NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

RATIONALISM - SOCIAL CONSTRUCTIVISM

13 June 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

RASIONALISME – KONSTRUKTIVISME SOSIAL

Oleh : Nurlaili Azizah (071112001)

Terminologi mengenai konstruktivisme mencuat dan populer dalam studi Hubungan Internasional sejak tahun 1990an. Menurut tiga scholar studi HI, Robert Keohane, Peter Katzenstein, dan Stephen Krasner, konstruktivisme disebut-sebut sebagai the main rival dari rasionalisme (via media antara realisme dan liberalisme) dalam Great Debate HI mendatang. Konstruktivisme ini pada mulanya mendobrak kemapanan positivisme dalam filsafat ilmu pengetahuan sebelum akhirnya merasuki disiplin Hubungan Internasional. Kala itu, kaum positivis menggunakan kata ’’temuan’’ (invention dan discovery) yang akhirnya disanggah oleh kaum konstruktivis yang memakai kata ’’konstruksi’’. Kaum positivis berpandangan bahwa mereka dapat menemukan kebenaran lewat usaha yang mereka lakukan yang akhirnya melahirkan teori. Kaum ini meyakini bahwa kebenaran ada di luar sana, sehingga menurut mereka ilmuwan memiliki kewajiban untuk meraih the objective truth. Di kala kebenaran tersebut mampu diraih, di situlah kebenaran ’’ditemukan’’.

Seiring perjalanannya, teori-teori yang mencuat ke permukaan kerap memperoleh kritikan, sanggahan, revisi, dan seterusnya. Hal ini membuka pikiran beberapa orang, bahwa kebenaran seolah-olah telah menjadi monopoli di kalangan ilmuwan. Kebenaran bisa diubah-ubah sesuka hati oleh ilmuwan. Jika hari ini sebuah teori ini dikatakan benar, mungkin hal itu tidak berlaku di minggu, bulan, atau tahun berikutnya. Kebenaran teori tersebut bisa saja berubah. Dengan kata lain, sejatinya tidak ada kebenaran yang sifatnya tetap dan statis. Hal inilah yang melahirkan pemikiran konstruktivisme, yang mengatakan bahwa gagasan akan kebenaran adalah konstruksi subyektif semata, dan bukan hasil temuan yang obyektif. Pemikiran ini menganggap bahwa realitas sosial merupakan konstruksi ilmuwan yang dihasilkan lewat teori yang dibangun ilmuwan itu sendiri. Ilmuwan tersebut memaknai setiap realitas yang diketahuinya dan ia mengatakan konstruksi pemikirannya yang subyektif tersebut sebagai the objective truth. Singkatnya, kesubyektifan merupakan pijakan bagi temuan-temuan yang disebut sebagai obyektivitas.

Great Debate ketiga merupakan ajang di mana eksistensi konstruktivisme dibuktikan. Kala itu, perdebatan sengit tengah mencuat antara sekte perspektif mainstream, misalnya realisme-neorealisme, liberalism-neoliberalisme, dan marxisme-neomarxisme, melawan perspektif alternatif, misalnya Critical Theory dan postmodernisme. Ketika salah seorang teoritisi kritis, Robert Cox (1981), mengatakan bahwa theory is for someone and something dan Richard Ashley (1988) menguak konsepsi serta gagasan mengenai sovereignty, sejatinya saat itu akan terjadi perang dalam disiplin imu ini. Kubu mainstream tidak terima dengan konsepsi kedua tokoh di atas.

Salah seorang tokoh neoliberalis institusional, Robert O. Keohane, menganggap perspektif Cox dan Ashley sebagai ’’reflektivis’’, yang hanya memiliki kapabilitas merefleksikan teori yang sudah ada. Keohane ini adalah seorang ’’rasionalis’’ yang menjunjung tinggi rasionalitas dalam mengemukan teorinya. Ia mengkritik perspektif Ashley dengan mengatakan: “sampai pemikir reflektivis tidak mulai memikirkan memikirkan kontribusinya bagi studi HI (selain ber-refleksi ria), maka mereka akan tetap ada pada pinggiran akademi … merupakan hal yang memalukan tentunya” (Keohane, 1989). Ketegangan dan pertentangan antara kedua kubu ini terus menguat seiring digandengnya ilmuwan-ilmuwan HI yang menolak status quo oleh kaum reflektivis.

Scholar HI yang lain, Nicholas Onuf (1989) dan Alexander Wendt (1992), menangkap ketegangan ini dan berusaha mencari solusinya. Keduanya berniat menjembatani pemikiran rasionalis dan reflektivis. Terminologi ’’konstruktivisme’’ sendiri merupakan buah pemikiran Onuf. Kaum konstruktivis berambisi untuk menjadi penyeimbang antara positivisme dan postpositivisme. (Sorensen & Jackson, 1999). Di satu sisi, konstruktivis sepakat dengan kaum positivis bahwa tori-teori empiris dapat dibangun untuk menjelaskan hubungan internasional. Kaum konstruktivis hanya mencoba menjelaskan dunia (Wendt, 1992). Di sisi lain konstruktivis juga sepakat dengan postpositivis yang menekankan pentingnya pemikira dan pengetahuan bersama dalam menganalisis pemahaman subyektif (Sorensen & Jackson, 1999).

