NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

NEOREALISME VS NEOLIBERALISME

28 March 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

NEOREALISME VS NEOLIBERALISME

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Paradigma yang ada dalam studi Hubungan Internasional tidak dapat dipungkiri memiliki kontribusi yang cukup besar bagi perkembangan disiplin ilmu ini. Paradigma-paradigma yang hadir seringkali menimbulkan perdebatan. Misalnya saja perdebatan antara neorealisme dan neoliberalisme. Kedua paradigma ini lahir dari paradigma klasik yang lebih dahulu ada.  Perdebatan neorealisme dan neoliberalisme ini juga kerap disebut perdebatan intra-paradigma.

Paradigma neorealisme dan neoliberalisme sesungguhnya lahir dari paradigma yang lebih dahulu hadir sebelumnya, dan selanjutnya mengalami perkembangan. Neorealisme sendiri lahir disebabkan karena kritikan terhadap realisme, sementara kemunculan neoliberalisme juga amat dipengaruhi oleh paradigma terdahulunya, yakni liberalisme. Seperti yang kita ketahui, Great Debate pertama telah membawa realisme sebagai pemenangnya. Namun, kemenangan realisme ini tidak serta-merta diakui sebagai babak akhir perdebatan ini. Kritik-kritik terhadap asumsi realisme dan liberalisme terus datang dan menyerang kedua paradigma klasik ini. Kritik-kritik di atas dan kemunculan revolusi behavioralisme selanjutnya melahirkan paradigma baru, yakni neoliberalisme dan neorealisme. Kedua paradigma baru ini memberikan nuansa baru dalam memandang dunia internasional. Jika para pendahulunya, liberalisme dan realisme, memberikan perspektif berbeda dan berdebat mengenai tatanan sistem negara terhadap sistem internasional, neoliberalisme dan neorealisme cenderung memandang ke aspek yang lebih luas, misalnya keterlibatan nonstate actors dalam hubungan internasional, organisasi internasional, kooperasi internasional, dan sebagainya.

Berbeda dengan realisme klasik yang lebih mementingkan aktor, neorealisme justru menitikberatkan pada struktur. Kenneth Waltz yang notabene merupakan tokoh realisme mengungkapkan bahwa struktur merupakan aspek yang lebih dahulu hadir, selanjutnya diikuti oleh kemunculan state. Oleh sebab itu, paradigma ini kerap disebut dengan “realisme struktural”. Paradigma ini berasumsi bahwa tindakan-tindakan aktor diatur dan dikendalikan oleh struktur. Keterlibatan maupun peran aktor dipandang sebelah mata karena aktor dipandang akan melakukan tindakan jika struktur yang memaksanya. Paradigma ini juga mengidentikkan hubungan antarnegara sebagai hubungan yang konfliktual. Menurut Scott Burchill dan Andrew L (2010), paradigma ini meyakini bahwa adalah mungkin untuk memperkirakan kondisi politik internasional dari komposisi internal negara. Contoh yang paling konkret terjadi saat Cold War, yaitu US dan USSR. Saat Cold War terjadi, kedua negara besar ini sama-sama melakukan ekspansi ideologi masing-masing ke negara lain. Selain itu, mereka juga mencari kekuasaan militer, eksploitasi, dan sebagainya. Menurut Jill Steans dan Lloyd Pettiford (2009:77), kecenderungan “tidak stabil” selalu muncul dalam sistem internasional. Namun, jika negara hegemon mampu memainkan peran kepemimpinannya, niscaya ketidakstabilan tersebut dapat diatasi. Selain itu, neorealisme juga meyakini bahwa keberadaan institusi akan dapat mereduksi pengaruh anarki internasional.  

Paradigma neoliberalisme lahir di tahun 1980an. Paradigma ini berasumsi bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhannya. Kaum neoliberalis memandang sifat ini sebagai sifat yang dapat diadopsi ke dalam sifat negara. Ekonomi dipandang sebagai fokus dan tujuan negara yang paling utama, sehingga upaya maupun strategi dalam memajukan perekonomian negara akan terus dimaksimalkan. Berbagai konflik akan dapat direduksi selama perekonomian mengalami perbaikan dan kemajuan. Perbaikan dan kemajuan ekonomi ini akan bisa dicapai jika negara melakukan kooperasi internasional. Oleh sebab itu, aktivitas ekonomi dan politik haruslah menjadi agenda utama. Neoliberalisme sangat mendukung terjadinya free trade. Ia menentang segala macam kebijakan pembatasan perdagangan internasional. Dapat dikatakan bahwa paradigma ini tidak menghendaki intervensi pemerintah yang terlalu signifikan dalam pasar, karena menurut mereka pemerintah hanya perlu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para investor agar modal dapat bergerak secara leluasa.

Pasca Cold War, neorealisme masih memandang bahwa negara adalah aktor dominan dalam hubungan internasional disebabkan karena kedaulatan yang dimilikinya. Namun, mereka tidak menampik bahwa nonstate actors juga merupakan aktor penting. Sedangkan neoliberalisme beranggapan sebaliknya, kemunculan organisasi dan institusi internasional mengindikasikan bahwa nonstate actors merupakan aktor dominan karena peran mereka lebih signifikan dibanding peran negara. Kaum ini tidak meniadakan negara sebagai aktor penting, hanya saja peran nonstate actors jauh lebih besar.

Neorealisme dan neoliberalisme memiliki asumsi berbeda mengenai kooperasi internasional. Menurut neorealisme, kooperasi internasional yang terjadi diantara negara-negara bersifat zero-sum, artinya tidak semua pihak yang diuntungkan, melainkan hanya salah satu negara saja. Sedangkan menurut neoliberalisme, kooperasi internasional bersifat positive-sum, yang berarti bahwa kooperasi yang dilakukan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Bagi kaum neorealisme, tiap negara akan berupaya melakukan aliansi dengan negara lain yang memiliki kedudukan lebih tinggi sebagai reaksi atas perbedaan kapabilitas power untuk mereduksi kecemasan yang ada. Kaum ini juga berpendapat bahwa konflik akan bisa diminimalisasi jika hanya ada dua kekuatan besar yang berkuasa (bipolar), karena akan semakin sedikit kepentingan yang akan bertarung. Sedangkan kaum neoliberalisme akan berupaya mengejar keamanannya melalui kooperasi organisasi internasional dalam bidang perdagangan.

Dipandang dari aspek tujuan negara, kedua paradigma ini memiliki pandangan yang berbeda pula. Jika neorealisme meletakkan national interest sebagai tujuan utama negara, maka tujuan utama negara menurut neoliberalisme adalah common goods.

Perdebatan kedua paradigma ini sejatinya bukan melibatkan dua pandangan yang benar-benar berlawanan. Bahkan, keduanya mengungkapkan epistomologi pengetahuan yang sama, yakni  berfokus pada pertanyaan yang serupa dan menyepakati sejumlah asumsi tentang politik internasional.

 

Referensi:

Burchill, S., Andrew, L., Donnely, J., Devetak. R., True, J., Paterson, M., Reus-Smit, C. 1996.  Theories of International Relations. New York: Palgrave Macmillan.

Sorensen, G & Jackson, R. 1999. Introduction to International Relations. Oxford: Oxford University Press.

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.713