NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

GEOPOLITIK, GEOSTRATEGI, DAN NATION-STATES (week 4)

13 April 2013 - dalam Geopolitik dan Geostrategi Oleh nurlaili-azizah-fisip11

GEOPOLITIK, GEOSTRATEGI, DAN NATION-STATES

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Bentuk dasar dari kehidupan politik modern sejatinya adalah negara dan sistem kenegaraan, dimana mereka akan terus muncul dalam setiap lini kehidupan. Pembentukan sistem negara tidak serta-merta hadir secara alami, namun mengalami proses yang panjang. Pihak yang bertanggungjawab terhadap pembentukan sistem negara ini adalah masyarakat, dimana sistem negara dianggap sebagai organisasi sosial (Jackson & Sorensen 2005: 12). Dinamika sejarah turut mempengaruhi negara dan sistem negara yang membuatnya beradaptasi dari waktu ke waktu.

Sistem negara yang pertama kali muncul adalah peradaban Yunani Kuno (500 SM-100 SM) yang kerap disebut Hellenes. Hellenes ini terdiri dari beberapa negara-kota yang berukuran kecil (Wight 1977; Watson 1992 dalam Jackson & Sorensen 2005). Yunani Kuno tidak mengartikulasikan sebuah hukum internasional karena mereka tidak paham akan polis −komunitas negara-kota yang mereka tinggali− yang mempunyai hak dan kewajiban terhadap negara-kota yang lain. Meskipun negara-kota Yunani Kuno memiliki independensi politik yang berdasarkan kebudayaan umum dan agama, mereka bukanlah bagian dari asosiasi politik yang lebih besar. Sehingga masyarakat Yunani Kuno saat itu lebih bersifat cultural-religious daripada legal-political (Jackson 2001). Athena, Sparta, dan Corinth adalah negara-kota yang populer di zamannya. Secara kolektif mereka membentuk sistem negara pertama dalam sejarah Barat. Dalam negara-kota, struktur politiknya tidak mengenal pembedaan secara tegas antara negara dan masyarakat. Negara adalah masyarakat, dan juga sebaliknya (Suhelmi 2001: 27). Karena jumlah penduduk yang relatif tidak terlalu besar, maka proses pengambilan keputusan politik pun dilakukan secara langsung atau melibatkan rakyat. Jumlah penduduk yang relatif kecil ini membuat mereka berkomunikasi secara mudah.

Dari segi geografis, negara-kota di Yunani memiliki dua karakter. Pertama, kemudahan akses menuju perairan, terbukti dengan persebaran pelabuhan yang cukup banyak dan wilayahnya yang dikelilingi oleh laut (us.history.com, 2003). Kondisi demikian membuat mereka sadar untuk menciptakan armada maritim demi melindungi wilayahnya. Kedua, negara-kota ini juga dikepung pegunungan yang membuat mereka sedikit terisolasi karena minimnya sarana untuk berkomunikasi.  Seiring perjalanannya, Yunani Kuno ini akhirnya berhasil dibuat kewalahan oleh imperialis Makedonia, dan selama kejadian itu Yunani pun berada di bawah kekuasaan imperium Romawi yang sewenang-wenang (200 SM-500 M) (Jackson & Sorensen 2005: 15).

