NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

KONFERENSI ASIA AFRIKA (KAA) DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA (4)

13 April 2013 - dalam Studi Strategis Indonesia II: Politik Luar Negeri RI Oleh nurlaili-azizah-fisip11

KONFERENSI ASIA AFRIKA (KAA) DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA

 

“Formulasi mengenai dasar dan tujuan politik luar negeri RI termaktub dalam konstitusi berbunyi : “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abdadi, dan keadilan sosial.” Rumusan pelaksanaannya adalah politik luar negeri, yang bebas dan aktif, berdasarkan kepentingan nasional (H. Roeslan Abdulgani).”

Konferensi Asia Afrika yang dihelat Indonesia pada tahun 1955 di Bandung merupakan sumbangan besar Indonesia terhadap sebuah benua bernama Asia dan Afrika.  Dalam pertemuan yang digelar selama sepekan, partitur bersama pun diciptakan berdasarkan musyawarah dan mufakat. Partitur ini merupakan hasil karya negara Asia-Afrika sendiri, bukan berkiblat pada Barat. Konferensi ini diciptakan karena pada saat itu terjadi Perang Dingin yang mempertemukan dua kubu yang berlawanan, yakni blok liberal yang direpresentasikan oleh Amerika Serikat dan blok komunis yang diwakili oleh Uni Soviet.

Permusuhan antara kedua blok ini dipicu karena adanya kontradiksi paham yang begitu kental antara demokrasi-liberal dengan komunisme-otoriter, dengan segala macam aspek yang mendukungnya di bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Kedua blok ini ingin menancapkan pengaruhnya terhadap dunia internasional lewat industri militer dan industri perangnya. Rivalitas kedua blok ini dalam mendominasi dunia begitu kuat, kedua blok raksasa ini juga mencoba menyebarkan pengaruhnya terhadap negara-negara Asia-Afrika, yang sejak akhir Perang Dunia II sebagian dari mereka telah berhasil keluar dari belenggu kolonialisme Barat (Abdulgani, 1981:312).

Banyak negara-negara Asia-Afrika yang ingin melepaskan diri dari penjajahan saat itu. Jika perjuangan kemerdekaan yang mereka lakukan kemasukan unsur rivalitas Perang Dingin, dikhawatirkan dapat merusak tatanan dan keamanan internasional, di samping itu bisa berakibat pada pecah belahnya berbagai perjuangan kemerdekaan yang tengah diupayakan.

Sebelum KAA, dihelat pula Konferensi Kolombo pada bulan April-Mei 1954 dan Konferensi Bogor pada akhir Desember 1954. KAA dihelat bukan semata-mata sebagai upaya membendung pengaruh kedua blok raksasa di negara Asia-Afrika, tetapi juga menawarkan solusi alternatif nonmiliter. Seperti yang diketahui bahwa saat itu aspek militer kedua blok, Amerika cs dengan NATO, CENTO, dan SEATO versus Uni Soviet dengan Pakta Warsawa, begitu kental dalam percaturan internasional.

Diperlukan pandangan dan gagasan mendasar untuk menghalau Perang Dingin ini. Pandangan dasar ini berupa pandangan nonkonfrontatif yang berbasis pada pembangunan toleransi terhadap pandangan hidup pihak lain. Jiwa toleransi ini berupa saling menghargai satu sama lain, menghormati kedaulatan teritori negara lain, prinsip nonintervensi, dan prinsip nonagresi. Jiwa toleransi akhirnya ditingkatkan menjadi Dasasila Bandung, yakni The Ten Bandung Principles on the Promotion of World Peace and Cooperation (Abdulgani, 1981:314). Isi dari Dasasila Bandung ini antara lain: (1) menghormati hak-hak dasar manusia, tujuan, serta asas yang termuat dalam Piagam PBB; (2) menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa; (3) mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa, baik bangsa besar maupun bangsa kecil; (4) tidak melakukan intervensi atau ikut campur tangan dalam persoalan dalam negeri negara lain; (5) menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik secara sendirian maupun secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB; (6) (a) tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus salah satu negara besar, (b) tidak melakukan tekanan terhadap negara lain; (7) tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atas kemerdekaan politik suatu negara; (8) menyelesaikan segala perselisihan internasional secara damai sesuai dengan Piagam PBB; (9) memajukan kepentingan bersama dan kerja sama internasional; dan (10 ) menghormati hukum dan kewajiban internasional lainnya.