Rasionalisme akhirnya digunakan oleh kubu konstruktivis sebagai kritikan. Tokoh rasionalis dari yang klasik (realisme dan liberalisme) hingga yang struktural (neorealisme dan neoliberalisme) setuju bahwa sistem anarki tengah terjadi dalam dunia internasional saat itu. Bagi kubu liberalisme dan neoliberalisme, struktur dunia yang anarki sangat determinatif dalam memaksakan kehendaknya kepada negara-negara di bawah naungan sistem internasional untuk menjalin kerjasama rasional. Hal senada diungkapkan oleh kubu realisme dan neorealisme, bahwa sistem anarki merupakan faktor determinan yang ujung-ujungnya memaksa negara untuk senantiasa bersikap agresif dan represif, bahkan preventif dan preemtif. Dengan kata lain, kedua kubu di atas memiliki kesamaan pandangan bahwa perilaku negara merupakan respon dan akibat dari sistem internasional anarki yang menjadi aspek determinan. Pola semacam ini terus berulang bagi tiap teori. Hal inilah yang akhirnya memantik kritik dari kubu konstruktivis yang selanjutnya menjadi landasan pemikirannya.

Perspektif rasionalisme ini membuahkan tanggapan dari pihak konstruktivisme yang mengungkapkan bahwa sistem anarki –kooperatif dan konfliktual− merupakan hasil konstruksi pemikiran psikologis dari negara yang menjadi subyeknya. Sistem anarki maupun sikap yang diusung negara sebagai respon dari keanarkian merupakan sesuatu yang ungiven, namun sesuatu yang constructed. Wendt (1992) mengutarakan pendapatnya bahwa anarki adalah sesuatu yang dibuat oleh negara. Perilaku negara –kooperatif dan konfliktual− merupakan konstruksi yang dibuat oleh negara itu sendiri, tergantung bagaimana negara tersebut memandang fenomena yang menderanya yang selanjutnya menentukan negara itu untuk bersikap (mengambil keputusan). Sebagai contoh, ’’500 buah senjata nuklir Inggris sedikit mengancam Amerika Serikat daripada 5 buah senjata nuklir Korea Utara, sebab Inggris adalah teman Amerika Serikat dan Korea Utara bukan, dan persahabatan dan permusuhan adalah fungsi pemahaman bersama’’ (Wendt, 1995:73).

Kubu konstruktivisme mengusung kritikan terhadap kubu neoliberalisme, yang merupakan bagian dari teori rasional. Maja Zehfuss (2002) mengungkapkan bahwa terdapat tiga asumsi neoliberalisme yang menjadi pijakan kritik oleh kaum konstruktivis. Asumsi pertama, neoliberalisme hanya mengakui perubahan di dalam perilaku negara, bukan perubahan yang terjadi dalam negara.  Asumsi kedua, neoliberalisme mengakui bahwa interest dan identity tiap negara tergenerasikan oleh sistem anarki internasional. Dan asumsi yang terakhir, neoliberalisme membatasi pengertian secara teoritis dari perubahan dalam agen dan struktur, mengapa demikian? Sebab neoliberalisme hanya menitikberatkan kajiannya pada perubahan dalam perilaku, bukan dalam interest dan identity aktor.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa konstruktivisme merupakan teori yang mendobrak kemapanan dari teori terdahulu. Ia berupaya menunjukkan bahwa kebenaran atau realitas merupakan sesuatu yang ungiven, melainkan constructed. Ia menyuguhkan perspektif baru dan kritikan dalam memandang dan memaknai fenomena dalam studi Hubungan Internasional. Hal inilah yang membuatnya menjadi distinctive theory.

 

Referensi:

Ashley, Richard. 1988. Untying the Sovereign State. Millenium: Journal of International Studies.

Cox, Robert. 1981. Social Forces, States and World Orders: Beyond International Relations Theory. Millennium: Journal of International Studies.

Jackson, Robert & Sorensen, Georg. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Oxford University Press : New York

Keohane, Robert. 1989. International Institutions: Two Approaches. International Studies Quarterly. Vol. 32. No. 4. (Dec., 1988), hal 392.

Wendt, Alexander. 1992. Anarchy is What States Make of It: The Social Construction of Power Politics. International Organization.

Zehfuss, Maja. 2002. Constructivism in International Relations : The Politics of Reality. Cambridge University Press.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.115