Imperium ini berkembang dan menjadi hegemon dengan banyaknya upaya perluasan sphere of influence yang dilakukannya, misalnya menginvasi, menduduki dan mengambil alih pemerintahan seluruh Eropa dan mayoritas Timur Tengah serta Afrika Utara, karena memang inilah tujuan politik imperium ini, yakni kekuasaan. Selama berabad-abad upaya perluasan kekuasaan ini terus berlangsung dan mereka pun mulai menyesuaikan metode pemerintahannya untuk menguasai Italia pertama kalinya, lalu Mediterania Barat, dan akhirnya hampir seluruh dunia pun berada di tangan imperium ini (Watson 1992: 94 dalam Jackson & Sorensen 2005: 16). Pencapaian yang luar biasa ini membuahkan resultan berupa transformasi kebudayaan yang meletakkan fundamental peradaban Eropa. Imperium ini juga telah turut andil dalam pembentukan bangsa Eropa dan praktek kenegaraan serta pandangan mengenai negara mengenai hukum internasional, dengan spesialisasi terkait imperium dan sifat kekuasaan imperium. Namun, banyaknya pemberontakan dari komunitas-komunitas yang tidak mengakui kekuasaan imperium ini telah melemahkan pemerintahan imperium itu sendiri. Kerapuhan imperium diperparah dengan serangan suku Barbar yang pada akhirnya meruntuhkan imperium Romawi.

Setelah kejatuhan imperium Romawi, masih ada imperium klasik yang pernah berkuasa, yakni Great Britain (abad ke-5) dan imperium Ottoman (abad ke-6) (Flint, 2007). Ada juga imperium Byzantium yang berpusat di Konstantitopel atau sekarang lebih dikenal dengan Istanbul. Imperium ini merupakan kelanjutan dari imperium Romawi yang dikristenkan (Jackson & Sorensen 2005: 16). Sedangkan pada era modern sekarang ini, Uni Eropa dan Amerikalah yang mendapat julukan sebagai imperium modern akibat hegemoni yang mereka miliki dalam dunia internasional. Kekuasaan imperium di masa lalu yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar seperti Inggris, Perancis, Belanda, Spanyol, dan Portugis yang kerap melebarkan kekuasaannya lewat invasi membuktikan bahwa aspek geopolitik  telah dipakai sejak dahulu, bahkan sebelum negara modern yakni ­nation-state lahir (Short 1993). Latar belakang perluasan kekuasaan ini identik dengan upaya pemenuhan kebutuhan berupa rempah-rempah dan sumber daya alam. Selain alasan material seperti di atas, perluasan sphere of influence juga kadang dilakukan demi alasan nonmaterial. Hal ini bisa kita lihat dari Perang Dingin, dimana terjadi pertarungan ideologi liberalisme yang digawangi oleh Amerika Serikat dengan komunisme yang diusung Uni Soviet. Kedua negara saling bersaing untuk menyebarkan ideologi mereka. Dari sini bisa dilihat bahwa geopolitik memiliki relevansi dari dulu hingga sekarang. Selama masih ada peradaban, khususnya kehadiran space, struggle, people dan state, maka geopolitik tidak akan berakhir. Namun karena dinamika sosial dan internasional yang terus berubah serta adanya globalisasi, geopolitik ini mengalami pergeseran menuju geoekonomi dan geokultural.

Imperium yang begitu berkuasa pun akhirnya harus jatuh akibat adanya Perjanjian Westphalia di tahun 1648, dimana perjanjian ini mengakhiri Perang 30 Tahun yang menimpa imperium Romawi dan Perang 80 Tahun antara Spanyol dan Belanda. Pasca Westphalia, kehidupan dunia modern pun dimulai. Kehidupan modern ditandai dengan lahirnya nation-states yang merupakan manifestasi dari negara modern. Sistem interstate mulai diterapkan oleh suatu negara untuk membina hubungan dengan negara lain. Negara modern memiliki konsepsi hukum dan sistem kenegaraan yang jelas. Batas-batas teritorial telah diputuskan dan model baru kedaulatan mulai diimplementasikan. Negara berdaulat atas teritorinya dan negara lain dilarang melakukan intervensi (Watson 1992: 186 dalam Jackson & Sorensen 2005: 22)

