NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

Critical Theory

12 June 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

CRITICAL THEORY & FRANKFURT SCHOOL

Oleh : Nurlaili Azizah (071112001)

Disiplin Hubungan Internasional memiliki ranah yang cukup kompleks, di mana terdapat perdebatan-perdebatan yang menyangkut tujuan (realisme versus liberalisme) dan metodologi (behavioralisme versus teori klasik) yang mewarnainya. Teori Kritis (Critical Theory) hadir memberi tantangan kepada landasan fundamental yang di atasnya disiplin ilmu Hubungan Internasional berdiri berupa asumsi epistemologi dan ontologi.

Teori ini berkembang dari Frankfurt School dan Antonio Gramsci. Frankfurt School sendiri diketahui sebagai institut penelitian sosial yang melahirkan teori-teori yang mendobrak kemapanan, yakni status quo dari teori terdahulu. Sebagaimana namanya, Frankfurt School berlokasi di Frankfurt, Jerman. Frankfurt School ini lahir dari masa Renaissance (pencerahan), yakni masa yang mendobrak kemapanan mengenai cara berpikir penguasa yang menganggap segala sesuatu itu given. Teori Kritis (Critical Theory) berakar pada pemikir masa Renaissance, yakni Kant, Hegel, dan Marx. Teori ini mulai berpengaruh dalam studi HI sejak pertengahan 1980an. Terminologi Critical Theory digunakan sebagai lambang dari sebuah filsafat yang mempertanyakan kehidupan sosial dan politik modern melalui metode kritik imanen. Teori ini memisahkan diri dari aliran-aliran tradisional (liberalisme dan realisme), yakni tidak memfokuskan diri pada rivalitas antarnegara untuk merebut power. Hal inilah yang membedakannya dengan teori-teori tradisional.

Teori ini juga sedikit kental dengan ajaran Marxisme, karena ia terbentuk dengan terpengaruh ajaran Marxisme. Teori Kritis memandang bahwa ilmu pengetahuan yang ada selama ini tidak bebas nilai, artinya ia selalu dipengaruhi kepentingan pihak-pihak tertentu. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Robert Cox, theory is for someone and something. Oleh sebab itu, ia mengajarkan untuk tidak semudah itu percaya pada kebenaran ilmu pengetahuan yang ada. Teori ini mencuat dalam studi HI disebabkan karena pada saat itu terjadi perdebatan mengenai sifat ilmu yang bebas nilai dan mengenai pengakuan terkait diselenggarakannya dialog serta komunikasi antarkomunitas politik sebagai salah satu metode emansipatoris (kebebasan). Emansipatoris ini merupakan nilai fundamental yang diadopsi Critical Theory dari Marxisme.

Seperti yang disebutkan di atas, teori ini mengatakan bahwa studi HI hendaknya berorientasi pada emansipasi (kebebasan) dari kebodohan dan keterbelakangan. Teori ini memfokuskan diri pada siapa yang ada dalam negara dan berusaha membebaskan diri dari keterkungkungan yang kerap ditimbulkan oleh negara. Selain itu, Critical Theory juga berasumsi bahwa sesuatu itu tidak given. Pada saat itu, terdapat mindset yang berkembang dalam intelektual bahwa yang terjadi di lingkungan sekitar adalah hal yang given. Mindset yang berkembang menyebabkan kaum borjuis berhak menindas kaum proletar, karena struktur dalam masyarakat (borjuis dan proletarian) dianggap sebagai sesuatu yang given. Menurut Richard Ashley (1981 : 227), emancipation as "freedom from unacknowledged constraint, relations of domination, and condition of distorted communication and understanding that deny humans the capacity to make their own future through full will and consciousness”. Hal ini merupakan proyek utama teori ini. Teori ini juga menentang dominasi negara dalam menyetir kehidupan rakyatnya. Dengan kata lain, negara tidak berhak mendikte rakyatnya, karena manusia (rakyat) dianggap  memiliki otonomi dan cara berpikir sendiri untuk menjalani kehidupannya.

Memperluas kapasitas manusia untuk menentukan nasib sendiri merupakan  tujuan yang ingin dicapai Critical Theory. Teori ini bermaksud untuk tidak hanya untuk menghilangkan pelanggaran yang dilakukan oleh negara, namun juga untuk menganalisis struktur sosial yang mendasari pelanggaran dengan maksud mengatasi pelanggaran tersebut. Dengan demikian,  konsepsi teori ini adalah untuk meningkatkan eksistensi manusia dengan cara menghapus ketidakadilan yang ada. Critical Theory ini mengajarkan untuk senantiasa berpikir kritis dan harus melihat sejarah atau asal-usul masyarakat tersebut. Selain itu, teori ini juga menghimbau agar masyarakat dibekali dengan ilmu pengetahuan agar ia tidak mudah dibodohi dan paham akan kondisi di sekitarnya, karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman pada akhirnya akan menjerumuskan pada kebodohan.

Dalam teori tradisional, teori dan objek analisis merupakan sesuatu yang dipisahkan. Subjek (peneliti) dapat mempelajari dunia ini dengan tidak terlibat dalam hal yang ia selidiki (menarik diri), meninggalkan keyakinan ideologis, nilai, ataupun pendapat yang akan mengurungkan penyelidikan. Dalam mengkaji dunia, teori tradisional menganalogikan dengan ilmu sains, di mana subjek dan objek harus benar-benar dipisahkan demi berteori dengan benar dan akurat. Kaum tradisionalis juga berpandangan bahwa teori itu bebas nilai, dengan kata lain, teori hamya dimungkinkan jika subjek yang meneliti dapat menarik diri dari dunia yang ia teliti dan membersihkan diri dari semua bias. Tentu saja hal ini bertolak belakang dengan konsepsi Critical Theory yang menyangkal kemungkinan bebas nilai dalam analisis sosial.

Critical Theory ini pada perkembangannya tidak sepopuler teori mainstream, hal ini disebabkan karena teori ini cenderung memfokuskan diri terhadap individu dan mengabaikan dimensi hubungan antarsocieties.

Referensi:

Linklater, Andrew, 1996. The achievements of critical theory, in; Steve Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski (eds.) International Theory: Positivism and Beyond, Cambridge University Press, pp. 279-300.

Wardhani, Baiq. (2012). Teori Hubungan Internasional SOH201: Critical Theory & Frankfurt School (week 7). FISIP Universitas Airlangga, A-314 on 12 April 2012. Available from: Power Point [Accessed: 8/6/12].

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.109