NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

HUBUNGAN INDONESIA DENGAN ASIA TENGGARA (10)

13 April 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia II: Politik Luar Negeri RI Oleh nurlaili-azizah-fisip11

 

HUBUNGAN INDONESIA DENGAN ASIA TENGGARA

 

Setiap negara pasti memiliki kepentingan strategis di kawasan regional maupun internasional, tidak terkecuali Indonesia. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia memiliki peran yang cukup signifikan dalam pembentukan organisasi regional tersebut. Tidak hanya dalam proses pembentukannya saja, dalam berbagai isu penting di ASEAN, pendapat dan pandangan Indonesia selalu menjadi pertimbangan. Hal ini bisa dilihat saat Menteri Luar Negeri RI Adam Malik memberikan desakan agar suatu ketentuan mengenai dasar pertahanan sementara dari pangkalan militer asing di wilayah regional dimasukkan ke dalam deklarasi ASEAN[1], karena Indonesia memandang bahwa pangkalan militer asing di Asia Tenggara adalah suatu ancaman terhadap kemerdekaan negara-negara Asia Tenggara, terutama Indonesia.[2] Sejak awal didirikannya ASEAN, Indonesia telah gencar menggaungkan suatu bentuk kehidupan masyarakat Asia Tenggara yang menjunjung tinggi nilai-nilai saling menghargai dan menghormati, prinsip nonintervensi terhadap urusan domestik negara lain, penolakan penggunaan kekuatan nyata (kekerasan), konsultasi, dan mengedepankan konsensus dalam setiap decision-making process.

Indonesia beranggapan bahwa untuk menjadi pemain utama dalam kawasan Asia Tenggara, tidak hanya wilayah yang luas serta penduduk yang banyak saja yang menjadi faktor pendukung. Namun Indonesia juga harus menciptakan iklim perpolitikan yang stabil demi kemajuan perekonomiannya.[3] Dengan perekonomian yang baik, maka kekuatan dan pengaruh Indonesia di kawasan regional Asia Tenggara akan semakin besar. Oleh karena itu, di masa pemerintahan Soekarno, Indonesia berusaha memajukan perekonomiannya, sebagai salah satu langkah untuk mencapai kepentingan nasional berupa menjadi pemain utama di kawasan Asia Tenggara. Langkah-langkah yang diambil Indonesia antara lain turut aktif dalam ASEAN Regional Forum (ARF) yang pertama kali ditampilkan pada Konferensi Pasca Tingkat Menteri ASEAN (PMC), Juli 1993.[4] Namun karena politik bebas aktif yang dianutnya, Indonesia tidak ingin terikat pada suatu lembaga keamanan yang kekuatan utamanya tidak berasal dari negara kawasan Asia Tenggara, seperti ARF yang memiliki anggota non-ASEAN seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina dan Rusia. Hal ini bisa dimengerti karena Jakarta kemungkinan akan merasa khawatir akan kekuatan penguasa dari negara-negara tersebut. Peran penting Indonesia di Asia Tenggara sebelum dibentuknya ARF bisa dilihat dari pembentukan Declaration on Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN) di tahun 1971, ASEAN Concord (1976), ASEAN Declaration on South China Sea (1992), dan ASEAN Community (2003).

Saat berjumpa dengan wartawan dalam persidangan ASEAN di Hanoi, Vietnam, 31 Oktober 2010, Presiden Yudhoyono memaparkan strategi Indonesia dalam rangka konektivitas ASEAN dan bahkan konektivitas Asia (Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2012). Terdapat tiga langkah strategis yang akan dilakukan Indonesia. Pertama, Indonesia akan membangun konektivitas domestik. Misalnya adalah dengan perbaikan dan pembangunan infrastruktur, transportasi, dan telekomunikasi, yang akan menghubungkan pulau-pulau besar –Jawa, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua−. Kedua, Indonesia akan meningkatkan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang notabene merupakan anggota ASEAN pula, misalnya Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Filipina. Indonesia pun berpasrtisipasi dalam membentuk IMTGT (Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle) dan SIJORI (Singapura, Johor, dan Riau). Konektivitas pun terjadi di kawasan timur lewat kerjasama antara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan East Asia Growth Area. Ketiga, konektivitas ASEAN bukan hanya merujuk pada pembangunan secara fisik, tetapi juga melibatkan dan menghubungkan antarmasyarakat instansi, sistem, individu, dan sebagainya. Oleh sebab itu, menurut Yudhoyono, strategi total diberlakukan demi membangun konektivitas domestik yang handal sekaligus menjadi bagian dalam pembangunan konektivitas kawasan (Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2012).

Dinamika hubungan antara Indonesia – Malaysia sejak dulu hingga sekarang bisa diumpamakan seperti roller coaster yang naik-turun. Terkadang hangat, namun tak jarang kedua negara ini memiliki kepentingan yang berseberangan dan akirnya terjadi konflik. Indonesia memiliki keenderungan bersikap sebagai saudara yang lebih tua[5]. Hal ini dimungkinkan karena Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kemiripan seperti bahasa dan kebudayaan dan Indonesia memiliki wilayah yang lebih luas dari Malaysia serta Indonesia memperoleh kemerdekaan dengan usaha sendiri, berbeda dengan kemerdekaan Malaysia yang terjadi beberapa tahun kemudian yang diberikan oleh negara bekas penjajahnya.