Kehadiran negara sebagai entitas yang berdaulat turut mempengaruhi dinamika internasional yang dulunya berupa negara-kota dan imperium menuju tatanan dunia baru. Adanya perubahan ini membuat tatanan dunia terkotak-kotakkan menjadi beberapa sekat, yakni kelompok negara superpower, major power, dan minor power. Hal itulah yang diyakini oleh Jhon R. Short (1993). Pandangan lain yakni Alfred T. Mahan mengatakan bahwa dengan penguasaan lautan akan membuat negara menjadi kuat. Sebaliknya, Mackinder berpendapat bahwa negara akan menjadi kuat jika menguasai daratan (land as pivot area). Pengelompokan kekuatan negara juga dilakukan oleh Immanuel Wallerstein. Berbeda dengan pemikir lain yang lebih menitikberatkan pemikirannya kepada aspek wilayah, Wallerstein lebih condong pada ekonomi internasional. Ia mencetuskan World System Theory, dimana dunia disubordinasi menjadi tiga, yakni core, semiperiphery, dan periphery. Perekonomian dunia adalah perekonomian kapitalis yang mensubordinatif negara kaya dan negara miskin, dimana negara kaya mengeksploitasi negara miskin. Negara miskin pun bergantung pada negara kaya dan tidak bisa lepas atau berdiri sendiri. Kondisi struktural ini memaksa negara miskin untuk masuk dan terlibat dalam kapitalisme global yang menyebabkan mereka bergantung pada negara kaya. Contohnya adalah ketergantungan negara dunia ketiga terhadap negara superpower seperti Amerika.

Negara modern merujuk pada nation-state. Nation-state modern mengacu pada satu atau beberapa negara yang tergabung dalam serikat politik formal. Dalam nation-state, terdapat bahasa resmi, sistem hukum, pengelolaan sistem mata uang, penggunaan birokrasi untuk mengatur masyarakat, dan mendorong loyalitas kepada entitas abstrak. Contoh nation-state adalah Kanada dan Amerika Serikat (www.townson.edu, n.d). Konsep nation-state berbeda dari "negara" atau "bangsa". Konsep “bangsa” identik dengan sebuah entitas sosial-budaya, persatuan orang-orang yang mampu mengidentifikasi budaya dan bahasa. Konsep ini tidak selalu menganggap serikat politik formal. Sedangkan konsep “negara” identik dengan instansi hukum atau politik yang terdiri dari populasi permanen, wilayah yang didefinisikan, pemerintah, dan kemampuan untuk terlibat hubungan dengan negara-negara lain. Short (1993) menjelaskan bahwa space berhubungan dengan entitas di dalamnya, yakni people, state, dan environment. Sehingga dapat dikatakan bahwa nation-state memiliki entitas-entitas yang saling terkait, berhubungan, dan mempengaruhi dinamika kehidupan.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep geopolitik terus relevan hingga kini, terbukti dengan adanya perluasan sphere of influence dari masa negara-kota, imperium hingga nation-state. Meskipun masih relevan, geopolitik mengalami pergeseran akibat globalisasi dan dinamika lain yang mempengaruhinya. Geopolitik ini mengalami pergeseran menuju geoekonomi dan geokultural.

 

 

 

 

Referensi:

Jackson, Robert & George Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Anonymous (n.d) What is a Nation-State? [WWW] Available from: http://www.towson.edu/polsci/ppp/sp97/realism/whatisns.htm [Accessed 20/ 03/13]

Flint, Colin. 2007. Introduction to Geopolitic. London: Routledge.

Jackson, Robert H., (2001) “The Evolution of International Society,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 35-50.

Prmob. (2012) Polaritas Athena dan Sparta [WWW] Available from: http://id.prmob.net/athena/perang-peloponnesia/spartiate-875797.html [Accessed 20/ 03/13]

Short, Jhon Rennie. 1993. An Introduction to Geographical Politics.  London: Routledge.

Suhelmi, Ahmad. 2001. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Ushistory.org (2013) Rise of City-States: Athens and Sparta [WWW] Available from: http://www.ushistory.org/civ/5a.asp [Accessed 20/ 03/13]

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    273.988