NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

THE IMPORTANCE OF STUDYING GLOBALIZATION

01 March 2013 - dalam Umum Oleh nurlaili-azizah-fisip11

THE IMPORTANCE OF STUDYING GLOBALIZATION

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Globalisasi, satu kata yang sederhana tetapi begitu implikatif terhadap kehidupan manusia dewasa ini. Bagaimana tidak, setiap hari dan setiap waktu globalisasi ini telah menyerang sendi-sendi kehidupan manusia, dari ranah terkecil kehidupan hingga yang terbesar, yakni negara dan interaksinya. Globalisasi ini tidak memiliki definisi secara mapan, karena banyaknya pendapat yang berkembang tentangnya. Globalisasi kerap diidentikkan dengan keleluasaan akses informasi dan menipisnya lintas batas negara. Tiga dimensi penting dalam globalisasi berdasarkan pandangan salah seorang jurnalis senior The New York Times, Thomas I. Friedman, antara lain ideologi, ekonomi, dan teknologi. Dari segi ideologi, globalisasi mengusung kapitalisme. Aspek-aspek yang masuk dalam dimensi ini antara lain sejumlah tata nilai, falsafah individualitas, dan demokrasi (Sulastomo, t.t). Dimensi ekonomi yang diidentikkan dengan globalisasi adalah pasar bebas yang memiliki sejumlah tata nilai yang mewajibkan agreement yang berorientasi pada keterbukaan dan keleluasaan akses barang dan jasa dari satu negara ke negara lain. Dimensi terakhir, teknologi, berkenaan dengan teknologi informasi yang memberikan kesempatan bagi negara-negara untuk menjadi borderless.

Dimensi di atas secara kasat mata akan melahirkan keuntungan-keuntungan tertentu, tapi ketimpangan juga akan selalu terjadi. Negara-negara yang belum siap untuk masuk dalam pusaran globalisasi ujung-ujungnya akan dimanfaatkan oleh negara kaya yang memiliki kapabilitas lebih handal dalam menghadapi globalisasi. Pada akhirnya fenomena ini akan melahirkan kelas-kelas tertentu dalam dunia internasional, yakni kelas atas yang diuntungkan dengan globalisasi dan kelas bawah yang mau tidak mau harus menjadi bawahan kelas atas. Akibatnya, kelas-kelas ekonomi dan grup-grup regional pun akan terbentuk yang membuat ketimpangan secara ekonomi pun semakin nyata terlihat.

Globalisasi juga telah membuka kesempatan bagi aktor nonnegara yang dulunya dianggap kurang memiliki peran. Kini, ranah internasional tidak hanya dihiasi oleh aktor negara saja, namun memberi keleluasaan juga bagi aktor nonnegara untuk ikut memainkan perannya. Beragam isu-isu internasional yang berkembang tidak hanya menyangkut high politics seperti perang, tetapi juga telah menyentuh ranah low politics, misalnya isu gender, lingkungan, kemiskinan, dan sebagainya. Isu-isu tersebut tidak bisa ditangani secara mandiri oleh negara, hal inilah yang memunculkan beragam gerakan maupun organisasi nonpemerintah yang menginginkan adanya pembagian peran untuk membantu menangani isu-isu yang berkembang.

Melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini, mempelajari dan mendalami globalisasi merupakan opsi yang cukup tepat, karena disadari atau tidak globalisasi dan segala kompleksitasnya telah membawa implikasi yang cukup signifikan bagi segala aspek kehidupan manusia. Dalam memahami dan menempatkan diri agar mampu bertahan bahkan menjadi pemegang kemudi atas globalisasi, dibutuhkan sebuah strategi yang komprehensif dan holistik. Hal ini mengindikasikan bahwa studi mengenai globalisasi dan strategi menjadi kian penting, karena isu yang berkembang kian dinamis dan membutuhkan penyelesaian dengan cara yang berbeda namun cerdas dan tepat sasaran. Dengan mengetahui strategi, maka individulah yang akan memegang kendali atas globalisasi, bukan sebaliknya.

Pendekatan strategi yang dirancang haruslah memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu, antara lain mampu mengikuti segala macam dinamika sosial maupun internasional, menyuguhkan konsep teorikal yang inklusif, mengemukakan alternatif solusi yang eksplisit menyangkut dinamika internasional yang sulit diprediksi. Di dalam pendekatan strategis, mind-mapping dan pengorganisasian pemikiran terkait globalisasi juga ikut dilibatkan. Hal inilah yang menjadi salah satu nilai jual dari pendekatan ini. Karakter lain adalah bahwa pendekatan stategi lebih berorientasi pada kapabilitasnya agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Seorang strategist –sebutan untuk orang yang memiliki strategi- mampu melakukan sesuatu yang dibutuhkan lingkungannya dengan kemampuan yang dimilikinya. Seorang strategist bukan follower, justru ia hadir dengan perspektif dan ide yang berbeda dan applicable. Ide yang dicetuskan pun rasional dan dapat dicapai dengan segala fasilitas serta kemampuan yang mendukungnya. Selain itu, strategist juga tidak hanya berkompeten dalam sektor tradisional hubungan internasional (deplu, dephan) saja, namun juga memiliki kapabilitas yang memadai di sektor nontradisional hubungan internasional (perhotelan, pariwisata, MNC, perbankan, dan sebagainya).

 

Referensi:

Sulastomo (t.t) Beberapa Langkah Strategis Menghadapi Globalisasi [WWW] Available from: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=31&coid=1&caid=18&gid=4 [Accessed 27/02/13]

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.670