Dasasila Bandung merupakan hasil toleransi yang positif yang penuh dengan kewaspadaan sambil meminimalkan kecurigaan (Abdulgani, 1981:315). Hal ini bisa terlihat dalam Deklarasi Bandung mengenai kerjasama ekonomi dan kebudayaan. Jiwa toleransi ini tidak hanya tertuju kepada negara-negara Asia-Afrika, tetapi juga negara-negara seluruh dunia. Beraneka ragam rencana kerjasama pun digagas, misalnya di bidang ekonomi. Gagasan mengenai investment, perjanjian bilateral maupun multilateral demi mencapai kestabilan harga internasional dan supply komoditas primer, pun dicetuskan. Selain itu, gagasan mengenai pembentukan Dana Istimewa PBB dan distribusi alokasi dana yang dimiliki Bank Dunia untuk negara-negara Asia-Afrika pun sudah ada. Gagasan-gagasan di bidang ekonomi ini didasari pada sifat toleransi dan bersih dari sifat konfrontatif.

 Gagasan mengenai penguatan hubungan dan kerjasama kebudayaan pun ditelurkan, karena negara-negara Asia-Afrika merupakan tempat lahirnya agama dan kebudayaan besar. Konferensi Bandung juga menyatakan dengan tegas bahwa kolonialisme merupakan hal yang buruk yang harus segera diakhiri. Penjajahan merupakan pelanggaran hak-hak dasar manusia, yang bertentangan dengan Piagam PBB. Konferensi ini juga menghimbau kepada negara-negara penjajah untuk memberi kemerdekaan kepada negara yang dijajah. Dapat dikatakan bahwa konferensi ini begitu anti dengan intoleransi yang berujung pada kolonialisme. Jiwa nasionalisme bangsa-bangsa terjajah pun lahir sebagai reaksi atas kolonialisme Barat yang bersifat demokratis-kerakyatan.

KAA ini memiliki makna yang sangat penting bagi RI. Nama Indonesia menjadi terkenal di kalangan negara-negara Asia-Afrika. Hal ini tidak hanya disebabkan karena Indonesia yang berperan sebagai pemrakarsa KAA, namun juga karena keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah yang baik yang dapat mengatasi segala macam hambatan, serta dapat menciptakan iklim politik-budaya yang kondusif, keramahtamahan dan antusiasme rakyat, yang membuat para delegasi sangat terkesan (Abdulgani, 1981:320). KAA juga merintis kelahiran Dunia Ketiga dan Gerakan Non Blok yang mematahkan dominasi kedua negara besar tersebut –AS dan Uni Soviet−.

KAA yang semula diilhami oleh garis politik luar negeri yang bebas dan aktif tersebut selanjutnya mengilhami kelanjutan pelaksanaan politik luar negeri negara ini. Pertama-tama Indonesia segera melanjutkan perjuangan untuk penyempurnaan kemerdekaannya (Abdulgani, 1981:320). Tindakan radikal yang dilakukan Indonesia pada masa ini antara lain pembatalan sepihak hubungan Indonesia-Belanda akibat penolakan Belanda untuk berunding mengenai kasus Irian Barat dan tidak mengakui serta tidak bersedia membayar hutang Indonesia kepada Belanda. Tindakan di atas merupakan bentuk ketegasan pelaksanaan politik luar negeri di masa pasca KAA.

KAA telah menaikkan nama Indonesia dalam pergaulan internasional. Kesuksesan Pemilu 1 untuk DPR dan Majelis Konstituante mendorong kedua negara adikuasa untuk mengundang Presiden Soekarno ke Amerika dan Uni Soviet (Abdulgani, 1981:321). Undangan ini dimanfaatkan Indonesia untuk menjalankan diplomasi dengan kedua negara tersebut, yakni terkait perjuangan pembebasan Irian Barat, pembatalan perjanjian KMB secara sepihak, dan diplomasi di bidang ekonomi demi memperoleh bantuan untuk membangun negara kita. Kunjungan ini juga digunakan untuk memperkenalkan dasar negara kita, yakni Pancasila, yang menjadi landasan politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Indonesia saat itu memiliki peran yang cukup aktif dalam isu dan konflik internasional. Indonesia turut hadir dalam Konferensi London terkait nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir secara sepihak. Selain itu, Indonesia juga setuju untuk membawa masalah Hungaria ke tingkat Dewan Keamanan PBB dalam kasus intervensi Uni Soviet ke Hungaria terkait demokratisasi Hungaria, dan meminta Uni Soviet untuk menarik tentaranya dari Hungaria.

Semua peristiwa di atas menunjukkan betapa KAA begitu bermakna terhadap politik luar negeri kita pada tahun 1956 dan selanjutnya. Hasil KAA memberi ruang gerak yang lebih luas dan arah yang lebih tegas bagi politik luar negeri kita (Abdulgani, 1981:322).

