NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

MAIN PERSPECTIVES IN IR (1)

17 June 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

GREAT DEBATES 

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Dalam studi Hubungan Internasional, setidaknya ada tiga perdebatan besar (Great Debate) yang menjadi dasar pemikiran studi ini. Tiga perdebatan besar itu adalah realisme versus liberalisme utopian (idealisme), tradisionalisme versus behavioralisme, dan positivisme versus posmodernisme.

First Debate datang dari perdebatan realisme melawan liberalisme. First Debate ini terjadi antara rentang waktu 1920-1940an. Awalnya, perdebatan ini membawa isu-isu politik masa Perang Dunia yang hendak diterjemahkan dalam teori-teori hubungan internasional. Isu politik ini adalah menyangkut bagaimana membangun perdamaian internasional.

Tradisi liberalisme yang merupakan aliran pemikiran dalam studi Hubungan Internasional muncul pertama kali setelah Perang Dunia 1. Menurut Jill Steans, asumsi-asumsi dasar liberalisme antara lain meyakini bahwa manusia adalah makhluk rasional, menempatkan kebebasan individu di atas segalanya, berpandangan positif terhadap karakteristik manusia, yakin terhadap kemajuan, dan menentang pembagian antara wilayah domestik dan internasional.

Dalam studi awal HI, kaum liberalis memfokuskan diri bagaimana mengusahakan perdamaian global agar tidak terjadi perang dunia selanjutnya. Perang Dunia 1 telah membawa kesedihan mendalam bagi para korbannya. Oleh karena itu, kaum liberalis menganggap bahwa untuk menciptakan perdamain dunia dan menghindari perang adalah  dengan cara membentuk organisasi internasional yang mewadahi kepentingan dan tujuan negara-negara. Paham liberalis ini diperkenalkan oleh Woodrow Wilson yang merupakan Presiden AS pada saat itu, ia memiliki misi untuk membawa nilai-nilai demokratis liberal ke Eropa dan ke seluruh dunia. Akhirnya Liga Bangsa-Bangsa didirikan melalui Konferensi Perdamaian Paris pada 1919.

Bertolak belakang dengan kaum liberalis, kaum realis menganggap bahwa perang lebih disebabkan karena sifat dasar manusia yang egois dan selalu mengejar kepentingannya. Kaum realis juga beranggapan bahwa angan liberalis untuk menciptakan perdamaian dunia lewat LBB itu terlalu utopis.

Menurut Jackson dan Sorensen, ide dan asumsi dasar kaum realis adalah: (1) pandangan pesimis atas sifat dasar manusia; (2) keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui perang; (3) menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara; (4) skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang terjadi dalam kehidupan politik domestik.

Keberhasilan pemikiran realisme dibuktikan dengan meletusnya Perang Dunia II (1941), tentu saja hal ini menyiratkan kegagalan LBB dalam menjaga perdamaian dunia. Hal ini secara otomatis mengindikasikan kegagalan pemikiran liberalisme yang menyatakan bahwa perdamaian dunia bisa dicapai dengan pembentukan organisasi internasional. Setelah liberalisme jatuh, pemikiran realisme berkembang semakin pesat. Sebelumnya, realisme klasik telah lebih dahulu hadir dengan pemikiran Thucydides –kepentingan dan tuntutan kekuasaan−, Machiavelli –politik kekuasaan−, dan Hobbes –prinsip negara kedaulatan−.

Kemenangan realisme dalam First Debate berimplikasi pada kemerosotan tradisi liberalisme utopian dalam studi hubungan internasional, walau ini tidak dapat dikatakan secara permanen. Akhirnya, realisme menjadi paradigma dominan yang dipakai para pengkaji studi HI.

Second Debate dalam studi HI yang terjadi pada era 1960an mempertemukan kaum tradisionalis yang menggunakan metode holistik dengan kaum behavioralis yang mengedepankan penerapan metode ilmiah dalam menjelaskan fenomena hubungan internasional. Pendekatan tradisional merupakan pendekatan holistik yang menerima kompleksitas dunia manusia, melihat hubungan internasional sebagai bagian dari dunia manusia, dan berupaya memahaminya dengan cara-cara kemanusiaan. Pendekatan tradisional tidak memiliki metodologi eksplisit. Pendekatan ini juga tidak membuat kerangka hipotesis dan pengujiannya, tidak menjalankan alat-alat observasi yang formal, tidak mengumpulkan dan mengorganisasikan data.

