NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

RASIONALISME - ENGLISH SCHOOL

11 April 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

RASIONALISME - ENGLISH SCHOOL OF THOUGHT

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Dalam studi Hubungan Internasional, terdapat berbagai macam perspektif yang digunakan untuk memaknai segala fenomena yang terjadi dalam dunia internasional, salah satunya adalah rasionalisme atau yang kerap disebut English School. English School merupakan perspektif yang mencoba menjadi jalan tengah dari perdebatan dua sekte perspektif tersohor dalam Hubungan Internasional, yakni liberalisme dan realisme. Sesuai dengan namanya, perspektif ini lahir di Inggris sebagai reaksi atas kemunculan liberalisme dan realisme pada masa itu. English School meyakini bahwa terdapat “masyarakat negara” pada level internasional karena hubungan internasional dianggap merepresentasikan masyarakat negara. English School ini berfokus pada masyarakat internasional dan menekankan pada pentingnya state. Kemunculan English School ini memiliki berbagai macam versi. Versi pertama berasal dari Departemen Hubungan Internasional London School of Economics, dengan Hedley Bull dan Martin Wight sebagai tokoh utamanya. Versi kedua menyatakan bahwa cikal bakal English School bermula dari didirikannya British Committee of International School yang berfokus pada masyarakat internasional.

English School ini memiliki tiga konsep utama dalam melihat hubungan antarnegara, yakni realisme (Hobbesian), rasionalisme (Grotian), dan revolusionisme (Kantian). Konsep yang pertama memandang negara sebagai agen kekuasaan yang senantiasa mengejar kepentingannya sendiri. Konsep kedua melihat negara sebagai organisasi hukum yang berjalan sesuai dengan hukum internasional dan praktik diplomatik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rasionalisme memandang hubungan internasional sebagai aktivitas aturan-perintah berdasarkan pada kekuasaan yang saling diakui dari negara berdaulat. Sedangkan konsep ketiga lebih menitikberatkan pada manusia. Manusia dilihat membentuk “komunitas dunia” yang lebih fundamental daripada masyarakat negara.

Dalam kuliahnya yang disampaikan di Londol School of Economics tahun 1950an, Martin Wight yang notabene merupakan tokoh rasionalisme mengungkapkan bahwa rasionalisme merupakan via media (penengah) antara realisme dan revolusionisme. Revolusionisme merupakan istilah Wight untuk menggambarkan jalan pemikiran idealisme atau kosmopolitan. Rasionalisme ini memiliki beberapa asumsi dasar. Asumsi pertama, seperti yang dikemukakan Wight, semua negara memiliki kedudukan yang sama di level internasional. Wight menekankan bahwa besar kecilnya negara tidak begitu penting, karena tiap negara memiliki posisi yang sama dengan negara lain dalam dunia internasional. Tidak ada negara yang lebih tinggi dibanding negara lainnya. Asumsi kedua menyatakan bahwa terdapat anarki di dalam sistem internasional, tetapi meskipun berada dalam kondisi ini, tidak serta-merta perdamaian kolektif tidak bisa diwujudkan. Anarki di sini maksudnya adalah masih terciptanya high level of order dan low level of violence. Hal ini tidak berarti bahwa English School mengabaikan fenomena kekerasan dalam hubungan antarnegara, namun kekerasan ini masih bisa dikendalikan oleh hukum dan moral yang berlaku. Inilah yang merupakan aspek liberalisme dari kaum rasionalis. Sedangkan dari sudut realisme, kaum ini mengakui eksistensi negara dan anarki dalam sistem internasional. Aspek liberalisme dan realisme yang ada dalam rasionalisme inilah yang membuatnya menjadi via media (penengah) atau yang menjembatani antara pandangan realisme dan liberalisme yang begitu kontradiktif.

