NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

THE FUTURE OF INTERNATIONAL RELATIONS

17 June 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN MASA DEPANNYA

Oleh : Nurlaili Azizah (071112001)

Studi Hubungan Internasional dewasa ini menjadi salah satu kajian keilmuan sosial yang cukup penting di ranah pendidikan. Bagi orang awam yang pernah mendengar sekilas tentang studi HI, mayoritas akan beranggapan bahwa studi ini memiliki kajian dan perspektif yang jelas, yakni mengkaji bagaimana hubungan dan interaksi antarnegara di dunia dibangun, membahas konflik internasional, dan sebagainya.  Namun, tanpa banyak orang awam ketahui, studi HI diwarnai dengan perdebatan-perdebatan yang telah memberikan paradigma tersendiri dan memperkaya ranah keilmuan HI itu sendiri. Sejarah mencatat beberapa perdebatan besar yang terjadi, diantaranya realis versus liberalis, tradisionalis versus behavioralis, dan interparadigm debate. Kadang banyak yang mempertanyakan kenapa seorang penstudi HI harus belajar ilmu yang bahkan dipenuhi dengan perdebatan. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, berbagai macam perdebatan yang mencuat melibatkan perspektif yang berbagai macam pula. Perspektif-perspektif ini tidak dapat dipungkiri telah membuat studi HI mampu mengartikan dan memaknai segala fenomena internasional yang terjadi. Perdebatan-perdebatan inilah yang menyebabkan studi HI menjadi suatu disabling discipline. Dikatakan demikian karena studi ini dianggap kurang memiliki pakem yang konkret dan jelas, pada akhirnya ketidakjelasan ini kadang membuat seseorang mengalami kebingungan mengapa ia harus mempelajari dan mengkaji studi yang bahkan tidak diketahui kejelasan tujuannya.

Studi HI memang kaya akan perspektif dan paradigma. Realisme −yang notabene sangat pesimistis dan skeptis− berpandangan bahwa manusia pada dasarnya berkarakter buruk. Realisme juga beranggapan bahwa hubungan internasional adalah hubungan yang sarat akan konflik daripada kooperatif. Dengan demikian, kaum realis berjalan dengan asumsi dasar bahwa politik dunia berkembang dalam anarki internasional: yaitu sistem tanpa adanya kekuasaan yang berlebihan, tidak ada pemerintahan dunia (Jackson & Sorensen, 1999). National Security dan kelangsungan hidup negara merupakan dasar normatif realisme. Negara juga dipandang sebagai yang paling utama dalam penyelenggaraan kekuasaan.  Bertolak belakang dengan pandangan realisme, liberalisme menganggap bahwa karakter manusia sebenarnya adalah baik. Mereka sangat optimis terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip-prinsip rasional dapat dipakai pada konflik-konflik internasional. Kaum liberalis juga berpandangan bahwa hubungan internasional dapat bersifat kooperatif daripada konfliktual. Kaum ini juga sangat percaya dengan kemajuan. Dalam konsepsinya tentang kerjasama internasional, teoritisi liberal menekankan bentuk politik dunia yang berbeda (Jackson & Sorensen, 1999). Liberalisme dibagi menjadi empat aliran paradigma utama, yakni liberalisme sosiologis, liberalisme interdependensi, liberalisme institusional, dan liberalisme republican. Liberalisme sosiologis menitikberatkan hubungan transnasional yang bersifat non-government di antara warga dunia, misalnya komunikasi antarindividu dan antarkelompok. Liberalisme interdependensi mengkhususkan diri pada economic relations dalam pertukaran dan dependensi yang menguntungkan rakyat dan pemerintah. Liberalisme institusional menekankan betapa substansialnya kerjasama yang saling terorganisir antarnegara, sedangkan liberalisme republikan berpandangan bahwa konstitusi demokratik liberal dan bentuk pemerintahan adalah paling vital dalam menyelenggarakan hubungan yang damai dan kooperatif antarnegara. Liberalisme menaruh perhatian besar terhadap kebahagiaan dan kesenangan individu. Berbeda dengan kaum realis yang melihat negara yang paling utama sebagai sentralisasi dan instrumen kekuasaan, liberalisme menganggap negara sebagai suatu entitas konstitusional yang membentuk dan menjalankan hukum yang menghormati hak warga negara untuk hidup, bebas, dan sejahtera.

Teori lain, yakni Masyarakat Internasional, menekankan pendekatan historis dan institusional terhadap politik dunia yang berfokus pada manusia dan nilai-nilai politiknya. Mereka berasumsi bahwa hubungan internasional adalah cabang dari hubungan manusia yang berisikan nilai-nilai dasar seperti kemerdekaan, keamanan, keadilan, dan ketertiban. Kaum ini juga meminta para penstudi HI untuk untuk menginterpretasikan pemikiran dan aksi masyarakat yang mencuat dalam hubungan internasional. Sedangkan EPI yang terdiri dari teori merkantilisme, liberalisme ekonomi, dan neo-Marxisme berfokus pada (1) hubungan politik dan ekonomi, (2) pembangunan dan keterbelakangan di Thirl World, dan (3) sifat dan kompleksitas globalisasi ekonomi.

Berbagai macam teori dan paradigma di atas telah memberikan sumbangsih besar terhadap keilmuan HI. Dapat dikatakan bahwa mempelajari HI sama saja dengan mengkaji teori-teori di dunia yang dimasukkan dalam suatu disiplin ilmu. Mempelajari HI tidak bisa dilihat dari satu teori atau satu paradigma saja, tetapi harus secara holistik dan tidak mengabaikan teori lainnya.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan akan global strategists menjadi tidak terelakkan. Global strategists tidak hanya mampu menjelaskan dan memaknai fenomena keseharian hubungan internasional, namun juga memiliki kompetensi analisis, komunikasi, negosiasi, dan manajerial global. Seorang strategist bisa melakukan sesuatu yang dibutuhkan lingkungannya dengan apa yang dimilikinya. Seorang strategist bukan pengikut, justru ia hadir dengan perspektif dan ide yang berbeda dan applicable. Tidak hanya ide yang applicable saja, namun ide itu rasional dan dapat dicapai dengan segala fasilitas serta kemampuan yang mendukungnya. Selain itu, stratregists juga tidak hanya berkompeten dalam sektor tradisional hubungan internasional (deplu, dephan, dan sebagainya) saja, namun juga memiliki kapabilitas yang memadai di sektor nontradisional hubungan internasional (perhotelan, pariwisata, MNC, perbankan, dan sebagainya). Dapat dikatakan bahwa kebutuhan akan global strategists menjadi hal yang cukup esensial dalam perkembangan dunia yang semakin cepat ini. Masa depan HI juga amat ditentukan oleh strategists ini.

 

 

Referensi:

  1. Dept. Hub. Int’l., Roadmap Pengembangan Departemen Hubungan Internasional
  2. Jackson, R., &. Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press.
  3. Darby, Phillip (2008) “A Disabling Discipline?” in Reus-Smit, Christian & Snidal, Duncan (eds.), The Oxford Handbook of International Relations, Oxford University Press, pp. 94-108.

 

 

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.121