NURLAILI AZIZAH

Certamen Ergo Sum

Introduction of IR Theories

07 March 2012 - dalam Teori Hubungan Internasional Oleh nurlaili-azizah-fisip11

Studi Hubungan Internasional bisa dikatakan kaya akan teori. Teori-teori yang berkembang dalam studi ini berasal dari berbagai disiplin ilmu (interdisipliner). Teori-teori tersebut lahir dari suatu kondisi dan kurun waktu tertentu. Definisi maupun makna mengenai teori ini diinterpretasikan berbeda-beda oleh para pakar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 1041), teori memiliki tiga definisi, yakni: (1) pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian); (2) asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan; dan (3) pendapat, cara, dan aturan untuk melakukan sesuatu. Aron (1968) juga mengemukakan dua makna teori, yakni: (1) pengetahuan yang kontemplatif, sama dengan flsafat; dan (2) pengetahuan yang ilmiah, sebuah sistem deduktif yang mengandung hipotesis dengan konsep yang didefinisikan secara tepat, dan korelasi antara konsep yang terukur secara statistik.

Sedangkan menurut Collins & Brash (1982: 1214), teori dapat merupakan: (1) sebuah rencana yang diformulasikan hanya dalam pikiran; (2) sekelompok aturan, prosedur, dan asumsi yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu; dan (3) pengetahuan abstrak. Mas’oed (1990, 218) juga mengemukakan pandangannya mengenai teori. Menurutnya, teori ialah suatu pandangan atau persepsi mengenai apa yang terjadi, sehingga pekerjaan berteori dapat diandaikan paralel dengan "pekerjaan penonton" yaitu "pekerjaan mendeskripsikan apa yang terjadi, menjelaskan mengapa itu terjadi dan mungkin juga meramalkan kemungkinan berulangnya kejadian itu di masa depan”.

Selain beberapa tokoh di atas, makna teori juga digagas oleh Knutsen (1997: 1). Berdasarkan pandangannya, teori adalah sekumpulan proposisi yang saling berhubungan yang membantu menjelaskan mengapa kejadian-kejadian muncul seperti yang terlihat. Teori juga merupakan abstraksi atau representasi spekulatif tentang realitas. Karenanya yang menjadi persoalan di dalam teori, bukanlah soal salah atau benar, tetapi apakah teori itu membawa pencerahan (enlightening) atau tidak, sehingga berteori pada dasarnya adalah membuat spekulasi dengan maksud memahami atau menjelaskan.

Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa teori adalah: (1) identik dengan alat atau kerangka berpikir yang dipakai untuk memahami suatu fenomena sehingga fenomena tersebut dapat dimengerti dan dipahami sebagai sesuatu yang bermakna dan masuk akal; (2) kerangka berpikir yang dibangun dengan menghubungkan sejumlah konsep melalui proposisi-proposisi yang logis sehingga dapat memberikan makna terhadap sejumlah fakta yang keberadaannya tidak beraturan; dan (3) proposisi-proposisi yang menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih.

Selanjutnya, John Vasquez (1995: 230) menyampaikan pandangannya tentang syarat akan kriteria teori yang baik, seperti yang dikutip di bawah ini:

“Good” theories should be: (1) accurate; (2) falsifiable; (3) capable of evincing greatexplanatory power; (4) progressive as opposed to degenerating in terms of their research programme(s); (5) consistent with what is known in other areas; and (6) appropriately parsimonious and elegant. (Vasquez 1995: 23).

Secara umum, teori memiliki tujuan dan maksud, antara lain: (1) menjawab pertanyaan penting dan krusial berkaitan dengan kelas tertentu dalam sebuah fenomena yang terjadi (generalisasi terhadap penyebab dan efeknya) dan (2) mereduksi kompleksitas fenomena dunia nyata.       

Secara khusus, terdapat lima alasan mengapa teori sangat dibutuhkan, yaitu: (1) sebagai pedoman penelitian; (2) sarana yang baik dalam memahami pandangan dunia internasional; (3) teori memudahkan dalam memahami dunia modern; (4) teori memainkan peran krusial saat kita ingin mengevaluasi praktek politik; dan (5) sebagai prasyarat untuk mengenal disiplin ilmu, sebab studi HI merupakan disiplin ilmu yang didefinisikan oleh teori.

Dalam studi HI, teori berfungsi untuk memudahkan para pakar, ilmuwan, dan scholar HI untuk menganalisis problematika internasional yang terjadi dan membantu memahami HI lebih jauh. Namun, tidak selamanya teori yang ada applicable terhadap kondisi dan problematika yang mencuat. Kadangkala teori yang ada tidak mampu menjawab persoalan yang hadir.

Seringkali terdapat kerancuan antara teori dan paradigma, padahal keduanya merupakan sesuatu yang berbeda. Dibandingkan dengan teori, paradigma memiliki jangkauan yang lebih luas dan merupakan abstraksi tertinggi. Contoh paradigma dalam konteks studi HI adalah paradigma realisme. Di dalam paradigma realisme ini terdapat berbagai macam teori, misalnya Teori Realisme Strategis dan Teori Neorealis Waltz.

 

Referensi:

Jackson, R., &. Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press.

 

 



Read More | Respon : 2 komentar

2 Komentar

Vijai Indoputra

pada : 08 March 2012


"well. Good review. artikel ini cocok digunakan dalam pengembangan pengetahuan mengenai teori. memang benar teori memang seperti yang anda kemukakan. Saya juga sependapat dengan anda. Teori tepatnya merupakan Proposisi-proposisi yang menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih...

"


NURLAILI AZIZAH

pada : 09 March 2012


"Terima kasih. Semoga ini bermanfaat.
Kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati demi perbaikan jurnal2 selanjutnya.."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

the world today

reach me through

Quote!

The Holy Quran

Pengunjung

    284.633