Pada masa pemerintahan Soekarno, Indonesia yang dipenuhi dengan semangat anti-kolonialis dan anti-imperialis menolak pembentukan negara Federasi Malaysia karena Indonesia menganggap bahwa Malaysia adalah negara boneka Inggris yang bisa saja menjadi ancaman bagi kedaulatan Indonesia. Terlebih lagi kedua negara ini berbatasan langsung di wilayah darat dan laut. Namun setelah Soeharto memegang tampuk kekuasaan Indonesia pada tahun 1966, konfrontasi dengan Malaysia pun perlahan-lahan berakhir. Soeharto malah menunjukkan niat untuk membantu Malaysia yang saat itu baru saja merdeka. Contoh nyatanya yaitu pengiriman tenaga pengajar ke Malaysia[6].

Keakraban antara Indonesia dan Malaysia pun semakin terjalin ketika kedua negara ini memiliki pandangan yang sama atas ancaman nasional negaranya, yaitu terhadap komunisme. Malaysia menganggap Cina sebagai ancaman serius terhadap stabilitas keamanan nasional lantaran dukungan Beijing terhadap Partai Komunis Malaya. Indonesia pun menganggap Cina sebagai ancaman serius bagi ideologi nasional karena Beijing memberikan dukungan terhadap Partai Komunis Indonesia.[7]

Peningkatan kerjasama pun semakin terjalin baik diantara kedua negara ini, tercatat sejak tahun 1972 hingga awal tahun 1990 Indonesia dan Malaysia mengadakan peningkatan berbagai kerja sama seperti kerjasama dalam bidang pemberantasan komunisme, latihan militer bersama dan juga kerja sama dalam hal menghadapi kejahatan trans-nasional yang ada di perbatasan kedua wilayah negara.[8]

Namun setelah ancaman komunis memudar yang ditandai dengan kalahnya Uni Soviet dalam Perang Dingin, hubungan Indonesia dan Malaysia mulai bermasalah kembali. Di tahun 1990 saja terjadi lima peristiwa yang menjadikan hubungan Indonesia dan Malaysia kembai mendingin, seperti sengketa Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang terletak diantara Indonesia dan Malaysia, imigran-imgran gelap dari Indonesia yang banyak berdatangan ke Malaysia dengan tujuan mencari pekerjaan sehingga memperburuk pengangguran di Malaysia, hingga kasus tawaran fasilitas latihan militer dari Jakarta pada Singapura dan menyebabkan Kuala Lumpur merasa bahwa hal itu merupakan sebuah ancaman terhadap keamanan Malaysia serta ketidaksetujuan Indonesia terhadap ide Pengelompokan Ekonomi Asia Timur yang dikemukakan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad.[9]

Sebagai negara yang memiliki posisi strategis, peran Indonesia pun menjadi kian penting dalam ranah regional maupun global. Peran Indonesia dalam pembentukan organisasi regional seperti ASEAN menunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Strategi politik luar negeri pun diberlakukan Indonesia demi memenuhi kepentingannya, yakni melalui penguatan kerjasama dan hubungan diplomatik dengan negara-negara satu region. Namun, upaya-upaya ini juga kadangkala tidak berjalan dengan mulus akibat perbedaan kepentingan yang mengarah pada konflik, misalnya penurunan hubungan Indonesia-Malaysia yang sempat terjadi beberapa kali.

 

Referensi:

Lee Kim Chew, ASEAN Sees Success at Security Discussion, Straits Times, 11 Juni 1994

Leifer, Michael. Indonesia’s Foreign Policy. London: Allen and Unwin, 1983. hlm 122.

Suryadinata, Leo. 1998. Hubungan Indonesia dengan Negara-negara ASEAN: Stabilitas Regional dan Peran Kepemimpinan. dalam Politik Luar Negeri Indonesia di bawah Soeharto, [trans,] Jakarta, LP3ES hlm 83-113

KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA (2012) Strategi Total Indonesia dalam Konektivitas ASEAN dan Asia [WWW] Available from: http://www.deplu.go.id/Pages/News.aspx?IDP=4171&l=id [Accessed 04/12/12] 

RUSMAN (2012) Catatan Kecil Konflik Indonesia-Malaysia [WWW] Available from: http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1917&type=99#.UL4bMuSIHZA [Accessed 04/12/12] 

 



[1] Leifer, Michael. Indonesia’s Foreign Policy. London: Allen and Unwin, 1983. hlm 122.

[2] Suryadiata, Leo. 1998. Hubungan Indonesia dengan Negara-negara ASEAN: Stabilitas Regional dan Peran Kepemimpinan. dalam Politik Luar Negeri Indonesia di bawah Soeharto, [trans,] Jakarta, LP3ES hlm 85

[3] Ibid, hlm 84

[4] Lee Kim Chew, ASEAN Sees Success at Security Discussion, Straits Times, 11 Juni 1994

[5] Ibid, hlm. 88

[6] Ibid.

[7] Ibid, hlm. 87

[8] Ibid, hlm 90-91.

[9] Ibid, hlm 91-94.

 

Kelompok 1B: Hurin Hayati Alin (070810030) - Yudharizka (0710_____) - Nurlaili Azizah (071112001)

 


 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.262