NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

NATIONAL POWER

13 June 2012 - dalam Pengantar Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

NATIONAL POWER

Oleh : Nurlaili Azizah (071112001)

Kata power sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang. Power dapat didefinisikan sebagai tujuan, pengaruh, dan kemampuan. National power dapat didefinisikan sebagai akumulasi sumber daya yang dimiliki suatu negara yang digunakan untuk mencapai tujuan dan kepentingan nasional negara yang bersangkutan. Definisi lain dari national power adalah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi dan mengontrol negara lain agar melakukan sesuatu yang diinginkan oleh negara yang bersangkutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa konsep power memegang peran yang cukup krusial dalam politik maupun hubungan internasional. Power inilah yang melatarbelakangi suatu negara untuk mengambil kebijakan politik yang pada akhirnya akan memberikan dampak bagi dunia internasional. Semakin kuat power suatu negara, semakin kuat pula posisi dan pengaruhnya dalam hubungan internasional.

Berdasarkan kestrategisannya, national power dapat dikategorikan menjadi 3 tipe, yakni hard power, soft power, dan smart power. Hard power merujuk pada power yang konkret (tangible). Misalnya adalah populasi penduduk, kekuatan ekonomi, teritorial, sumber daya alam, kapasitas industri, dan  militer. Tidak disangsikan lagi bahwa eksistensi  elemen-elemen power tangible di atas sangat penting terhadap national power suatu negara. Jika salah satu elemen ada yang mengalami destruktivitas, bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kinerja sistem. Hard power juga sering diidentikkan dengan kekuatan politik yang menggunakan cara pemaksaan, misalnya ancaman, tekanan ekonomi, penggunaan militer/angkatan bersenjata, dan segala bentuk punishment lainnya. Hard power ini sering dikorelasikan dengan negara digdaya pemilik aset militer mumpuni yang mampu mengintervensi urusan regional negara lain lewat ancaman militernya, karena memang esensi dari kekuatan ini adalah penggunaan militer dan ekonomi untuk mempengaruhi kepentingan badan politik negara lain. Kaum realis dan neorealis adalah pendukung penggunaan hard power ini.

Berbeda dengan hard power, soft power menggunakan pendekatan berbeda dan tanpa ancaman. Soft power berkaitan dengan elemen power yang tidak nampak (intangible),misalnya adalah kharisma pemimpin, efisiensi organisasi birokrasi, tipe pemerintahan, reputasi, persatuan masyarakat, dan dukungan luar negeri. Kekuatan ini lebih ditujukan pada pengubahan cara pandang, ideologi, dan sebagainya. Istilah “soft power” diperkenalkan oleh Nye (1990) (Baldwin, 2002:186). Joseph Nye merupakan pencetus teori neoliberalisme sekaligus profesor dari Harvard University. Instrumen utama dari soft power adalah kebudayaan, nilai-nilai aktor, kebijakan luar negeri, yang menurut Joseph Nye mampu menarik atau menolak aktor lain untuk “menginginkan apa yang Anda inginkan.”

Yang ketiga adalah smart power.  Menurut Chester A. Crocker, Fen Osler Hampson, dan Pamela R. Aall, smart power melibatkan penggunaan strategi dalam berdiplomasi, persuasi, pembangunan kapasitas, dan proyeksi kekuasaan dan pengaruh dalam cara yang hemat biaya dan memiliki legitimasi politik dan sosial. Bisa dikatakan smart power ini merupakan kemampuan untuk mengkolaborasikan hard power dan soft power.

Sumber-sumber national power dapat dikategorikan menjadi 3, yakni natural sources, social-psychological sources,dan synthetic sources. Natural sources meliputi geografi, sumber daya alam, dan populasi. Sedangkan social-psychological sources terdiri dari stabilitas nasional, leadership, dan kehendak politik. Yang terakhir, synthetic sources terdiri dari kapasitas industri dan militer.

Dalam hubungan internasional, kemampuan untuk mempengaruhi adalah modal yang cukup esensial. Menurut Singer, sistem internasional merupakan kunci untuk menerangkan mengapa dan bagaimana cara pemerintah mempengaruhi perilaku pihak lain. Ada 4 macam tindakan untuk menanamkan pengaruh, antara lain berusaha melakukan ancaman kepada pihak lain, mengemukakan janji-janji kepada pihak lain, menghukum pihak lawan, dan memberi imbalan kepada pihak lawan. Di lain pihak, Morgenthau mengemukakan bahwa penanaman pengaruh dapat ditempuh dengan 3 cara, yaitu memelihara, meningkatkan, dan memperagakan power.

