, karena pekerja dipandang sebagai sweatshop yang dipaksa bekerja tanpa henti demi keuntungan perusahaan itu sendiri.  Kasus-kasus seperti ini, di satu sisi, didakwa sebagai aktivitas produksi yang non etis dan di sisi lain dipandang sebagai keterbatasan yang akhirnya menempatkan mereka pada pilihan konsumen. Brand-brand di atas dalam perjalanannya telah mengalami masa-masa yang sulit (contoh konkretnya adalah kasus McDonald’s dan Nike yang pernah kehilangan pangsa pasar dan masalah terkait profitabilitas yang anjlok), kesulitan-kesulitan itulah yang akhirnya mengantarkan mereka menjadi brand ternama dunia.

Dalam bukunya yang berjudul Captive State, George Monbiot mengungkapkan bahwa telah terjadi transformasi baru dalam sifat negara dan semua kegiatan pemerintah sebagai korupsi besar-besaran kelembagaan. Korupsi ini telah berkembang dalam masyarakat yang ditandai oleh luasnya motif integritas dan administrasi. Pasar tunggal trans Atlantik dikendalikan oleh eksekutif perusahaan dari perusahaan transnasional (TNC) yang besar. TNC ini kini ikut andil dalam pengambilan keputusan pemerintah, dengan restu implisit dari pemimpin politik. Power juga diserahkan kepada kepentingan korporat, “ke bawah” ditujukan untuk level lokal sebagai branding yang telah memasuki aspek pelayanan publik level lokal (misalnya sekolah) dan “ke atas” dalam hal pengaturan agenda intra-negara dan arena pemerintahan supranasional (misalnya WTO dan Uni Eropa) oleh TNCs. Monbiot juga berhasil membongkar trik-trik kotor dan transaksi –yang melibatkan aliansi antara pemimpin terpilih dan eksekutif perusahaan− yang bertugas mengamankan pembiayaan, konstruksi, dan sebagainya. Inggris terlihat sebagai negara yang korup, meskipun pengambilan keputusan secara transparan telah meningkat di negara ini beberapa dekade terakhir. Monbiot juga mengungkapkan rencana kebijakan, seperti memperketat regulasi iklan, pengefektifan kebijakan mengenai kesehatan dan legislasi keamanan, dan inisiatif pajak perusahaan.

Noreena Hertz, dalam bukunya yang berjudul The Silent Takeover (subjudul “Global Capitalism and the Death of Democracy”) mengatakan bahwa bisnis besar telah menyumbangkan demokrasi, pemerintahan, dan negara yang tak berdaya. Ketiganya telah cukup terguling dalam menghadapi serangan yang dilakukan korporat. Mayoritas aspek (seperti kesehatan, media, keamanan) semakin tak berdaya dan tunduk pada pengambilan keputusan korporat. Menghadapi kasus seperti ini, Hertz menawarkan solusinya dengan cara memobilisasi power konsumen untuk melawan perusahaan-perusahaan raksasa ini (misalnya dengan boikot produk, kampanye dagang yang beretika, audit lingkungan, dan sebagainya), metode seperti ini diharapkan dapat memaksa perusahaan untuk mereformasi  cara-cara kotor mereka.

Brand seperti McDonald’s, Coca Cola, dan sejenisnya kini telah mengekspansi negara-negara di seluruh dunia. Mengapa mereka begitu diminati dan dikonsumsi oleh konsumen global? Alasannya karena mereka menawarkan produk yang terkenal, standar produk yang berkualitas, dan harga yang dapat diterima oleh beragam kalangan. Perusahaan-perusahaan ini juga mengekspansi negara Dunia Ketiga. Mengapa? Biasanya penduduk negara ini cenderung mau bekerja di perusahaan-perusahaan ini, meskipun dengan gaji yang tidak terlalu tinggi. Pekerja ini berpikir bahwa lebih baik bekerja di TNCs ini daripada berdiam diri di tengah kondisi negara mereka yang miskin. Di sisi lain, keberadaan TNCs ini menawarkan salah satu cara terbaik untuk memperbaiki kondisi kerja dan tingkat upah di negara Dunia Ketiga. TNC ini secara tidak langsung mungkin berdampak positif pada perekonomian negara-negara ini. Namun, lebih banyak yang melihat bahwa keberadaan TNCs ini merugikan.

Dalam dunia modern, perusahaan tidak bisa mengambilalih negara sesuka hati mereka. Perusahaan modern tidak memiliki angkatan bersenjata. Mereka patut tunduk pada sanksi dan kekuatan hukum yang berlaku di suatu negara yang berdaulat. Sebesar dan sekuat apapun perusahaan itu, ia tidak bisa beroperasi sesuka hatinya, karena ia dibatasi oleh hukum dan aturan-aturan lainnya.

Satu pertanyaan penting, dapatkah kepentingan korporat “membeli” politik? Meskipun “korporat Amerika” memiliki power yang luar biasa, nyatanya ia tidak mampu “membeli” sistem politik negara adidaya itu. Hal ini dibuktikan oleh kegagalan pebisnis kaya Amerika (Ross Perot dan Steve Forbes) yang ingin mendapat tempat dalam pemilu. Untuk berhasil dalam pemilu di Amerika, seseorang perlu dukungan dari mesin politik resmi. Sekali lagi, ini tidak mengindikasikan bahwa "korporat Amerika" tidak ada, hanya untuk menegaskan bahwa ranah politik masih tetap terpisah dari kepentingan komersial.

Gerakan anti-globalisasi memang banyak bermunculan. Namun, gerakan-gerakan ini memiliki karakter dasar yang negatif. Gerakan-gerakan ini tidak melihat globalisasi sebagai sebuah kemajuan atau perkembangan, justru gerakan-gerakan ini selalu melihat globalisasi dari sisi yang buruk.

 

Referensi:

Thompson, Grahame F. 2003. “Globalisation as the Total Commersialisation of Politics?”, New Political Economy, Vol. 8, No. 3, pp. 401-408

 

 

Kelompok 12:

  1. Agastyo
  2. Ikhwan Dawam
  3. Haidar Ali
  4. Haris Agung S.
  5. Nurlaili Azizah
  6. Masitoh N. Rohma
  7. P. Priesta Desianti
  8. Tarita Sandra P.

 

 

 

 

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    273.994