NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

NATIONALISM IN IR

13 June 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

THE ROLE AND IMPORTANTANCE OF NATIONALISM IN INTERNATIONAL RELATIONS

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Dalam hubungan internasional, istilah negara dan bangsa sering kita jumpai. Istilah “bangsa” dan “negara” secara konseptual agak berbeda, namun istilah ini sering digunakan bergantian. Menurut Hans Kohn (Kaelan, 2002: 212-213), bangsa terbentuk oleh persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara, dan kewarganegaraan. Bangsa berperan menyelenggarakan hubungan emosional yang berlandaskan pada cultural identity. Sedangkan negara merupakan suatu unit politik yang dikaitkan dengan teritorial, populasi dan otonomi pemerintah, memiliki kewenangan untuk mengontrol wilayah berikut penduduknya serta memberikan legitimasi atas jurisdiksi politik dan hukum bagi warga negaranya (Couloumbis dan Wolfe, 66). Negara hadir setelah bangsa terbentuk. Maksudnya, manusia dalam bangsa tadi menuntut sebuah wilayah untuk ditinggali yang selanjutnya disebut sebagai negara.

Aktivitas berbangsa dan bernegara melahirkan rasa nasionalisme. Frankel berpendapat bahwa nasionalisme adalah keadaan pikiran, sedangkan Stuart Mill berpendapat bahwa nasionalisme merupakan perasaan simpati yang sama di antara anggota suatu bangsa (Soeprapto, 1997:114). Apapun definisi dari para tokoh, esensi nasionalisme yang sebenarnya adalah rasa cinta tanah air, rasa kebangsaan yang mendalam, memelihara integritas dan kehormatan bangsa, serta rasa solidaritas terhadap saudara sebangsa setanah air.

Nasionalisme dibagi menjadi 2 jenis, yakni civic nationalism dan ethnic nationalism. Secara sederhana, civic nationalism dapat didefinisikan sebagai rasa nasionalisme yang mengatasnamakan bangsa dan negara. Sedangkan ethnic nationalism adalah rasa nasionalisme kesukuan (keetnisan).

Nasionalisme adalah suatu kekuatan (Soeprapto, 1997:114). Sejak Revolusi Perancis, nasionalisme telah menjadi kekuatan emosi dan spiritual utama yang sanggup merekatkan unsur-unsur kenegaraan suatu negara yang berbangsa tunggal. Dalam hubungan internasional, nasionalisme berperan sebagai dinding penopang yang memperkuat pondasi negara. Nasionalisme juga menggerakkan negara untuk melakukan aksi nyata yang berhubungan dengan kepentingan negara dan memungkinkan berperan untuk mengisi tempat yang sebelumnya diduduki oleh agama.

Nasionalisme telah lahir sejak praktik kolonialisme dan imperialisme merebak di sejumlah negara. Semangat nasionalisme adalah sebagai kekuatan mutlak untuk mencapai self-determination, yakni kebebasan untuk menentukan nasib bangsa sendiri dan memiliki kedaulatan untuk mengatur jalannya pemerintahan tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Prinsip self-determination telah diatur dalam Piagam PBB (1945) yang  menegaskan sebuah "penghormatan terhadap prinsip persamaan hak dan penentuan nasib sendiri rakyat". Self-determination merupakan instrumen negara-negara koloni untuk meraih independensinya melalui dekolonisasi.

Dekolonisasi adalah proses untuk mencapai kemerdekaan konstitusional dari kekuasaan imperial (kekaisaran) (Griffiths & O’Callaghan, 2002:64). Bisa dikatakan dekolonisasi ini adalah usaha untuk memusnahkan praktik kolonisasi, karena praktik kolonisasi sering membuat rakyat menderita dan sengsara. Dalam sejarah, kolonisasi telah meluas di berbagai negara, di antaranya adalah  praktik kolonisasi Inggris di India (1940-1947), Belanda di Indonesia (1945-1949), dan Belgia di Kongo (1959-1960). Meskipun ada yang mengatakan kolonisasi tidak sepenuhnya buruk, namun tetap saja praktik ini bertentangan dengan hak asasi manusia. Untuk mendukung dekolonisasi, pada tahun 1960, PBB mengeluarkan Deklarasi Dekolonisasi.

Nasionalisme bisa menjadi kekuatan yang berguna atau sebaliknya bisa menghancurkan. Nasionalisme bisa menjadi kekuatan yang berguna jika menimbulkan sense of identity dan sense of belonging di antara para warganya. Hal ini berarti bahwa nasionalisme mengijinkan individu bersatu dalam meraih  public interest, sehingga masing-masing individu berusaha mereduksi rasa individualisme dan alienasinya. Di sisi lain, nasionalisme bisa menjadi kekuatan yang merusak jika kadar nasionalisme itu berlebihan dan melahirkan rasa etnosentrisme serta chauvinisme yang menganggap negaranya lebih unggul dibanding negara lain, sehingga muncullah sentimen nasional terhadap negara lain yang berpotensi menimbulkan konflik antarnegara maupun internasional.

Dewasa ini, globalisasi merupakan fenomena yang tidak terhindarkan dalam kehidupan. Globalisasi merupakan tantangan berat bagi eksistensi nasionalisme. Globalisasi merupakan proses interaksi sosial yang tidak mengenal batas wilayah dan negara, jadi scope kehidupan manusia semakin bertambah luas dan memainkan peran yang cukup esensial di dalam dunia internasional sebagai suatu kesatuan tunggal. Dalam era ini, informasi sekecil apapun dapat dengan cepat menyebar ke segala penjuru dunia, karena esensi dari globalisasi itu sendiri adalah kepesatan perkembangan teknologi dan informasi. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, globalisasi membawa pengaruh yang  cukup berarti bagi segala aspek kehidupan bangsa, tak terkecuali terhadap nilai-nilai nasionalisme. Globalisasi dapat membawa pengaruh positif, yakni mengarahkan suatu negara kepada pemerintahan yang lebih transparan dan demokratis, terbukanya pasar internasional, meningkatkan investasi dan devisa negara, dan lain-lain. Namun, tidak dapat dipungkiri jika merebaknya globalisasi juga membawa  pengaruh yang negatif, antara lain menggiring masyarakat kepada liberalisme, menurunnya rasa bangga dan cinta terhadap produk dalam negeri karena merebaknya produk luar negeri yang dianggap lebih berkualitas, dan hilangnya identitas nasional yang pada akhirnya akan mengikis rasa nasionalisme.

Rasa nasionalisme yang tidak terlalu kuat akan mudah tergerus dalam arus globalisasi, namun sebaliknya, nasionalisme yang terlalu mendalam dan berlebihan bisa menjadi bumerang dan berpotensi merusak tatanan sistem internasional.

 

Sources:

  1. Griffiths, M., & O’Callaghan, T., (2002) International Relations, The Key Concepts, Routledge.
  2. Soeprapto, R. Hubungan Internasional, Sistem, Interaksi, dan Perilaku, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997.
  3. www.id.shvoong.com

 

                       .

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.239