NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

PENGARUH GLOBALISASI DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL

17 June 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

GLOBALISASI, KOMPLEKSITAS, DAN IMPLIKASINYA

Oleh : Nurlaili Azizah (071112001)

Dewasa ini, globalisasi menjadi salah satu topik perbincangan hangat bagi sebagian besar warga dunia, terutama bagi para pengamat studi hubungan internasional. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah globalisasi pada tahun 1985. Seperti namanya, globalisasi terjadi secara menyeluruh di seantero dunia, dirasakan secara kolektif, menyamarkan bahkan menghilangkan lintas batas negara, dan secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi gaya hidup serta budaya manusia. Definisi globalisasi itu sendiri memang luas cakupannya. Tiap pakar juga memiliki konsep dan perspektif berbeda-beda mengenai definisi globalisasi ini. Menurut Malcom Waters, globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma di dalam kesadaran orang. Sedangkan Emanuel Richter menyatakan bahwa globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Berbeda dengan keduanya, Princenton N. Lyman berpendapat bahwa globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atas saling ketergantungan dan hubungan antara negara-negara di dunia dalam hal perdagangan dan keuangan. Dan menurut konsep Thomas L. Friedman, dimensi globalisasi ada dua, yakni ideologi dan teknologi. Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.

Dari konsep di atas, secara sederhana globalisasi dapat didefinisikan sebagai proses yang memungkinkan individu, kelompok, maupun negara untuk saling berinteraksi, bergantung, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas-batas geografis, budaya, dan ekonomi. Globalisasi juga berkaitan dengan tiga aspek penting, yakni contraction, compression, dan expansion. Esensi dari contraction adalah ketegangan yang melanda dunia karena ada fenomena yang menggemparkan, misalnya penggunaan nuklir oleh AS untuk meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki (1945) dan peluncuran satelit Sputnik oleh Rusia (1957). Sesuai namanya, compression lebih menekankan pada pemampatan ruang dan waktu, di mana manusia bisa saling berkomunikasi dan bertukar informasi dengan manusia lain di region bahkan negara yang berbeda dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi lewat jejaring sosial, kapan saja dan di mana saja (space and time does not matter). Dan expansion tujuannya lebih kepada langkah politik untuk menguasai negara lain, contohnya adalah ekspansi AS ke Irak beberapa tahun silam. Beberapa pihak mengatakan bahwa ekspansi ini berkaitan dengan kepentingan AS untuk menduduki ladang minyak Irak. Sejatinya, globalisasi belum memiliki definisi yang benar-benar mapan, kecuali sebatas definisi kerja saja, sehingga tergantung dari perspektif mana orang melihatnya.

Tidak dapat dipungkiri, globalisasi dan segala kompleksitasnya telah membawa implikasi yang cukup signifikan bagi segala aspek kehidupan manusia. Globalisasi semakin tidak bisa dihindari dan terus berjalan selama peradaban manusia masih ada. Seperti yang dijelaskan di atas, pertukaran teknologi, informasi, ideologi, dan ekonomi menjadi semakin mudah dan cepat. Teknologi semacam internet, ponsel, dan gadget lainnya berkembang sedemikian cepatnya, hal ini tentu saja mengindikasikan kepesatan komunikasi global. Begitu juga yang terjadi di bidang ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya dependensi ekonomi antarnegara akibat pertumbuhan aktivitas perdagangan internasional. Peran dan dominasi perusahaan multinasional pun semakin bercokol kuat. Interaksi individu, kelompok, bahkan negara juga mengalami perkembangan seiring dengan pesatnya pertumbuhan media massa yang memungkinkan kita untuk menemukan gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya di bidang kuliner, fashion, dan literatur. Di sisi lain, masalah-masalah internasional pun mengalami peningkatan, misalnya krisis lingkungan hidup, krisis ekonomi global, dan sederet masalah lainnya.

Globalisasi memang telah menyerang sendi-sendi kehidupan manusia. Fenomena globalisasi ekonomi yang paling konkret yang terjadi di negara kita adalah kehadiran PT Freeport di Indonesia (Papua) yang notabene adalah perusahaan pertambangan milik AS. Perusahaan ini telah beroperasi di Indonesia sejak 1967. Hasil tambang Freeport berupa emas, tembaga, dan perak adalah yang terbesar di dunia. Namun, tanpa kita sadari, kehadiran Freeport telah membawa dampak yang cukup merugikan bagi perekonomian Papua dan Indonesia sendiri. Segala macam fasilitas, tunjangan, dan keuntungan yang dinikmati para petinggi freeport besarnya 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Mimika, Papua, yang hanya sekitar $132/tahun. Setiap hari Freeport menghasilkan 225 ribu ton bijih emas, bahkan Reuters pernah melansir 4 pimpinan besar Freeport menerima tidak kurang Rp. 126,3 M/bulan atau sekitar 1,5 T/tahun. Hal ini sangat bertolak belakang dari APBD yang hanya ditargetkan 5,28 T. Pada 10 Agustus 2009,  Investor Daily juga sempat melansir bahwa 60% pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia. Keuntungan yang diperoleh Freeport ini sama sekali tidak melahirkan kesejahteraan bagi Indonesia terutama bagi penduduk sekitar, bahkan kemiskinan dan kerusakan hutan pun semakin nyata terjadi. Yang lebih mencengangkan lagi, lebih dari 66 % penduduk miskin Papua adalah penduduk asli yamg tinggal wilayah operasi Freeport di pegunungan tengah. Kapitalisme model baru yang dilakukan Freeport ini sungguh sangat membuat miris.

Globalisasi ibarat sebuah koin dengan sisi berbeda. Di satu sisi, globalisasi memberi implikasi positif, diantaranya adalah kepesatan perkembangan IPTEK, mobilitas tinggi, memunculkan sikap kosmopolitan dan toleran, sarana pemacu untuk meningkatkan self-capability, terbukanya pasar internasional, dan sebagainya. Namun, di sisi lain, globalisasi juga membawa implikasi negatif, misalnya perilaku konsumtif, informasi yang tidak tersaring, menurunnya rasa bangga dan cinta terhadap produk dalam negeri karena merebaknya produk luar negeri yang dianggap lebih berkualitas, menurunnya rasa nasionalisme, dan sederet efek negatif lainnya.

Globalisasi juga berimplikasi terhadap studi HI. Kajian studi HI yang dulu hanya mengenai negara, kini seiring globalisasi, kajiannya semakin luas dan kompleks. Kajian tidak hanya berfokus pada negara sebagai aktor utama, tetapi juga merambah pada aktor nonnegara yang perannya semakin tidak terbantahkan. Aktor nonnegara yang dulu dianggap kurang substansial, kini eksistensi dan pengaruhnya semakin nyata. Hal inilah yang secara mendalam dikaji oleh studi HI. Secara langsung maupun tidak langsung, globalisasi telah memaksa penstudi HI untuk tidak berpatokan pada aspek-aspek tertentu saja. Globalisasi membawa perubahan besar terhadap isu-isu yang dibahas dalam studi HI, dulu hanya berfokus pada seputar ekonomi, politik, dan keamanan, kini mengalami peningkatan dan kompleksitas. Topik-topik krusial seputar krisis lingkungan, krisis ekonomi, dan sederet krisis global lainnya juga menjadi topik krusial yang harus dikaji lebih dalam. Dapat disimpulkan, globalisasi telah menggiring studi HI ke dalam kajian yang semakin kompleks dan global.

 

 

Referensi:

Soeprapto, R. Hubungan Internasional, Sistem, Interaksi, dan Perilaku, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997.

 



 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.243