NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

GREEN PERSPECTIVE

24 June 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

GREEN PERSPECTIVE: LET’S CARE AND LOVE OUR ENVIRONMENT!

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Hubungan internasional seringkali identik dengan hubungan atau interaksi yang melibatkan antarnegara, bagaimana memperoleh atau meningkatkan power, memperjuangkan kepentingan, dan sebagainya. Tanpa disadari, isu nonnegara seperti lingkungan hidup telah dilupakan. Padahal, lingkungan hidup juga mampu memegang peranan krusial dalam kehidupan. Teori-teori mainstream yang mencuat ke permukaan seringkali hanya menitikberatkan pada aspek kenegaraan ataupun pada sifat alami manusianya saja dan melupakan aspek penting lainnya, salah satunya adalah lingkungan hidup. Namun, lebih dari tiga dekade terakhir, isu lingkungan hidup akhirnya hadir dan menyita perhatian. Tidak dapat dipungkiri, jumlah penduduk yang semakin membludak, seperti di negara Barat, mulai mengancam lingkungan hidup karena aktivitas sosial dan ekonomi manusia yang sedang berlangsung tidak mengindahkan kemaslahatan lingkungan hidup. Populasi warga dunia yang tidak bisa dibendung mengakibatkan standar kehidupan yang semakin meningkat dan hal ini merupakan ancaman potensial bagi lingkungan hidup. Global warming, polusi udara, hujan asam, peningkatan produksi gas CFC (Chlorofluorocarbon) juga menjadi  masalah lingkungan yang cukup pelik yang tengah dihadapi dunia. Kondisi lingkungan hidup yang semakin memprihatinkan akhirnya membuka mata para pakar maupun penstudi HI, bahwa dunia ini bergerak menuju degradasi. Hal itulah yang menjadikan HI memasukkan isu lingkungan hidup ke dalam salah satu kajiannya. Meskipun menjadi agenda internasional, tetap saja isu lingkungan hidup ini tidak memiliki porsi besar dalam HI. Burchill dan Linklater mengungkapkan bahwa isu terkait lingkungan hidup telah muncul pertengahan tahun 1970an ke atas, dan seringkali posisi isu tersebut mengarah ke arah global. Hal tersebut mengakibatkan tulisan-tulisan para pemikirnya dan gerakan-gerakan yang digawanginya tak ayal korelatif dengan Hubungan Internasional. Pemikiran terkait lingkungan hidup ini memiliki sebutan yang berbeda-beda, misalnya Politik Hijau, Green Perspective, atau Green Theory.

Isu mengenai lingkungan hidup ini mempertemukan dua kubu yang saling berlawanan, yakni kaum modernis dan ekoradikal. Kaum modernis meyakini bahwa masalah lingkungan hidup bukanlah masalah serius, karena perkembangan dan kemajuan dalam iptek memungkinkan kita untuk melindungi lingkungan hidup. Dengan penguasaan manusia terhadap iptek, maka manusia bisa meningkatkan keahlian dalam menguasai maupun menjaga lingkungan. Pendapat ini ditentang oleh kaum ekoradikal yang menyatakan bahwa isu lingkungan hidup merupakan masalah serius. Mereka meyakini bahwa manusia di muka bumi ini terancam pada batas daya tampung planet, dan oleh sebab itu mereka menuntut perubahan dengan cara pengendalian populasi yang ketat, perubahan gaya hidup modern menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, mereduksi tingkat konsumerisme, dan mereduksi produksi sampah. Jika upaya pengendalian terhadap masalah lingkungan hidup tidak dilakukan, tentunya keselamatan ekosistem lingkungan akan terancam dan tidak ada satupun teknologi yang mampu mengatasi degradasi yang ditimbulkannya. Oleh sebab itu, kubu ekoradikalisme sangat gencar melakukan kampanye terkait pentingnya menjaga lingkungan hidup. Degradasi lingkungan hidup membawa dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan manusia. Tidak hanya berpotensi menimbulkan konflik di tingkat regional, konflik terkait degradasi lingkungan ini juga bisa mengarah ke tingkat global. Selain menuntut perubahan gaya hidup dalam kehidupan sehari-hari manusia, kubu ini juga menuntut perubahan terkait aspek politik dan ekonomi, caranya dengan mempertimbangkan aspek lingkungan hidup dalam setiap pengambilan keputusan dan pengambilan kebijakan. Penganut ekoradikalis menolak paradigma mengenai antroposentrisme yang memposisikan manusia sebagai porsi terbesar dalam kehidupan, sehingga manusia bisa mengeksploitasi alam sesuka hatinya tanpa memperhatikan ekologi. Penolakan ekoradikalisme ini selanjutnya disebut ekosentrisme. 