KAA membawa pengaruh yang besar bagi solidaritas dan perjuangan kemerdekaan bangsa di Asia dan Afrika. Pertama, sebagai perintis dalam membina solidaritas bangsa-bangsa dan merupakan titik tolak untuk mengakui kenyataan bahwa semua bangsa di dunia harus dapat hidup berdampingan secara damai. Kedua, cetusan rasa setia kawan dan kebangsaan bangsa-bangsa Asia Afrika untuk menggalang persatuan. Ketiga, penjelmaan kebangkitan kembali bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Keempat, pendorong bagi perjuangan kemerdekaan bangsa di dunia pada umumnya serta di Asia dan Afrika khususnya. Keenam, memberikan pengaruh yang besar terhadap perjuangan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam mencapai kemerdekaannya. Terakhir, banyak negara-negara Asia-Afrika yang merdeka kemudian masuk menjadi anggota PBB.

Selain membawa pengaruh bagi solidaritas dan perjuangan kemerdekaan bangsa di Asia dan Afrika, KAA juga menimbulkan dampak yang penting dalam perkembangan dunia pada umumnya. Pertama, KAA mampu menjadi penengah dua blok yang saling berseteru sehingga dapat mengurangi ketegangan akibat Perang Dingin dan mencegah terjadinya perang terbuka. Kedua, gagasan KAA berkembang lebih luas lagi dan diwujudkan dalam Gerakan Non-Blok. Ketiga, politik bebas aktif yang dijalankan Indonesia, India, Burma (Myanmar), dan Sri Lanka tampak mulai diikuti oleh negara-negara yang tidak bersedia masuk Blok Timur ataupun Blok Barat. Keempat, Belanda cemas dalam menghadapi kelompok Asia Afrika di PBB, sebab dalam Sidang Umum PBB, kelompok tersebut mendukung tuntutan Indonesia atas kembalinya Irian Barat ke pangkuan RI. Terakhir, Australia dan Amerika Serikat mulai berusaha menghapuskan diskriminasi ras di negaranya.

Tahun 2005, dilakukan peringatan KAA yang ke 50 tahun. Bagi negara-negara yang terlibat pada KAA, peringatan 50 tahun KAA ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kerjasama dalam menangani permasalahan-permasalahan dalam bidang ekonomi, sosial, serta budaya di negara-negara yang ada di dua benua ini. Menurut Letjen TNI (PURN) DR (HC) H Mashudi, peringatan 50 tahun KAA dapat dimaknai dengan tekad dan keinginan kuat untuk menjadikan bangsa Indonesia yang mandiri dan bermartabat.

Arti HUT ke-50 KAA bagi politik luar negeri Indonesia ini sendiri ialah terciptanya hubungan yang semakin rekat antara negara-negara Asia dan Afrika dalam bekerjasama di berbagai bidang. Hal ini ditujukan guna meningkatkan kemandirian dan martabat bangsa. Selain itu, dengan semangat yang masih diwariskan dari KAA, negara-negara Asia dan Afrika ini terpacu untuk menyetarakan diri dengan negara-negara maju lainnya. Tidak terlepas dari peningkatan dalam bidang ekonomi, hukum, dan sebagainya, HUT ke-50 KAA ini juga sebagai suatu bentuk perdamaian dunia, dimana di dalamnya terdapat negara-negara yang saling bekerjasama. Dengan adanya peringatan ke-50 KAA ini, Indonesia dapat meningkatkan kerjasamanya dalam taraf internasional. Sejalan dengan itu, Indonesia juga berusaha untuk mengentaskan kemiskinan dan turut berperan serta dalam menciptakan perdamaian dunia.

KAA telah memberi sumbangsih yang berarti bagi Indonesia. Tidak hanya mampu menaikkan prestise Indonesia di mata internasional, namun juga mengarahkan politik luar negeri kita tujuan yang lebih terarah dan ruang gerak yang lebih terbuka.

 

 

 

Referensi:

Abdulgani, Roeslan, 1981. “Sekitar Konperensi Asia-Afrika dan Maknanya bagi Politik Luar Negeri Indonesia”, Analisa, 4, hlm. 311-328.

Wardaya, Baskara, 2005. “Global Solidarity against Unilateralism”, Inter-Asia Cultural Studies, 6 (4): 476-486.

DH, Jhon. "Historical Walk" KAA Perekat Kesenjangan Dua Benua. 2005. [online] dalam http://www.garutkab.go.id/pub/news/plain/346-historical-walk-kaa-perekat-kesenjangan-dua-benua/ (diakses pada 2 Oktober 2012)

 

 

Kelompok 1B: Hurin Hayati Alin (070810030) - Yudharizka (07_______) - Nurlaili Azizah (071112001)

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.258