NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

Strategic Choice Partnership in Asymmetric Globalized Power-Relationship

21 June 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Strategic Choice Partnership in Asymmetric Globalized Power-Relationship

Oleh : Nurlaili Azizah (071112001)

Dewasa ini, pengaruh globalisasi semakin tidak terelakkan. Globalisasi telah menyerang hampir semua sendi-sendi kehidupan manusia, baik di ranah politik maupun sosial, ekonomi, dan budaya. Globalisasi juga telah menyebabkan negara-negara berpikir keras agar bisa survive dalam iklim perpolitikan internasional yang semakin hari semakin tidak bisa diprediksi. Tidak dapat dipungkiri, konsep hubungan internasional yang konvensional kini telah ditransformasikan oleh globalisasi menuju konsep yang modern dan menuntut negara-negara untuk beradaptasi secara cepat. Negara-negara juga dituntut untuk mengembangkan hubungan bilateral maupun multilateral yang lebih kondusif dan fleksibel. Sudah bukan rahasia lagi jika aktor nonnegara juga turut ambil bagian dalam kancah percaturan dunia. Peran dan pengaruh aktor nonnegara semakin nyata dirasakan seiring munculnya MNCs, NGOs, dan sejenisnya, yang turut mewarnai hubungan internasional. Negara sudah dianggap bukan lagi sebagai aktor tunggal yang mengambil kemudi atas jalannya hubungan internasional. Perspektif realisme dan neorealisme yang menganggap negara sebagai aktor utama dinilai sudah tidak efektif lagi, karena gerak negara kini diikuti juga oleh aktor nonnegara. Globalisasi telah membuka jalan bagi lahirnya perspektif baru yang berupaya mencari kerelevansian asumsi mereka dengan kondisi internasional masa kini.

Perspektif hubungan internasional kontemporer semacam kosmopolitanisme dan feminisme mencuat sebagai pembuka pandangan terkait hubungan internasional dengan globalisasi. Di dalam hubungan internasional, konsep globalisasi masih melahirkan banyak kontroversi, karena globalisasi belum memiliki definisi yang benar-benar mapan, kecuali sebatas definisi kerja saja, sehingga tergantung dari perspektif mana orang melihatnya. Beberapa pakar mengemukakan pandangannya mengenai globalisasi ini. Emanuel Richter berpandangan bahwa globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Sedangkan Princenton N. Lyman berpendapat bahwa globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara negara-negara di dunia dalam hal perdagangan dan keuangan. Yang sekarang masih menuai perdebatan mengenai globalisasi adalah kemanakah nantinya arah globalisasi ini, cenderung state-centric atau nonstate-centric. Perdebatan semacam ini melahirkan interpretasi yang berbeda-beda, tergantung pada perspektif masing-masing. Namun, perspektif kontemporer yang memiliki asumsi beraneka ragam ternyata belum mampu menghadirkan solusi yang konkret atas problematika internasional yang ada.

Globalisasi menuntut redefinisi dan transformasi ulang terhadap teori dan perspektif yang sudah lebih dahulu ada. Kini, dunia membutuhkan sebuah pendekatan strategis yang berimbang dalam memaknai segala fenomena akibat globalisasi. Pendekatan yang seperti ini sangat penting dalam mengambil sikap yang tepat terkait menyikapi globalisasi. Kualifikasi pendekatan strategis adalah harus mampu mengikuti segala macam dinamika sosial secara global. Selain itu, pendekatan strategis harus mampu menyuguhkan konsep teoritikal yang inklusif dan alternatif solusi yang eksplisit terkait kondisi perpolitikan internasional yang sulit ditebak. Hal ini sudah seharusnya dikedepankan mengingat teori mainstream yang selama ini hanya menyentuh ranah permukaan permasalahan tanpa mencabut masalah sampai akarnya. Pengorganisasian pemikiran mengenai politik internasional yang efektif juga merupakan keuntungan yang disuguhkan oleh pendekatan strategis. Kapabilitasnya dalam aspek eksplisitas dan efisiensi telah membuka jalan bagi interpretasi-interpretasi yang saling bersinggungan untuk saling bertemu dan berintegrasi. Inilah yang selanjutnya menjadi karakteristik dari pendekatan strategis dalam memberikan solusi atas perbedaan interpretasi yang terjadi pada teori konvensional. Karakter yang lain adalah bahwa pendekatan ini lebih menitikberatkan pada problem solving dan pengaplikasian dalam dunia nyata dibanding hanya sekedar teori.

Terdapat dua tipe aktor dalam hubungan internasional, yakni state actors dan substate actors. Pendekatan strategis memandang bahwa isu-isu krusial yan mencuat dalam perpolitikan internasional dapat dikaji dan dipelajari. Interaksi substate actors diasumsikan secara efektif dan efisien yang membuahkan agregat para aktor terhadap negara, hal ini selanjutnya mengakibatkan interaksi antara substate actors dengan negara.

Pendekatan strategis sepatutnya mampu menjawab fenomena hubungan internasional yang kian tidak bisa diprediksi. Kebutuhan akan global strategist menjadi tidak terelakkan. Menyikapi hal ini, Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga akhirnya merancang kurikulum pembelajaran yang strategis dan komprehensif, yang bermaksud menghasilkan global strategist dengan kompetensi analisis, komunikasi, negosiasi, dan manajerial global.  Seorang strategist bisa melakukan sesuatu yang dibutuhkan lingkungannya dengan apa yang dimilikinya. Seorang strategist bukan pengikut, justru ia hadir dengan perspektif dan ide yang berbeda dan applicable. Tidak hanya ide yang applicable saja, namun ide itu rasional dan dapat dicapai dengan segala fasilitas serta kemampuan yang mendukungnya. Selain itu, stratregist juga tidak hanya berkompeten dalam sektor tradisional hubungan internasional (deplu, dephan, dan sebagainya) saja, namun juga memiliki kapabilitas yang memadai di sektor nontradisional hubungan internasional (perhotelan, pariwisata, MNC, perbankan, dan sebagainya). Selain itu, Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga juga membekali anak didiknya dengan Mata kuliah Strategi dan Tata Kelola Strategis yang nantinya diharapkan dapat menghasilkan lulusan dengan kemampuan strategis mumpuni. Terakhir, pendekatan strategis diharapkan mampu mengembalikan posisi dan peran antara negara, market, dan society ke kodratnya semula, di mana negara harus menjadi aktor yang paling akuntabel, market harus menjunjung tinggi responsibilitas, dan society (masyarakat) harus berperilaku sesuai dengan solidaritas komunal.

 

 

Referensi:

Clark, Ian, 2001. Globalization and the post-cold war order, in; John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, pp. 614-648.

Hay, Colin, 2007. International Relations Theory and Globalization, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 266-287.

Lake, David A. & Powell, Robert, 1999. International Relations: A Strategic-Choice Approach, in; David A. Lake & Robert Powell (eds.), Strategic Choice and International Relations, Princeton University Press, pp. 3-38.

Linklater, Andrew, 2001. Globalization and the transformation of political community, in; John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, pp. 617-633.

Weber, Cynthia, 2005. International Relations Theory, A Critical Introduction, Routledge, Chap. 6 pp. 103-122.

 

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.119