NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PERDEBATAN BESAR GLOBALISASI

14 April 2013 - dalam Pengantar Globalisasi Oleh nurlaili-azizah-fisip11

PERDEBATAN BESAR GLOBALISASI

Nurlaili Azizah (071112001)

Globalisasi, kata yang sudah tidak asing di telinga kita dan menjadi kajian khusus bagi para pengamat maupun scholar Hubungan Internasional. Kehadiran globalisasi ini memunculkan perdebatan-perdebatan di kalangan ilmuwan HI. Salah satunya adalah perdebatan besar yang terjadi antara kaum hiperglobalis, skeptis, dan transformasionalis. Yang menjadi lima fokus utama perdebatan besar globalisasi ini antara lain konseptualisasi, dinamika kausalitas, dampak ekonomi sosial, implikasi bagi otoritas negara, dan sejarah lintasan.

Secara konseptual, kaum hiperglobalis menganggap globalisasi adalah media penataan kembali akan kerangka tindakan manusia. Kaum hiperglobalis meyakini bahwa globalisasi adalah sebuah realitas yang memiliki konsekuensi logis terhadap bagaimana penduduk dan instansi di seluruh dunia ini berjalan. Menurut mereka, kebudayaan dan ekonomi global yang homogen akan menyapu dan merenggut eksistensi negara-negara dan kebudayaan lokal. Sekte hiperglobalis ini dibagi menjadi dua, yakni hiperglobalis positif dan hiperglobalis negatif. Hiperglobalis positif memandang bahwa globalisasi adalah sesuatu yang positif dan patut diapresiasi. Mereka optimis kehadiran globalisasi akan membawa dampak positif bagi kelangsungan dunia dan membuat penduduk dunia semakin maju, bertanggung jawab, serta toleran. Sedangkan menurut sekte hiperglobalis negatif (antiglobalis), globalisasi adalah sesuatu yang negatif karena ia merepresentasikan kapitalisme Barat yang akan mengancam negara-negara berkembang. Hiperglobalis menyatakan bahwa globalisasi merupakan era baru dalam sejarah peradaban manusia dan belum pernah terjadi sebelumnya, di mana negara tradisional sudah tidak relevan lagi. Menurut mereka, kemunculan pasar global tunggal dan prinsip kempetisi global kini adalah bentuk kemajuan manusia. Mereka juga mengungkapkan bahwa globalisasi dan fenomena ekonomi yang semakin terintegrasi telah melahirkan pola baru dalam perekonomian global, yakni pemenang dan pecundang. Kemunculan perekonomian dan instansi pemerintahan global menandai bahwa tatanan dunia baru yang radikal telah terbentuk. Otoritas negara-bangsa pun mulai mengalami tantangan, karena pemerintah nasional mengalami kesulitan untuk mengontrol apa yang terjadi dalam perbatasan mereka sendiri atau memenuhi tuntutan warganya. Kedaulatan dan otonomi negara pun menjadi kian terkikis. Meskipun terlihat bahwa negara tergerus kapital internasional, nyatanya negara justru ikut andil dalam “permainan” ini. Kehadiran globalisasi justru memberikan dorongan baru bagi negara untuk melakukan redefinisi dan transformasi.

Kaum skeptis memiliki interpretasi berbeda mengenai globalisasi. Sekte ini berpandangan bahwa globalisasi yang sedang ramai digaungkan oleh banyak pihak adalah mitos belaka, dan jika ia ada, maka kemunculannya terlalu dilebih-lebihkan. Apa yang dunia tengah alami saat ini merupakan fase lanjutan dari proses yang terjadi dahulu. Mereka mengambil contoh untuk memperkuat argumentasi mereka, yakni kapitalisme yang menjadi fenomena internasional sejak berabad-abad silam. Untuk membantah segala macam asumsi hiperglobalis, biasanya kaum skeptis cenderung melakukan pengujian empirik. Kaum skeptis mengakui bahwa interaksi antarbangsa kini mengalami peningkatan dibanding era sebelumnya, tetapi mereka tidak setuju peningkatan hubungan ini dianggap berintegrasi membentuk perekonomian global, karena menurut pandangan mereka perekonomian dunia cenderung terpusat pada 3 blok perdagangan dunia, yakni Amerika Utara, Uni Eropa, dan Asia Timur (Jepang dan Korsel). Oleh sebab itu, menurut mereka fenomena yang sedang terjadi saat ini bukanlah globalisasi ekonomi, namun hanya sebuah regionalisasi ekonomi.

Antara pandangan hiperglobalis dan skeptis terdapat pandangan transformasionalis. Kaum transformasionalis sependapat dengan kaum skeptis bahwa globalisasi dibesar-besarkan oleh para globalis, namun kaum transformasionalis ini juga tidak menampik akan keberadaan globalisasi. Globalisasi dianggap sebagai kekuatan utama di balik segala perubahan yang terjadi di segala bidang, tidak hanya di bidang ekonomi saja, namun telah merasuki bidang politik, sosial, dan budaya juga. Transformasionalis juga menekankan peran instansi-instansi internasional dalam menata dunia. Kaum ini juga meyakini bahwa tatanan global telah mengalami pergeseran dan perubahan, tetapi pola lama masih banyak yang dipertahankan. Globalisasi dianggap sebagai proses dua arah antara gambar, informasi, dan pengaruh. Dan untuk menjawab kemunculan berbagai organisasi ekonomi dan sosial yang baru, negara perlu melakukan restrukturisasi.

 Perdebatan mengenai globalisasi telah membuka khazanah keilmuan, khususnya para penstudi Hubungan Internasional. Globalisasi telah membuka mata pakar maupun scholar HI, bahwa di dunia ini sedang terjadi sebuah proses penyempitan ruang dan waktu, bahwa apa yang di suatu negara/wilayah, maka dampaknya akan segera dirasakan oleh negara lain. Globalisasi telah memperluas kajian studi HI dan memperkaya paradigma yang sudah ada. Para penstudi HI diharapkan terus bereksperiman dan menganalisis dampak-dampak dan segala sesuatu yang berkenaan dengan globalisasi demi pengembangan ilmu HI selanjutnya.

 

Referensi:

Kellner, Douglas. 2002. “Theorizing Globalization”, Sociological Theory, Vol. 20, No. 3, pp. 285-305.

http://books.google.co.id/books?id=RD4c_oyq-6QC&pg=PA166&lpg=PA166&dq=perdebatan+besar+globalisasi&source=bl&ots=gO0w_0PNZZ&sig=iPWi8HYtZzgHyWSj7UFetm42QDs&hl=id&sa=X&ei=BPRfT8XSMNCfiAfr-MXzBw&ved=0CBoQ6AEwADgK#v=onepage&q=perdebatan%20besar%20globalisasi&f=false (diakses 13 Maret 2012)

http://www.doiserbia.nb.rs/ft.aspx?id=1452-595X0602179T (diakses 13 Maret 2012)

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.699