Sebaliknya, kaum behavioralis meyakini akan kemampuan prediksi atau analisis kemungkinan dalam mempelajari hubungan antarmanusia melalui ukuran-ukuran yang tepat. Pendekatan ini mengedepankan pada metode dan metodologi saja. Bisa dikatakan pendekatan ini memakai sikap dan metode ilmiah. Metodologi yang dipakai misalnya pengukuran, klasifikasi, generalisasi, dan akhirnya pengesahan hipotesis, yaitu, pola perilaku yang dijelaskan secara ilmiah.

Dari penjelasan di atas, kaum behavioralis menganggap bahwa kaum tradisionalis mengabaikan perumusan dan pengujian hipotesis. Di sini jelas bahwa ilmuwan behavioralis mengarahkan kegiatan observasi mereka terhadap sebanyak mungkin kasus demi mencari pola berulang. Namun, banyak kaum tradisionalis yang meragukan pandangan kaum behavioralis dalam melakukan metode ilmiah ini, karena menurut mereka fenomena-fenomena hubungan internasional terlalu kompleks dan tidak semuanya bisa direpresentasikan dalam bentuk variabel-variabel.

Dalam second debate ini, behavioralisme memang mendominasi. Namun, pada akhirnya tidak terdapat pemenang dalam perdebatan ini. Kedua pendekatan –tradisionalisme dan behavioralisme− ini akhirnya sama-sama digunakan dalam studi HI. Kombinasi dari keduanya melahirkan konsep neorealisme dan neoliberalisme. Perubahan dalam teori liberalisme menjadi neoliberalisme ini bisa dilihat pada penggunaan teori-teori dan pemakaian metode-metode baru yang ilmiah yang sebelumnya tidak ada dalam teori liberalisme klasik. Neoliberalisme juga melahirkan aliran-aliran liberalisme, yakni liberalisme sosiologis, interdependensi, institusional, dan republikan. Perubahan juga terjadi dalam realisme. Jika pada realisme klasik perhatian utama ditujukan pada pemimpin negara dan penilaian subjeknya tentang hubungan internasional, maka neorealisme lebih berfokus pada struktur sistem −khususnya distribusi kekuatan relatif− dan aktor-aktor negara dianggap kurang penting.

 Third Debate dalam HI mempertemukan positivisme dan posmodernisme. Positivisme merupakan warisan dari behavioralisme. Positivisme pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte. Menurut Comte, ilmu pengetahuan adalah instrumen untuk mencapai kemajuan manusia. Ia juga mengatakan bahwa ilmu pengetahuan harus didasarkan pada penelitian yang empiris. Penelitian merupakan kunci untuk membangun teori ilmiah. Menurut Comte, ada empat cara pengumpulan data, yakni observasi, eksperimen, perbandingan, dan analisis historis. Inti positivisme adalah epistemologinya, yang menegaskan bahwa ilmuwan dapat membuat generalisasi tentang dunia sosial, termasuk hubungan internasional, yang dapat diuji (Jackson & Sorensen, 1999:294). Kaum positivis cenderung mengarah pada kuantifikasi, termasuk penggunaan model matematik. Kaum ini juga beranggapan bahwa studi ilmiah harus bebas-nilai dalam dirinya sendiri.

Pandangan positivisme ditentang oleh posmodernisme. Posmodernisme menganggap bahwa positivisme adalah epistemologi yang gagal. Posmodernisme adalah paham yang mencoba menggugat modernisme. Kaum modern percaya bahwa kebenaran berasal dari hasil pengamatan dan pertimbangan rasio terhadap suatu benda atau hal secara objektif. Teoritisi HI posmodern menolak anggapan tentang realita, tentang kebenaran, tentang pemikiran bahwa ada pengetahuan yang terus meluas tentang dunia manusia (Jackson & Sorensen, 1999:303). Mereka menolak pemikiran kebenaran objektif. Menurut mereka, segala sesuatu yang melibatkan manusia adalah subjektif. Tidak ada landasan yang benar-benar netral dan utuh. Menurut posmodernisme, tidak ada satu hal yang bersifat permanen dan universal. Kekuatan posmodernisme antara lain penurunan ego dan kesombongan akademik. Sedangkan kelemahannya adalah kritik teori ini dapat berbalik dan menjadi bumerang terhadap dirinya sendiri, karena teori ini selalu bias.

 

Referensi:

  1. Jackson, R., &. Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press.
  2. Steans, Jill & Lloyd Pettiford. 2009. Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

 

 

 



 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.107