Ekosentrisme memandang dunia sebagai sesuatu yang memiliki interelasi, tidak hanya entitas dari individu. Burchill dan Linklater (1996) mengungkapkan bahwa setiap makhluk hidup secara natural memiliki keterikatan terhadap alam, oleh karena itu mereka tidak bisa dibeda-bedakan atas aspek material yang mereka miliki. Green Perspective meyakini bahwa sejarah yang terjadi pada manusia adalah sesuatu yang sepatutnya terjadi secara natural, bukan buah rekayasa. Jika yang terjadi adalah buah dari rekayasa manusia, maka akan terjadi inekuilibrium pada ekosistem yang bisa menjurus pada kefatalan kehidupan. Robyn Eckersley (2007) mengungkapkan bahwa ekosentrisme memiliki pijakan berupa nilai etis, di mana manusia adalah bukan satu-satunya organisme yang diciptakan dan ia tidak berhak mengeksploitasi  alam sekitarnya. Terdapat emansipasi dalam pemanfaatan sumber daya alam yang diberikan kepada manusia dan makhluk lainnya, hal ini mengakibatkan adanya jaminan kesamaan hak antar makhluk untuk hidup dalam kondisi alam yang nyaman karena absennya perusakan (rekayasa). Ekosentrisme ini merupakan pilar utama dalam Green Perspective, di mana ia memusatkan dirinya pada entitas lingkungan yang notabene merupakan entitas selain manusia.

Untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan alam dan kehidupan, politik global adalah kuncinya. Banyak yang mengharapkan agar politik global ini mampu memberikan regulasi dan mengatur negara untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup. Aliran ekoradikalisme ini menuai kritik berupa anggapan bahwa kehadiran politik global tidak serta merta memberi solusi atas krisis lingkungan yang terjadi. Hal ini disebabkan karena problem solving dalam politik global akan selalu mengutamakan human interest dibanding kondisi ekosistem maupun makhluk lain. Tentu saja hal ini mengindikasikan bahwa politik global masih berpikiran layaknya antroposentrisme.

Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling berinteraksi dan terkait. Partisipasi mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup merupakan hal yang sangat krusial. Manusia juga hendaknya memperhatikan nilai dan norma dalam memanfaatkan sumber daya alam, jangan sampai hanya memikirkan keuntungan material semata. Berbeda dengan teori mainstream Hubungan Internasional yang hanya terpaku pada negara, human nature, interest, dan power, Green Perspective ini telah membuka mata kita untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup. Menanggapi keprihatinan terkait krisis lingkungan, mulailah dibentuk rezim lingkungan hidup, misalnya Protokol Kyoto. Meskipun masih belum efektif, namun kehadiran protokol ini patut diapresiasi karena merupakan langkah awal negara-negara untuk mencari solusi atas krisis lingkungan yang tengah terjadi. Penulis berharap ke depannya kesadaran negara-negara dalam menyikapi dan mencari solusi terkait masalah lingkungan hidup ini semakin tinggi, karena dampak dari masalah lingkungan hidup ini bukan hanya berimbas terhadap satu atau dua negara saja, melainkan seluruh negara di dunia.

 

Referensi:

Burchill, S., Andrew, L., Donnely, J., Devetak. R., True, J., Paterson, M., Reus-Smit, C., (1996)  Theories of International Relations, New York: Palgrave Macmillan.

Eckersley, Robyn, 2007. Green Theory, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 247-265.

Sorensen, Georg dan Robert Jackson. 2005. Pengantar Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Steans, Jill and Pettiford, Lloyd & Diez, Thomas, 2005. Introduction to International Relations, Perspectives & Themes, 2nd edition, Pearson & Longman, Chap. 8, pp. 203-228.

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.111