 Sebagai via media, English School ini berusaha merangkai dan membuat teorinya sendiri dengan mengambil dan memasukkan aspek-aspek positif dari realisme dan liberalisme. Kaum ini tidak hanya memandang segala sesuatu dari satu aspek semata. Menurut mereka, jika ada konflik, pasti kerjasama juga muncul. Tidak hanya ada negara, melainkan disertai juga dengan adanya individu. Bagai mata uang logam dengan dua sisi, unsur-unsur ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain dan tidak bisa disederhanakan ke dalam suatu teori tunggal yang hanya menitikberatkan pada salah satu aspek saja. Posisi ini tidak merepresentasikan English School sebagai perspektif yang berusaha mengkolaborasikan pandangan realisme dan liberalisme, namun lebih dari itu ia menggambarkan bahwa English School ini memiliki sejumlah aspek penting dari kedua perspektif mainstream tersebut. Senada dengan realisme, English School mengakui eksistensi anarki dalam hubungan internasional. Negara juga harus berusaha keras dalam menjaga keamanan wilayahnya sendiri, karena tidak akan ada negara lain yang bersedia membantu tanpa ada maksud dan tujuan tertentu. Akibatnya, kompetisi dan konflik menjadi hal yang tidak bisa dihindari, karena tiap negara memiliki kepentingan yang berbeda. Namun, English School ini tidak berusaha mengidentikkan kondisi anarki dengan kondisi perang. Perbedaan yang paling jelas antara English School dan realisme adalah mengenai strategi suatu negara untuk mengatur pencarian kekuasaan dalam kondisi anarki. Jika realisme lebih menekankan bagaimana negara-negara menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan national interest mereka, maka English School ini lebih menitikberatkan pada strategi suatu negara untuk memperoleh dan mendayagunakan seni ketelitian dari akomodasi serta tidak berkompromi.

Hedley Bull, anak didik Wight, memberikan batas yang jelas antara masyarakat internasional dan sistem internasional. Masyarakat internasional hadir ketika sekelompok negara sadar akan kepentingan, tujuan, dan nilai-nilai umum tertentu, membentuk suatu masyarakat dalam artian bahwa mereka menempatkan diri mereka sendiri sehingga terikat oleh serangkaian peraturan umum dalam hubungan mereka dengan yang lain, dan bekerja bersama-sama dalam lembaga-lembaga umum (Burchill & Linklater, 2001). Sedangkan sistem internasional terbentuk ketika dua negara atau lebih memiliki kontak yang intens, dan saling mempengaruhi dalam pembuatan kebijakan satu sama lain.

English School mengungkapkan bahwa tidak ada jaminan bahwa masyarakat internasional yang sudah terbentuk dengan baik (melalui peraturan dan hukum) akan bertahan selamanya, namun sejumlah kondisi yang sudah terganggu oleh chaos masih ada harapan untuk diperbaiki. English School mengatakan bahwa semakin besar power suatu negara, semakin berat pula tanggung jawab negara itu. Negara-negara pemilik great power memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjamin keamanan dunia. Nyatanya, great power ini tidak mampu menciptakan perdamaian, justru kehadiran mereka mengancam tatanan masyarakat internasional. Tak ada great power yang mendahulukan kepentingan umum. Mayoritas dari mereka bersikap egois dan senantiasa menghalalkan berbagai cara demi mengejar kepentingan mereka sendiri tanpa mengindahkan hukum-hukum internasional.

 

Referensi:

Linklater, Andrew & Suganami, Hidemi, 2006. The English School of International Relations, A Contemporary Reassessment, Cambridge University Press.

Burchill, Scott & Linklater, Andrew. 2001. Rationalism, in; Scott Burchill, et al, Theories of International Relations, Palgrave.

Linklater, Andrew, 2001. Rationalism, in; Scott Burchill, et al, Theories of International Relations, Palgrave.

Suganami, H., 2011. “The English School, History and Theory” Ritsumeikan International Affairs, Vol. 9.

Dunne, Tim, 2007. The English School, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press.

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    274.015