NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

REALISME

15 March 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

REALISME

Oleh: Nurlaili Azizah (071112001)

Realisme merupakan salah satu perspektif utama dalam studi Hubungan Internasional. Realisme (realisme politik) dimaknai sebagai perspektif mengenai politik internasional yang menitikberatkan pada sisi konflik dan kompetisi. Perspektif ini berkebalikan dengan liberalisme yang lebih menekankan pada sisi kerjasama. Menurut Jackson dan Sorensen, ide dan asumsi dasar kaum realis adalah: (1) pandangan pesimis atas sifat manusia; (2) keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui perang; (3) menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan  nasional dan kelangsungan hidup negara; (4) skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang terjadi dalam kehidupan politik domestik.

Sebelum revolusi kaum behavioralis tahun 1950an dan 1960an, realisme klasik adalah salah satu pendekatan tradisional HI yang terkenal. Pada dasarnya, realisme klasik merupakan pendekatan normatif dan memfokuskan pada nilai-nilai dasar politik dari keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara (Jackson & Sorensen, 2005:90). Mereka hidup dalam banyak periode sejarah yang berbeda, dari Yunani kuno hingga saat ini. Realisme klasik juga berfokus pada national interest. Selain itu, mereka tidak terlalu mempersoalkan menang atau kalah dalam sebuah perang, karena menang atau kalah bersifat temporer. Kalah atau menang bukan tujuan utama diadakannya perang, yang paling penting adalah bagaimana usaha untuk memaksimalkan power yang dipunyai. Segala aktivitas politik diambil berdasarkan prinsip kehati-hatian dan memperhitungkan berbagai macam pilihan beserta konsekuensi yang akan diterima. Negara yang lemah juga akan berusaha bergabung atau beraliansi dengan negara kuat agar mencapai titik ekuilibrium. Tokoh-tokoh realisme klasik yang terkenal adalah Reinhold Niebuhr dan Morgenthau.

Sedangkan realisme kontemporer adalah pendekatan ilmiah yang memfokuskan pada struktur atau sistem internasional, ia merupakan doktrin baru HI yang awalnya berasal dan meluas di Amerika. Dalam realisme kontemporer, upaya untuk menyediakan analisis empiris politik dunia sangat kental. Namun, mereka menahan diri untuk memberikan analisis normatif politik dunia, sebab hal itu akan disoroti dengan subjektif dan menjadikannya tidak ilmiah. Sikap tersebut menggambarkan perbedaan mendasar antara realisme klasik dan neoklasik pada satu sisi dan realisme strategis kontemporer dan neorealis di sisi lain.

Realisme meyakini bahwa politik dunia berjalan dengan sistem anarki internasional negara-negara berdaulat, di mana tidak ada kekuasaan tertinggi di atas negara. Segala macam aktivitas politik menitikberatkan pada tujuan kekuasaan, alat-alat kekuasaan, dan penggunaan kekuasaan. Dengan demikian, politik internasional digambarkan sebagai “politik kekuatan”. Foreign policy diambil berdasarkan pada kalkulasi yang matang dari suatu kekuatan dan kepentingan terhadap kekuatan dan kepentingan para pesaingnya. Bagi kaum realis, aktor utama dalam hubungan internasional adalah negara. Peran aktor-aktor nonnegara, misalnya individu, MNC, NGO, dikesampingkan dan tidak dianggap memiliki peran yang signifikan. Dalam sebuah tulisan, realisme mengatakan  bahwa perspektifnya merupakan perspektif tertinggi.

Perspektif ini concern terhadap keamanan negara itu sendiri. National interest dan struggle for national power merupakan dasar dari segala macam tindakan yang berhubungan dengan negara. Negara akan selalu berusaha meningkatkan power yang dimilikinya dengan berbagai macam metode. Dalam mengejar national interest, kaum realis mengabaikan dan tidak memperhitungkan nilai moral dan etika. Sebuah negara  bisa saja menjadi serigala berbulu domba demi mengejar national interest.

Selain menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan negara, realisme juga menaruh perhatian lebih akan kelangsungan hidup negara, stabilitas, dan ketertiban internasional. Pentingnya balance of power juga sangat ditekankan oleh realisme.  Perspektif ini meyakini bahwa tidak ada kewajiban internasional dalam hal moral antar negara-negara merdeka. Realisme klasik dan neoklasik mengatakan bahwa terdapat satu moralitas bagi area personal dan yang lainnya dan moralitas yang sangat berbeda bagi wilayah publik. Etika politik mengijinkan beberapa tindakan yang tidak akan diijinkan oleh moralitas personal.

Negara harus bertanggung jawab atas kelangsungan hidup dan stabilitas nasionalnya, karena tidak akan ada negara lain yang bersedia membantu jika negara itu mengalami kesulitan. Jika pun negara lain bersedia, maka pasti ada maksud terselubung di balik bantuan yang diberikan itu. Dalam mempertahankan keamanannya, suatu negara akan berusaha membuat negara lain takut dan takluk kepadanya. Negara-negara juga akan selalu mengalami kondisi security dilemma, yakni mempertanyakan apakah posisinya sekarang sudah aman atau belum.

 

Reference:

Jackson, R., &. Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.712