Mengukur national power adalah hal yang sulit. Masalah yang paling mendasar adalah bahwa setiap elemen power memiliki keterkaitan. Akibatnya, tidak hanya elemen yang terpisah yang harus  dianalisis, tetapi efek elemen-elemen satu sama lain harus dipertimbangkan. Kompleksitas ini makin diperparah dengan perkembangan national power yang semakin dinamis dan relatif. Namun ada salah seorang mantan pejabat pemerintah yang mampu menemukan formula untuk mengukur national power yang berfokus pada kapasitas negara untuk berperang, yakni Cline. Formulanya adalah sebagai berikut:

Pp = (C + E + M) x (S + W)


Keterangan dari simbol-simbol di atas yaitu: Pp adalah persepsi kekuatan, C adalah critical mass (populasi dan teritorial), E adalah kapabilitas ekonomi, M adalah kapabilitas militer, S adalah tujuan strategis, dan W adalah keinginan untuk mencapai tujuan nasional. Unsur C,E, dan M secara relatif bisa diukur secara eksak, berbeda dengan S dan W yang sulit diukur.

Berdasarkan range-nya, power suatu negara bisa diklasifikasikan sebagai superpower, middle power, regional power, great power, hyperpower, atau hegemony. Negara superpower adalah negara yang mendominasi dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi peristiwa internasional. Menurut Lyman Miller, komponen dasar dari negara superpower dapat diukur sepanjang empat sumbu kekuasaan: militer, ekonomi, politik, dan budaya. Negara superpower memiliki daya yang mumpuni pada keempat aspek tadi. Selain itu, negara superpower harus bisa memproyeksikan hard dan soft powernya secara global. Setelah Perang Dingin hingga kini, Amerika Serikatlah yang dianggap sebagai negara superpower dunia.

Middle power identik dengan istilah yang digunakan dalam hubungan internasional untuk menggambarkan keadaan negara yang tidak adidaya atau hebat, namun masih memiliki pengaruh yang besar. Negara dengan posisi ini memiliki beberapa tingkat pengaruh global, namun tidak mendominasi lebih dari satu area. Negara middle power menunjukkan orientasi regional yang lemah dan ambivalen, membangun identitas yang berbeda-beda dari negara-negara kuat di teritorial mereka, dan menawarkan konsesi untuk memenuhi tuntutan reformasi global. Contoh negara middle power adalah Singapura, Saudi Arabia, Portugal, dan sebagainya.

Regional power merujuk pada negara yang memiliki pengaruh di region tertentu, tidak dalam skala global. The German Institute of Global and Area Studies menyatakan bahwa regional power setidaknya memiliki 8 syarat, diantaranya adalah menjadi bagian dari suatu region dengan identitasnya sendiri, mengklaim menjadi regional power, terhubung dengan baik dengan forum regional dan global, dihargai sebagai regional power oleh kekuatan-kekuatan lain di wilayahnya, dan sebagainya. Contohnya adalah China, Jepang, dan Korsel yang memiliki kendali di kawasan Asia Timur.

Sementara itu, great power identik dengan karakteristik militer, ekonomi, pengaruh diplomatik dan budaya yang kuat. Hal ini menyebabkan small power mempertimbangkan pendapat great power sebelum mengambil tindakan-tindakan mereka sendiri. Teori hubungan internasional mengemukakan bahwa status great power dapat dicirikan ke dalam kemampuan power, aspek spasial, dan dimensi status. Great power muncul setelah penandatanganan Perjanjian Chaumont pada tahun 1814. Contoh negara haluan ini adalah Jepang, Perancis, dan Jerman.

Hyperpower adalah negara yang mampu mendominasi negara lain dalam setiap aspek. Hyperpower dianggap selangkah lebih tinggi daripada superpower. Dalam konteks modern, hyperpower telah digunakan untuk menggambarkan posisi Amerika Serikat sebagai negara superpower tunggal sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Setelah berakhirnya Perang Dingin, komentator politik Amerika merasa bahwa istilah baru dibutuhkan untuk menggambarkan posisi Amerika Serikat sebagai negara adidaya tunggal. Istilah "hiper-kekuasaan" pertama kali digunakan pada tahun 1991 oleh Peregrine Worsthorne.  Menteri Prancis Hubert Védrine mempopulerkan "hyperpower" dalam tahun 1998.

Yang terakhir adalah hegemony (pengaruh kekuasaan). Hegemony dapat dikatakan sebagai dominasi satu kelompok terhadap kelompok lain, dengan tujuan agar ide-ide yang didiktekan kelompok dominan bisa diterima oleh kelompok yang didominasi sebagai hal yang wajar. Nilai-nilai dan ideologi hegemony ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh pihak dominan sehingga pihak yang didominasi tetap diam dan taat terhadap kepemimpinan kelompok penguasa. Hegemony bisa juga dikatakan sebagai strategi untuk mempertahankan kekuasaan. Contoh hegemony adalah kekuasaan dolar Amerika dalam ekonomi global, karena transaksi internasional banyak yang menggunakan dolar Amerika.

 

SOURCES:

 Soeprapto, R. (1997) HUBUNGAN INTERNASIONAL: SISTEM, INTERAKSI, DAN PERILAKU, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

www.scholar.google.com

Baldwin, David A. (2002) “Power and International Relations” in Walter Carlsnaes, Thomas Risse, Beth Simmons [eds.], Handbook of International Relations, SAGE., pp. 65-109.

Jablonsky, David. Chapter 8: National Power.

 

 

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.106